Konferensi Yalta, 70 Tahun Awal Peperangan Perluasan Pengaruh di Daratan Eropa
21 April 2015
Tahun ini, Rusia tidak hanya memperingati 70 tahun kemenangan rakyat
Rusia atas tentara Nazi Jerman dalam Perang Patriotik Raya, tetapi juga
peringatan 70 tahun dua konferensi penghasil keputusan yang dijadikan
dasar pembangunan dunia pascaperang, yaitu pertemuan kepala
negara-negara pemenang di kota Yalta dan Potsdam.
Konferensi Yalta, yang diselenggarakan beberapa bulan sebelum
berakhirnya Perang Dunia II, menandakan puncak hubungan kerja sama para
pemimpin koalisi anti-Hitler. Akan tetapi, dalam waktu singkat "semangat
Yalta" tersebut digantikan dengan realita munculnya perang dingin yang
berlangsung selama beberapa dekade dan juga perpecahan Eropa.
Merujuk kepada peristiwa-peristiwa seputar Konferensi Yalta, para
sejarawan bertanya-tanya, sebenarnya adakah persatuan yang terbentuk di
antara para pemimpin dunia di Yalta? Pertanyaan ini tak lepas dari fakta
munculnya perang dingin setelah Perang Dunia II, sehingga persatuan itu
tidak lebih dari sekedar "ilusi". Jika asumsi tersebut tidak benar,
lantas mengapa persatuan itu begitu rapuh, dan siapa yang bersalah atas
kerapuhan itu?
Keinginan untuk Berunding
Para sejarawan berpendapat bahwa sebenarnya sulit untuk menyebut
upaya kompromi yang didemonstrasikan para pemimpin negara pemenang
tersebut sebagai sebuah "ilusi". Para peserta Konferensi Yalta—pemimpin
Uni Soviet, AS, dan Inggris—jelas tidak menganggapnya demikian, terang
Direktur Ilmiah Organisasi Perhimpunan Sejarah Perang Rusia Mikhail
Myakhkov kepada RBTH.
"Mereka (Stalin, Roosevelt, dan Churchill) jelas ingin berunding
tentang peraturan-peraturan bagaimana kehidupan dunia setelah perang,"
ujar Myakhkov berpendapat. "Misi utama dari pertemuan tersebut adalah
untuk menutup peluang dominasi Jerman di Eropa pada masa mendatang,
mencegah kemunculan paham Nazisme, menghentikan perang sehingga tercipta
masa perdamaian yang berlangsung sangat lama. Secara garis besar,
Konferensi Yalta telah merealisasikan misi-misi tersebut," kata Myakhkov
sambil mengingatkan mengenai piagam PBB yang disepakati oleh "Tiga
Besar" (Uni Soviet, AS, dan Inggris).
Perbedaan Pendapat di Yalta
Di lain kesempatan, menurut pandangan seorang sejarawan asal Jerman
Jost Dülffer, meskipun suatu kompromi berhasil tercapai di Yalta, di
sana jelas terdapat perbedaan pendapat antara para pemimpin terkait isu
kabinet pemerintahan Polandia dan besaran ganti rugi yang harus
ditanggung Jerman untuk Uni Soviet dan negara lainnya.
"Faktor pemersatu blok sekutu praktis usai menjelang 1946-1947,"
terang sang sejarawan Jerman tersebut dalam wawancaranya dengan stasiun
radio DW. Dülffer berpendapat, pernah ada kesempatan yang terjadi di
Yalta, tetapi pertentangan ideologi saat itu—komunisme dan
kapitalisme—menyebabkan semua pihak mulai menggunakan cara masing-masing
untuk membangun pengaruhnya.
Terkait hal itu, Dülffer juga menyebutkan akar penyebab keretakan
hubungan antara Moskow dan negara-negara Barat lainnya. "Uni Soviet
membebaskan Eropa Timur dari Nazi Jerman. Setelah itu Soviet berhasil
menegakkan kepentingannya di negara-negara tersebut", kata Dülffer
berpendapat.
