Perang Dingin
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Presiden AS Ronald Reagan (kiri) dan Sekretaris Jenderal Soviet Mikhail Gorbachev, bertemu di Jenewa pada tahun 1985.
Perang Dingin (bahasa Inggris: Cold War, bahasa Rusia: холо́дная война́, kholodnaya voyna, 1947–1991) adalah sebutan bagi suatu periode terjadinya ketegangan politik dan militer antara Dunia Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya, dengan Dunia Komunis, yang dipimpin oleh Uni Soviet beserta sekutu negara-negara satelitnya. Peristiwa ini dimulai setelah keberhasilan Sekutu dalam mengalahkan Jerman Nazi di Perang Dunia II, yang kemudian menyisakan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai dua negara adidaya
di dunia dengan perbedaan ideologi, ekonomi, dan militer yang besar.
Uni Soviet, bersama dengan negara-negara di Eropa Timur yang
didudukinya, membentuk Blok Timur. Proses pemulihan pasca-perang di Eropa Barat difasilitasi oleh program Rencana Marshall Amerika Serikat, dan untuk menandinginya, Uni Soviet kemudian juga membentuk COMECON bersama sekutu Timurnya. Amerika Serikat membentuk aliansi militer NATO pada tahun 1949, sedangkan Uni Soviet juga membentuk Pakta Warsawa
pada tahun 1955. Beberapa negara memilih untuk memihak salah satu dari
dua negara adidaya ini, sedangkan yang lainnya memilih untuk tetap
netral dengan mendirikan Gerakan Non-Blok
Peristiwa ini dinamakan Perang Dingin karena kedua belah pihak tidak
pernah terlibat dalam aksi militer secara langsung, namun masing-masing
pihak memiliki senjata nuklir
yang dapat menyebabkan kehancuran besar. Perang Dingin juga
mengakibatkan ketegangan tinggi yang pada akhirnya memicu konflik
militer regional seperti Blokade Berlin (1948–1949), Perang Korea (1950–1953), Krisis Suez (1956), Krisis Berlin 1961, Krisis Rudal Kuba (1962), Perang Vietnam (1959–1975), Perang Yom Kippur (1973), Perang Afganistan (1979–1989), dan penembakan Korean Air Penerbangan 007
oleh Soviet (1983). Alih-alih terlibat dalam konflik secara langsung,
kedua belah pihak berkompetisi melalui koalisi militer, penyebaran
ideologi dan pengaruh, memberikan bantuan kepada negara klien, spionase, kampanye propaganda secara besar-besaran, perlombaan nuklir, menarik negara-negara netral, bersaing di ajang olahraga internasional, dan kompetisi teknologi seperti Perlombaan Angkasa. AS dan Uni Soviet juga bersaing dalam berbagai perang proksi; di Amerika Latin dan Asia Tenggara, Uni Soviet membantu revolusi komunis
yang ditentang oleh beberapa negara-negara Barat, Amerika Serikat
berusaha untuk mencegahnya melalui pengiriman tentara dan peperangan.
Dalam rangka meminimalkan resiko perang nuklir, kedua belah pihak sepakat melakukan pendekatan détente pada tahun 1970-an untuk meredakan ketegangan politik.
Pada tahun 1980-an, Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan diplomatik, militer, dan ekonomi terhadap Uni Soviet di saat negara komunis itu sedang menderita stagnasi perekonomian. Pada pertengahan 1980-an, Presiden Soviet yang baru, Mikhail Gorbachev, memperkenalkan kebijakan reformasi liberalisasi perestroika ("rekonstruksi, reorganisasi", 1987) dan glasnost ("keterbukaan", ca. 1985). Kebijakan ini menyebabkan Soviet dan negara-negara satelitnya dilanda oleh gelombang revolusi damai yang berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet
pada tahun 1991, dan pada akhirnya menyisakan Amerika Serikat sebagai
satu-satunya kekuatan militer yang dominan di dunia. Perang Dingin dan
berbagai peristiwa yang menyertainya telah menimbulkan dampak besar
terhadap dunia dan sering disebutkan dalam budaya populer, khususnya
dalam media yang menampilkan tema spionase dan ancaman perang nuklir.
