alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Minggu, 03 Mei 2015

KEKEJAMAN PERANG JEPANG DI PERANG DUNIA KEDUA

Kejahatan Perang Jepang di Perang Dunia kedua


  • Please log in to reply
14 replies to this topic

#1 superquarterback

    Grand Tutor (Taifu 太傅)
  • CHF Rookie Member
  • 317 posts
Posted 03 September 2005 - 06:26 AM
Kisah Seorang Romusha Jawa 

Setengah abad ia terdampar di perbatasan Thailand dan Burma, 
sebagai bekas Romusha. Pemuda Jawa itu tak dendam pada Jepang. 
Masih perlukah permintaan maaf? 

Tahun 1943 pemuda Karja Wiredja meninggalkan desanya di 
Matukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menjadi romusha di 
Thailand. Di benaknya mungkin tidak terpikir bahwa dia baru akan 
kembali ke desanya 52 tahun kemudian. "Waktu itu lurah bilang 
kita boleh ikut Nippon," kata Karja akhir bulan Juli yang lalu. 
Maka berangkatlah pemuda lugu tersebut untuk jadi mandor 
pembangunan rel kereta api sepanjang 415 kilometer antara Thai- 
land dan Burma. Bayarannya, dua sen sehari. Selama sebulan kerja 
Karja mendapat gaji enam rupiah. 
Ketika Perang Dunia II berakhir dengan pemboman terhadap 
Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, proyek yang memakan banyak korban 
itu ditutup. Sekitar 300,000 tenaga kerja paksa yang masih hidup 
dipulangkan ke Indonesia, Malaysia, Burma maupun negara-negara 
barat seperti Australia, Inggris dan Belanda. 
Sambil menunggu kapal yang akan membawanya kembali ke 
Indonesia, Karja memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan. Keluar 
dari barak para pekerja, "Banyak perempuan baik-baik, muda-muda 
dan cakap-cakap," kata Karja (75) sambil tergelak dengan giginya 
yang ompong. 
Pemuda Karja yang mantan romusha, tampaknya pecinta yang 
ulung. Buktinya, dia mampu kawin-cerai selama di Thailand selama 
lima kali. Dan ini pula alasannya untuk kemudian terlambat kemba- 
li ke Bangkok untuk pulang ke Indonesia. 
"Dia ketinggalan kapal Red Cross International yang 
berangkat ke Indonesia," kata Nagase Takashi dari River Kwai 
Peace Temple and Foundation (Tokyo) yang membantu Karja pulang ke 
Indonesia. 
Menurut laporan koran West Australian (Perth) yang meli- 
put kedatangan Karja, kehidupan panjang sebagai kuli perkebunan 
dan tinggal di hutan, harus dijalani Karja bersama dengan dua 
orang India, dua orang Malaysia, satu orang Singapura serta satu 
orang Gurkha, yang sama-sama "pensiunan" romusha. 
Sebagian besar dari yang ketinggalan kapal itu terisolasi 
dari perkembangan dunia. Semua sudah meninggal, kecuali Karja, 
yang kemudian atas upaya Takashi, bisa kembali ke kampungnya di 
kaki Gunung Sindoro. Suatu reuni keluarga yang mengharukan. 
Menurut Takashi (77), bekas opsir Jepang yang pernah 
bertugas sebagai mata-mata di Jakarta dan penterjemah di Thai- 
land, proyek rel kereta itu melibatkan 45,000 romusha Indonesia, 
85,000 dari Malaysa (orang Cina, India maupun Melayu), 180,000 
dari Burma serta 12,000 serdadu Jepang yang bertugas mengawasi 
dan mengatur pekerjaan. 
Selain romusha, proyek tersebut juga memperkerjakan 
68,000 tawanan perang dari berbagai kebangsaan, terutama Inggris, 
Belanda dan Australia. Dan dari semuanya, 100,000 di antaranya 
meninggal dunia akibat malaria maupun kebrutalan serdadu Jepang. 
Di antara 400,000 pekerja yang membangun jalan kereta api 
itu juga terdapat Tom Uren, kini politisi terkemuka di Sydney, 
Australia, yang mengatakan bahwa, pada masa awal menjadi tawanan 
perang Jepang, "Saya ingin memusnahkan semua orang Jepang dari 
muka bumi ini. Mereka sangat kejam dan suka menyiksa." 
"Saya tidak pernah mencoba mendefinisikan kebrutalan 
mereka karena kesadisan mereka sungguh luar biasa," kata Uren 
kepada kantor berita Kyodo. 
Kisah yang sama juga terjadi pada Harry Rynenberg, yang 
menjadi tawanan perang Jepang di Indonesia, dan kini menjadi 
ketua Australian Civilian Japanese War Repratriation Action 
Group. 
Rynenberg mewakili sekitar 900 orang anggotanya, laki- 
laki maupun perempuan, yang pernah menjadi tenaga kerja paksa 
maupun ianfu (wanita penghibur) serdadu Jepang. Bulan Agustus 
ini, bertepatan dengan 50 tahun berakhirnya Perang Dunia II, 
mereka menuntut ganti rugi serta permintaan maaf dari pemerintah 
Jepang masing-masing US$16,000 (Rp 35 juta). 
Selain itu, Rynenberg menekankan perlunya tuntutan terse- 
