Misteri Holocaust ( Pembantaian Jerman Terhadap Yahudi )
Fullseoblog-Misteri Holocaust Pembantaian Jerman Terhadap Yahudi | Perang
Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar.
Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang
tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas
ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang
terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para
sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial
adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi
pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka
mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu
Hitler.
![]() |
| Misteri Holocaust |
Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini
diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi
holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional
dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan
karya buku tentang holocaust diterbitkan. Saat ini, kamp-kamp penahanan
dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi
museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara
guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa
tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.
Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun.
Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan
cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis
berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan
keotetikan tragedi Holocaust.
Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis. Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro.
Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para
korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust
AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami
penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi.
Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di
pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan
5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD
II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh
negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban
tinggi.
Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.
Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima
adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian
massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman
membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gas beracun Zyclon-B,
dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang
sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara
jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan
biaya sangat besar.
Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka. Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.
Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis.
Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar
dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang
sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan
jenazah.
Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang
Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.
Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.
Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.
Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.
Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust
telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk
orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu
akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah
yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison
juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.
Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.
Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Perancis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990.
Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan. Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja.
Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para
penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena
itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya
larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika
tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak
semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut
atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan
lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison
menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi
penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang
kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”
Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk memperta-nyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis.
Namun, ketika beliau mempertanya-kan Holocaust dan menolak keberadaan
ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau
Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis. Profesor Forison
diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978,
dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya
dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan
Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para
penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan
artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang
penerbitannya di luar negeri.”
Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang
Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang
berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi
penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap
kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman
karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan
dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.
Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.”
Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya
sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan. Korban lain dari
mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan
besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang
dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke
Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989
tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan
cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang
mitos pembunuhan massal
kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua.
kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua.
Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia,
Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman
G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust
Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.
Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar
kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah
rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar
isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum
Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk
menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri
Palestina.
Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.
Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropaganda-kan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.
http://fullseoblog.blogspot.com/2013/12/Misteri-Holocaust-Pembantaian-Jerman-Terhadap-Yahudi.html
Penulis : drs.Simon Arnold Julian Jacob

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.