Daftar isi
- 1 Asal istilah
- 2 Latar belakang
-
- 5.1 Khrushchev, Eisenhower dan de-Stalinisasi
- 5.2 Pakta Warsawa dan Revolusi Hungaria
- 5.3 Ultimatum Berlin dan integrasi Eropa
- 5.4 Persaingan di Dunia Ketiga
- 5.5 Perpecahan Sino-Soviet dan Perlombaan Angkasa
- 5.6 Revolusi Kuba dan Invasi Teluk Babi
- 5.7 Krisis Berlin 1961
- 5.8 Krisis Rudal Kuba dan penggulingan Khrushchev
- 9 Dampak
- 10 Historiografi
- 11 Lihat juga
- 12 Catatan kaki
- 14 Pranala luar
Asal istilah
Pada akhir Perang Dunia II, penulis dan jurnalis Inggris George Orwell menggunakan istilah perang dingin sebagai istilah umum dalam esainya yang berjudul "You and the Atomic Bomb" (Anda dan Bom Atom), yang diterbitkan oleh surat kabar Inggris, Tribune, pada tanggal 19 Oktober 1945. Esai tersebut menggambarkan dunia yang hidup di bawah ancaman perang nuklir. Orwell menulis:
- "Selama empat puluh atau lima puluh tahun terakhir, Mr. H. G. Wells dan yang lainnya telah memperingatkan kita bahwa manusia akan berada dalam bahaya, menghancurkan dirinya dengan senjatanya sendiri, menyisakan semut atau beberapa kelompok spesies lainnya untuk mengambil alih. Barangsiapa yang telah melihat kehancuran kota-kota di Jerman akan berpikir bahwa gagasan ini setidaknya masuk akal. Namun, jika melihat dunia secara keseluruhan, peristiwa selama beberapa dekade terakhir tidak menuju ke arah anarki, namun ke arah pemberlakuan kembali perbudakan. Kita mungkin tidak menuju ke arah pengrusakan umum, tapi ke zaman perbudakan kuno yang mengerikan. Teori James Burnham telah banyak dibahas, namun sebagian kecil orang belum menganggapnya sebagai implikasi ideologi. Jenis pandangan terhadap dunia, jenis keyakinan, dan struktur sosial mungkin akan menguasai negara yang tak terkalahkan dan menegakkannya dalam "perang dingin" permanen dengan tetangganya."[1]
Dalam The Observer edisi 10 Maret 1946, Orwell menulis bahwa
"setelah konferensi Moskow Desember lalu, Rusia mulai melakukan 'perang
dingin' terhadap Britania dan Imperium Britania."[2]
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketegangan geopolitik
antara Uni Soviet dan negara satelitnya dengan Amerika Serikat dan
sekutu Eropa Barat-nya pasca-Perang Dunia II dicetuskan pertama kali
oleh Bernard Baruch, seorang ahli keuangan Amerika dan penasihat presiden.[3] Dalam sebuah pidato di South Carolina pada tanggal 16 April 1947,[4] Baruch menyatakan bahwa: "Janganlah kita tertipu: hari ini kita ada di tengah-tengah perang dingin."[5] Seorang reporter dan kolumnis surat kabar bernama Walter Lippmann menjabarkan penjelasan panjang lebar mengenai Perang Dingin dalam bukunya yang berjudul The Cold War,
ketika ditanyakan pada tahun 1947 tentang sumber istilah "perang
dingin", ia menyebutkan bahwa istilah tersebut merujuk pada istilah
Perancis dari tahun 1930-an, la guerre froide.[6]
Latar belakang
Pasukan Amerika di Vladivostok, Agustus 1918, selama intervensi Sekutu dalam Perang Saudara Rusia.