but karena pemerintah Jepang tidak pernah memberikan informasi 
yang memadai kepada rakyat Jepang tentang apa yang pernah mereka 
lakukan pada tahun 1940-an. 
Ketika dia sedang berada di Jepang, Rynenberg pernah 
bertanya pada sekelompok anak muda tentang isu romusha maupun 
ianfu, "Mereka ternyata tidak tahu apa-apa." 
Sikap pemerintah dan Kaisar Jepang, baik Hirohito maupun 
Akihito, yang berusaha menutup-nutupi pelanggaran hak-hak dasar 
kaum sipil dalam Perang Dunia II inilah yang masih mengganjal dan 
menguatirkan banyak negara di kawasan ini akan kemungkinan teru- 
langinya ekspansionisme Jepang. 
"Kami tidak pernah tahu tentang betapa kejamnya pasukan 
kami pada jaman Perang Dunia II. Saya baru tahu itu semua ketika 
saya ikut suami saya ke Jakarta," kata seorang ibu rumah tangga 
Jepang yang bersuamikan orang Indonesia. 
Menurutnya, pelajaran sejarah di Jepang tidak pernah 
menyinggung akibat-akibat dari Perang Dunia II, tentang ratusan 
ribu romusha di Thailand-Burma, tentang ribuan perempuan Cina, 
Korea, Indonesia, Inggris, Australia maupun Belanda yang dijadi- 
kan wanita penghibur yang sehari-harinya harus melayani --tepatn- 
ya diperkosa-- oleh lebih dari sepuluh serdadu Jepang. 
Selain itu, pemerintah Jepang menutup mata terhadap 
orang-orang semacam Karja Wiredja yang selama berpuluh-puluh 
tahun tertinggal di hutan-hutan karena terlalu miskin, dan terka- 
dang takut, untuk kembali ke daerah asal mereka. 
Ketika mendarat di lapangan udara Adisucipto, Yogyakarta, 
Karja yang mengenakan sepatu karet alam, jaket lusuh, kaos warna 
hijau tua serta celana tua yang riutsletingnya sudah rusak, 
ternyata sudah tidak bisa mengenali Yogyakarta. 
"Bangunan-bangunan tak sebanyak ini," katanya dalam logat 
Melayu pasar tahun 1940-an. Menurut Karja, dia sebenarnya rindu 
untuk pulang kampung melihat saudara-saudara dan menengok kuburan 
kedua orang tuanya. Tetapi Karja tidak punya uang, buat makan 
saja sulit. 
Pemerintah Jepang juga tidak pernah menggubris tekanan- 
tekanan dari berbagai organisasi non-pemerintah untuk memperhati- 
kan dan minta maaf pada orang semacam Karja, tetapi mereka bersi- 
keras bahwa pampasan perang sudah dibayar (Presiden Sukarno 
membangun Hotel Indonesia, Gedung Sarinah dan beberapa proyek 
lain dengan uang tersebut). 
Mengapa rakyat Jepang tidak menuntut pemerintahnya? 
"Karena mereka tidak tahu," ujar Takashi yang menyesal karena 
pernah terlibat dalam penindasan rakyat Asia Tenggara, Tiongkok 
dan Korea. 
"Tetapi waktu itu kami berpikir bahwa kami memang berke- 
hendak membebaskan Asia dari kolonialisme Barat. Saya baru sadar 
ketika bertugas di Thailand dan melihat kekejaman serdadu Jepang 
di proyek kereta api," katanya sedih. 
Ketika ditanya mengapa pemerintah Jepang tidak minta 
maaf, dengan cepat dan emosional Takashi menjawab, "Tanyakan pada 
kaisar. Orang itu yang menentukan. Kaisar tidak pernah mau minta 
maaf." 
Tetapi buat Tom Uren (74), persoalannya tidak sesederhana 
itu. Menurut Uren, tahun terakhir dari 3.5 tahun masa tahanannya, 
Uren ditempatkan untuk bekerja paksa di daerah Saganoseki, 
Kyushu, Jepang. 
Disana Uren bekerja bersama orang Korea maupun orang 
Jepang, "Saat itu kami mendapat pengertian yang lebih mendalam. 
Kami sama-sama ingin perang berakhir dan para pekerja Jepang juga 
sangat simpati terhadap mereka yang sakit dan lemah." 
Uren mengatakan bahwa saat ini dia sudah tidak membenci 
orang Jepang lagi, tetapi tidak dengan militerisme dan fasisme, 
"Saya tidak ingin berdebat lagi soal perlunya permintaan maaf 
atau tidak --itu hal yang permukaan," katanya, "Yang perlu, 
pemerintah Jepang harus mengakui perbuatan-perbuatan kriminal 
yang dilakukan oleh pihak militer mereka antara tahun 1930-an dan 
1940-an." 
"Dan sistem pendidikan mereka juga harus menginformasikan 
kepada generasi muda perbuatan barbar dan tidak berperikemanu- 
siaan yang pernah dilakukan generasi terdahulu. Masalah ini tidak 
seharusnya didiamkan dan disembunyikan di bawah karpet," kata 
Uren. 
Karja sendiri, dengan lugu, mengatakan bahwa semuanya 
sudah berakhir tanpa kebencian pada Jepang. "Nippon itu baik- 
baik, saya dikasih uang seperti sekarang ini," katanya menunjuk 
pada Takashi. (Suara INDEPENDEN)

http://www.chinahistoryforum.com/topic/6962-kejahatan-perang-jepang-di-perang-dunia-kedua/

Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.