Trauma Bom Atom Jepang
OPINI
| 17 March 2011 | 04:09
Dibaca:
2308
Hiroshima setelah bom nuklir ( foto NN )
Perestroika yang diperkenalkan oleh pemimpin Uni Soviet Mikhail
Gorbachev menjadikan negara ini runtuh namun menjelma menjadi beberapa
negara yang lebih demokratis. Seperti yang dikenal di Indonesia,
reformasi dapat dikatakan sebagai awal pemerintahan demokratis setelah
Indonesia dibawah kekuasaan Jendral Suharto selama 32 tahun. Jepangpun
mengalami hal yang sama pada pertengahan abad 18 dengan apa yang dikenal
sebagai restorasi meiji yaitu sebuah gerakan mengembalikan kekuasaan
dari tangan militer ( Shogun /jendral) kepada kaisar yang menyebabkan
perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang . Kekaisaran Jepang
tumbuh menjadi negara dengan kekuatan militer yang kuat, berhasil
menguasai daratan Tiongkok dan semenanjung Korea dan Asia Timur
termasuk Indonesia. Melibatkan diri dalam Perang Dunia Kedua yang
ditandai dengan penyerbuan pangkalan angkatan laut Amerika Serikat Pearl
Harbour.
Kekejaman bala tentara Kekaisaran Jepang yang dirasakan oleh bangsa
Indonesia berakhir setelah Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat
kepada tentara sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Setelah enam
bulan pengeboman 67 kota di Jepang lainnya, senjata nuklir “Little Boy”
dijatuhkan di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti dengan
pada tanggal 9 Agustus 1945, dijatuhkan bom nuklir “Fat Man” di atas
Nagasaki atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S Truman. Bom atom
ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki
pada akhir tahun 1945. Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau
sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom nuklir
itu.
Setelah kekalahan dalam PD II itu, dengan kekuatan militer yang bersifat
defensive, bangsa Jepang berhasil membangun negaranya menjadi negara
raksasa ekonomi dan industri. Kemajuan ekonomi dan Industri negara ini
membutuhkan sumber energi yang sangat besar yang salah satunya
memanfaatkan energi nuklir. Dampak gempa yang mencapai 9.0 SR selain
mengakibatkan korban tewas dan kerusakan akibat gelombang tsunami, juga
rusaknya instalasi pembengkit listrik tenaga nuklir Fukushima.
Meledaknya reaktor nuklir tersebut, pemerintah Jepang harus melakukan
evakuasi lebih dari 140.000 jiwa penduduknya dalam jarak aman.
Nuklir sangat berbahaya bagi manusia apalagi bila terpapar langsung
radiasinya. Seperti yang pernah terjadi di di Chernobyl, Ukraina (26
April 1986). Beberapa efek kesehatan yang dialami oleh korban radiasi
nuklir tersebut, antara lain terkena kanker. Dan untuk yang langsung
terpapar radiasi mengalami sindrom akut radiasi (ARS), mereka meninggal
dalam waktu beberapa minggu setelah ledakan. Selain terkena ARS,
korban juga ada yang meninggal karena kanker thyroid setelah menghirup
udara yang terpapar radioaktif. Selain itu, korban radiasi nuklir
juga ada yang mengidap penyakit leukimia, gangguan metabolisme, dan
katarak. Sejumlah orang juga mengaku mengalami masalah kesuburan dan
masalah kehamilan, tetapi belum dapat dipastikan apakah masalah itu
merupakan efek radiasi.
Ibu Kota Jepang, Tokyo, biasanya diwarnai dengan pekerja yang memiliki
aktifitas tinggi. Namun pemandangan itu tiba-tiba saja berubah. Kini,
Tokyo tak ubahnya seperti kota hantu. Sekolah tampak tutup, sementara
para pekerja diperbolehkan untuk tinggal di rumah. Di saat pemerintah
berusaha keras untuk mengatasi keadaan pascabencana, sebagian wilayah
Tokyo seperti kota mati. Apalagi pada wilayah yang jaraknya mencapai
240 kilometer dengan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima.
Banyak dari warga yang menumpuk persedian makanan dan tinggal di dalam
rumah untuk melindungi diri mereka. Predikat kota dengan populasi
paling padat di dunia ini, seperti tidak memiliki kehidupan sama
sekali.
Akibat Tsunami ( Foto AP )
Bangsa Jepang telah mengalami masa paling mengerikan akibat
dijatuhkannya bom atom dimasa PD II, kini jepang dihadapkan lagi pada
ancaman yang sama akibat gempa dan tsunami. Dalam keadaan seperti itu,
Jepang kini dihujani travel warning, himbauan dari negara bangsa lain
agar tidak berkunjung ke Jepang. Situasi negara yang porak poranda yang
mungkin tak berbeda jauh dari situasi yang diakibatkan oleh ledakan bom
nuklir, walaupun korban manusia tidak sebanyak korban bom nuklir PD II,
ancaman radiasi nuklir bukanlah hal yang dianggap ringan.
Ketakutan akan cemaran awan radioaktif terus meningkat. Sejumlah negara
disebutkan sudah mengungsikan pekerjanya dari kawasan Tokyo ke kawasan
selatan yang dipandang aman. Tidak terpengaruh krisis atom di PLTN
Fukushima, ribuan serdadu dan petugas pertolongan terus melanjutkan
tugasnya mengevakuasi dan membersihkan kawasan bencana yang hancur
akibat gempa bumi dan tsunami. Televisi Jepang NHK melaporkan, jumlah
korban tewas diperkirakan melebihi 11.000 orang. Sekitar 440.000 korban
yang selamat, yang kini berada di 2400 tempat penampungan darurat,
melaporkan situasi pemasokan bantuan amat buruk. Akibat krisis energi,
lebih dari 850.000 rumah di kawasan timur laut Jepang masih terputus
aliran listriknya.
Sebuah pelajaran yang sangat berharga dari apa yang dialami bangsa
Jepang saat ini, adalah sebuah pilihan untuk menjauhi bencana merupakan
naluri yang dimiliki oleh setiap manusia. Artinya, pertolongan
mengatasi bencana akan terpulang pada bangsa jepang itu sendiri.
Indonesia yang sering mengalami bencana alam, bersamaan waktunya juga
terjadi banjir bandang di Aceh Pidie walaupun beritanya tertutup oleh
berita tsunami jepang. Pemerintah memang telah berbuat nyata untuk
membawa pulang WNI dari jepang, juga membawa pulang TKI yang terlantar
di Arab Saudi.
Namun kita harus pula mengacungkan jempol kepada
masyarakat aceh yang terkena bencana yang harus berjalan kaki puluhan
kilometer untuk memanggul bahan makanan untuk membantu masyarakat yang
terkena bencana. Airlines dari berbagai maskapai berburu dengan waktu
mengangkut warga asing yang ingin segera meninggalkan Jepang. Sebagian
warga asing itu mencemaskan dampak krisis nuklir yang makin tak
terkendali, melebihi kekhawatiran akan gempa susulan atau dampak
tsunami. Termasuk pemerintah Indonesia yang telah melakukan evakuasi
WNI, namun alangkah bijaknya jika pemerintah tidak bertindak pada
pilihan yang memberita demi kepentingan politik.
http://politik.kompasiana.com/2011/03/16/trauma-bom-atom-jepang-348017.html
Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.