Ada perdebatan di antara para sejarawan
mengenai titik awal dari Perang Dingin. Sebagian besar sejarawan
menyatakan bahwa Perang Dingin dimulai segera setelah Perang Dunia II
berakhir, yang lainnya berpendapat bahwa Perang Dingin sudah dimulai
menjelang akhir Perang Dunia I, meskipun ketegangan antara Kekaisaran Rusia, negara-negara Eropa lainnya, dan Amerika Serikat sudah terjadi sejak pertengahan abad ke-19.[7]
Revolusi Bolshevik di Rusia
pada tahun 1917 (diikuti dengan penarikan mundur pasukannya dari Perang
Dunia I), mengakibatkan Soviet Rusia terisolasi dari diplomasi
internasional.[8] Pemimpin Vladimir Lenin
menyatakan bahwa Uni Soviet "dikepung oleh para kapitalis yang
bermusuhan", dan ia memandang diplomasi sebagai senjata untuk menjauhkan
Soviet dari musuh, dimulai dengan pembentukan Komintern Soviet, yang menyerukan pergolakan revolusioner di luar Soviet.[9]
Pemimpin Soviet Joseph Stalin,
yang menganggap Uni Soviet sebagai sebuah "kepulauan sosialis",
menyatakan bahwa Uni Soviet harus memandang "dominasi kapitalis saat ini
harus digantikan oleh dominasi sosialis."[10]
Pada awal 1925, Stalin menyatakan bahwa ia memandang politik
internasional sebagai sebuah dunia bipolar di mana Uni Soviet akan
menarik negara-negara lainnya ke arah sosialisme dan negara-negara
kapitalis juga akan menarik negara-negara lain ke arah kapitalisme, sementara dunia sedang berada dalam periode "stabilisasi sementara kapitalisme" menjelang keruntuhannya.[11]
Berbagai peristiwa menjelang Perang Dunia Kedua menunjukkan adanya
saling ketidakpercayaan dan kecurigaan antara kekuatan Barat dan Uni
Soviet, terlepas dari filosofi umum Partai Bolshevik yang dibentuk untuk menentang kapitalisme.[12] Ada dukungan dari Barat terhadap gerakan Putih anti-Bolshevik dalam Perang Saudara Rusia,[7] pemberian dana oleh Uni Soviet kepada pekerja pemberontak Britania pada tahun 1926 menyebabkan Britania Raya memutuskan hubungan dengan Uni Soviet,[13] deklarasi Stalin tahun 1927 untuk hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara kapitalis diurungkan,[14] tuduhan adanya konspirasi dalam Peradilan Shakhty tahun 1928 yang direncanakan oleh Britania dan Perancis memicu kudeta,[15] penolakan Amerika untuk mengakui Uni Soviet hingga tahun 1933,[16] dan Stalinisme Peradilan Moskow untuk kasus Pembersihan Besar-Besaran, serta tuduhan atas adanya spionase dari Britania, Perancis, dan Jerman Nazi merupakan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi Perang Dingin.[17]
Ketika Tentara Jerman menginvasi Uni Soviet
pada bulan Juni 1941, Sekutu mengambil keuntungan dari front baru ini
dan memutuskan untuk membantu Uni Soviet. Britania menandatangani
persekutuan formal dan Amerika Serikat membentuk kesepakatan informal
dengan Soviet. Pada masa perang, Amerika Serikat memfasilitasi Britania
dan Soviet lewat program Lend-Lease nya.[18]
Bagaimanapun juga, Stalin tetap mencurigai kedua negara tersebut dan
percaya bahwa Britania dan Amerika Serikat bersekongkol untuk memastikan
bahwa Soviet akan menanggung beban terbesar dalam pertempuran
menghadapi Jerman Nazi. Menurut pandangannya ini, Sekutu Barat dengan
sengaja menunda untuk membuka front anti-Jerman kedua dengan tujuan
untuk beraksi di saat-saat terakhir dan kemudian membuat penyelesaian
damai. Dengan demikian, persepsi Soviet terhadap Barat menyebabkan
munculnya arus ketegangan dan permusuhan dengan pihak Sekutu.[19]
Akhir Perang Dunia II (1945–1947)
Konferensi pasca-perang di Eropa
"Tiga Besar" di Konferensi Yalta: Winston Churchill, Franklin D. Roosevelt dan Joseph Stalin, 1945.