Namun demikian, ada pula peneliti lainnya yang menekankan Stalin
sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran prinsip-prinsip
yang disepakati di Yalta dan dimulainya perang dingin. Seperti yang
diungkapkan oleh sejarawan perang Boris Sokolov, setelah membagi lingkup
kepentingan pada perundingan di Yalta (terkait luasan pengaruh di
Eropa), dunia Barat tidak menyangka bahwa dominasi Uni Soviet dalam
lingkup kepentingannya begitu absolut. Barat mengira bahwa nantinya
negara-negara di wilayah pengaruhnya, bisa seperti Finlandia, sebuah
negara yang berada di lingkungan Soviet, tetapi tetap independen dan
tidak terkena pengaruh Soviet.
Ketertarikan dalam Modal Amerika
Di lain pihak, ada banyak pula para sejarawan yang tidak setuju bahwa
"Sovietisasi" Eropa Timur menjadi penyebab terjadinya perang dingin.
Mereka menegaskan bahwa Stalin berupaya memegang "semangat Yalta" dan
segera setelah berakhirnya perang, dia tidak serat-merta mendorong
negara-negara di Eropa Timur untuk berubah menjadi satelit-satelit Uni
Soviet.
Mikhail Myakhkov berpendapat, Stalin memperhitungkan bahwa tidak akan
ada "cordon sanitaire" (pembatas penetrasi ideologi berlawanan) di
sepanjang perbatasan Soviet, melainkan barisan keamanan dari
negara-negara yang tidak harus prokomunis, tetapi bersahabat dengan Uni
Soviet, seperti Polandia, Rumania, Hungaria, atau Cekoslowakia.
"Stalin tidak pernah mengumumkan bahwa negara-negara tersebut akan
di-Sovietisasi (dijadikan bagian dari Uni Soviet) dan pemerintahan
mereka akan dibanjiri dengan pemimpin-pemimpin komunis. Semua (di bawah
kepemimpinan Soviet) paham bahwa bila hal itu terjadi, mereka akan
mendapatkan perlawanan dari Barat, termasuk di bidang ekonomi.
Sementara, saat itu Moskow sedang menjalankan negosiasi pascaperang
dengan AS untuk bantuan pemulihan negaranya dari kerusakan perang,"
terang Myakhkov yang percaya bahwa tanggung jawab atas pecahnya perang
dingin harus dipisahkan antara Barat dan Uni Soviet.
Mungkinkah Kremlin Mengulang "Kesalahan Masa
Lalu"?
Para sejarawan yang mempelajari periode pasca-Perang Dunia II percaya
bahwa antara politik Uni Soviet kala itu dan kebijakan Kremlin saat ini
dapat ditarik suatu garis lurus.
Sebagaimana yang diungkapkan Dülffer, situasi di Eropa saat ini
mengingatkan orang-orang mengenai periode menjelang berakhirnya Perang
Dunia II. Putin—terkait kebijakan dan bagaiama ia bersikap—sedang
meneruskan tradisi Stalinis. Dülffer menekankan bahwa Eropa sekali lagi
terpecah akibat lingkup kepentingan, sesuatu yang tidak diperkirakan
terjadi setelah tahun 1989-1990.
Namun demikian, tidak semua ahli politik menilai konflik yang terjadi
saat ini didorong oleh kebijakan Kremlin semata. "Dalam peta
geopolitik, peperangan perluasan pengaruh yang dimulai di Yalta
sebenarnya tidak pernah benar-benar berakhir," kata Myakhkov.
"Peperangan ini kadang padam, kadang kembali membara. Saat ini kami
melihat gerakan-gerakan terakhir dari peperangan tersebut, ketika dunia
Barat menilai bahwa semua 'Kartu As' berada di tangan mereka, sementara
Rusia setelah era 1990-an tidak akan pernah bangkit seperti era Soviet
dulu," ujar Myakhkov menambahkan.
http://indonesia.rbth.com/politics/2015/04/21/konferensi_yalta_70_tahun_awal_peperangan_perluasan_pengaruh_di_dara_27553.html
Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.