Setelah perang, Sekutu tidak menemui kesepakatan mengenai pembagian dan penetapan perbatasan di Eropa.[20] Masing-masing pihak memiliki ide-ide yang berbeda mengenai pembentukan dan pemeliharaan keamanan dunia pasca-perang.[20]
Sekutu Barat menginginkan sistem keamanan dengan membentuk seluas
mungkin pemerintahan demokrasi, yang memungkinkan negara-negara untuk
menyelesaikan konflik secara damai melalui organisasi internasional.[21]
Mengingat sejarah invasi yang sering dilakukan terhadap Rusia,[22] serta besarnya jumlah korban tewas (diperkirakan 27 juta) dan kehancuran Uni Soviet yang berkelanjutan selama Perang Dunia II,[23] Uni Soviet berusaha untuk meningkatkan keamanan dengan mendominasi urusan dalam negeri negara-negara yang berbatasan dengannya.[20][24]
Sekutu Barat sendiri juga memiliki perbedaan mengenai visi mereka
terhadap keadaan dunia pasca-perang. Tujuan Roosevelt - kejayaan militer
di Eropa dan Asia, pencapaian supremasi ekonomi global Amerika yang
mengalahkan Imperium Britania,
dan menciptakan sebuah organisasi perdamaian dunia - lebih bersifat
global dibandingkan dengan Churcill, yang visinya berfokus untuk
mengamankan kontrol atas Laut Tengah, memastikan keberlangsungan Imperium Britania, dan memerdekakan negara-negara Eropa Timur untuk menjadikannya sebagai penyangga antara Soviet dan Britania Raya.[25]
Dalam pandangan Amerika, Stalin dianggap sebagai salah satu sekutu
potensial untuk mencapai tujuan mereka, sedangkan dalam pandangan
Britania, Stalin dianggap sebagai ancaman terbesar dalam pencapaian
agenda mereka. Dengan didudukinya sebagian besar negara-negara Eropa
Timur oleh Soviet, Stalin berada pada pihak yang beruntung dan kedua
pemimpin Barat saling bersaing untuk memperoleh dukungannya. Perbedaan
visi antara Roosevelt dan Churchill menyebabkan kedua belah pihak
melakukan negosiasi secara terpisah dengan Stalin. Pada bulan Oktober
1944, Churcill melakukan perjalanan ke Moskow dan sepakat untuk membagi Balkan berdasarkan pengaruh masing-masing, dan tidak lama kemudian, di Yalta,
Roosevelt juga menandatangani kesepakatan terpisah dengan Stalin
mengenai masalah Asia dan menolak untuk mendukung Churcill dalam isu dan
Reparasi Polandia.[25]
Jerman pasca perang.
Negosiasi lebih lanjut antara Soviet dan Sekutu terkait dengan keseimbangan dunia pasca-perang berlangsung dalam Konferensi Yalta pada bulan Februari 1945, meskipun konferensi ini juga gagal mencapai konsesus mengenai kerangka kerja pasca-perang di Eropa.[26] Pada bulan April 1945, Churcill dan Presiden Amerika Serikat yang baru, Harry S. Truman, sepakat untuk menentang keputusan Soviet yang memberi bantuan kepada pemerintahan Lublin, saingan Pemerintahan Polandia di pengasingan yang dikontrol oleh Soviet.[27]
Setelah kemenangan Sekutu pada bulan Mei 1945, Soviet secara efektif mulai menduduki Eropa Timur,[26] sedangkan pasukan Amerika Serikat dan Sekutu Barat tetap bertahan di Eropa Barat. Di wilayah Jerman yang diduduki Sekutu, Uni Soviet, Amerika Serikat, Britania Raya dan Perancis mendirikan zona pendudukan dan membentuk kerangka kerja untuk membagi wilayah-wilayah tersebut menjadi empat zona pendudukan.[28]
Konferensi Sekutu pada tahun 1945 di San Francisco
menghasilkan keputusan mengenai pendirian organisasi PBB multi-nasional
untuk memelihara perdamaian dunia, namun kapasitas penegakannya oleh Dewan Keamanan secara efektif dilumpuhkan oleh kemampuan anggotanya untuk menggunakan hak veto.[29]
Oleh sebab itu, PBB pada dasarnya diubah menjadi sebuah forum aktif
untuk bertukar retorika polemik, dan Soviet dianggap secara eksklusif
sebagai tribun propaganda.[30]
Konferensi Potsdam dan kekalahan Jepang
Winston Churchill, Harry S. Truman dan Joseph Stalin di Konferensi Potsdam, 1945.
Dalam Konferensi Potsdam,
yang dimulai pada akhir Juli setelah menyerahnya Jerman, perbedaan
serius muncul terkait dengan perkembangan masa depan Jerman dan Eropa
Timur.[31]
Selain itu, jumlah partisipan perang dan perbedaan kebiasaan dijadikan
alasan oleh satu sama lainnya untuk mengkonfirmasi kecurigaan mereka
mengenai niat bermusuhan dan mempertahankan kubu mereka masing-masing.[32] Dalam konferensi ini, Truman memberitahu Stalin bahwa Amerika Serikat memiliki senjata baru yang kuat.[33]
Stalin menyadari bahwa Amerika Serikat sedang mengembangkan bom atom, dan mengingat bahwa sasaran Amerika Serikat mungkin adalah saingan Soviet, yaitu Jepang,
maka Stalin menanggapinya dengan tenang. Stalin berkata kalau ia merasa
senang atas berita tersebut dan menyatakan harapannya bahwa senjata
tersebut akan digunakan untuk melawan Jepang.[33] Satu minggu setelah berakhirnya Konferensi Potsdam, Amerika Serikat membom Hiroshima dan Nagasaki. Tak lama setelah serangan, Stalin protes kepada para petinggi Amerika Serikat karena kecilnya bagian Jepang yang diduduki Sekutu yang ditawarkan oleh Presiden Truman kepada Soviet.[34]
Awal Blok Timur
Perubahan wilayah pasca-perang di Eropa Timur dan pembentukan Blok Timur, yang dijuluki "Tirai Besi".
Pada awal Perang Dunia II, Uni Soviet meletakkan dasar bagi terbentuknya Blok Timur dengan mencaplok langsung beberapa negara seperti Republik Sosialis Soviet, yang awalnya diserahkan kepada Soviet oleh Jerman Nazi dalam Pakta Molotov-Ribbentrop. Wilayah ini termasuk Polandia bagian timur (kemudian dipisahkan menjadi dua negara Soviet yang berbeda),[35][36] Estonia (yang kemudian menjadi RSS Estonia),[37] Latvia (menjadi RSS Latvia),[35][36] Lithuania (menjadi RSS Lithuania),[35][36] bagian timur Finlandia (menjadi RSS Karelo-Finlandia), dan Rumania timur (yang menjadi RSS Moldavia).[38][39]
Wilayah Eropa Timur yang dibebaskan dari Nazi dan diduduki oleh
pasukan Soviet selanjutnya juga ditambahkan ke Blok Timur dengan
mengubahnya menjadi negara satelit,[40] negara-negara ini di antaranya Jerman Timur,[41] Republik Rakyat Polandia, Republik Rakyat Bulgaria, Republik Rakyat Hongaria,[42] Republik Sosialis Cekoslowakia,[43] Republik Rakyat Romania, dan Republik Rakyat Albania.[44]
Rezim Soviet yang muncul di negara-negara Blok Timur tidak hanya mengadopsi sistem ekonomi komando Soviet, tetapi juga mengadopsi metode brutal yang digunakan oleh Joseph Stalin dan polisi rahasia Soviet untuk menekan oposisi yang nyata dan potensial.[45] Di Asia, Tentara Merah telah membanjiri Manchuria pada bulan-bulan terakhir perang, dan melanjutkan untuk menempati sebagian besar wilayah Korea bagian utara.[46]
Sebagai bagian dari konsolidasi kontrol Stalin atas Blok Timur, NKVD, yang dipimpin oleh Lavrentiy Beria, mengawasi pembentukan sistem polisi rahasia yang bergaya Soviet di Blok Timur untuk membasmi perlawanan anti-komunis.[47]
Jika muncul sedikit saja semangat kemerdekaan di negara-negara Blok
Timur, mereka yang terlibat akan disingkirkan dari kekuasaan, diadili,
dipenjarakan, dan dalam beberapa kasus, dieksekusi.[48]
Perdana Menteri Britania Raya Winston Churchill
khawatir bahwa jumlah besar pasukan Soviet yang ditempatkan di Eropa
pada akhir perang, dan persepsi bahwa pemimpin Soviet Joseph Stalin
tidak dapat diandalkan, akan menimbulkan ancaman bagi Eropa Barat.[49] Pada bulan April-Mei 1945, Kabinet Perang Britania Raya mengembangkan sebuah rencana operasi untuk "memaksakan kehendak Amerika Serikat dan Imperium Britania kepada Rusia".[50] Namun rencana ini ditolak oleh Kepala Staf Komite karena ketidaklayakan sumber daya militer.[49]
Persiapan untuk "perang baru"
Pada bulan Februari 1946, laporan "Telegram Panjang" George F. Kennan
dari Moskow membantu untuk mengartikulasikan kebijakan pemerintah AS
yang semakin intensif dalam melawan Soviet, yang menjadi dasar bagi
strategi Amerika Serikat terhadap Uni Soviet selama Perang Dingin.[51] Pada bulan September, pihak Soviet merilis telegram Novikov, yang dikirim oleh duta besar Soviet kepada Amerika Serikat, namun pengiriman telegram ini ditugaskan dan juga ditulis oleh Vyacheslav Molotov,
telegram ini menjelaskan bahwa AS "berada dalam cengkeraman monopoli
kapitalis yang mengembangkan kemampuan militer dalam rangka
mempersiapkan kondisi untuk memenangkan supremasi dunia dalam sebuah
perang baru".[52]
Pada tanggal 6 September 1946, James F. Byrnes menyampaikan pidato di Jerman yang menyangkal Rencana Morgenthau
(sebuah proposal untuk memisahkan dan de-industrialisasi di Jerman
pasca-perang). Byrnes juga memperingatkan Soviet bahwa AS berniat untuk
mempertahankan keberadaan militernya tanpa batas di Eropa.[53]
Sebulan kemudian, Byrnes mengakui bahwa pernyataannya ini merupakan
"intisari dari program kami untuk memenangkan hati warga Jerman [...]
itu adalah pertempuran pikiran antara kami dan Rusia [...]"[54]
Beberapa minggu setelah dirilisnya "Telegram Panjang", mantan Perdana
Menteri Britania Winston Churchill menyampaikan istilah terkenalnya, "Tirai Besi", dalam sebuah pidato di Fulton, Missouri.[55]
Dalam pidato tersebut, Churcill menyerukan agar Inggris-Amerika
bersekutu untuk melawan Soviet, yang dituduhnya telah membentangkan
sebuah "tirai besi" dari "Stettin di Baltik hingga ke Trieste di Adriatik".[40][56]
Pada tahun 1952, Stalin berulang kali mengajukan rencana untuk menyatukan Jerman Timur dan Jerman Barat di bawah satu pemerintahan tunggal yang dipilih dalam pemilihan umum yang diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
jika Jerman yang baru ini terlepas dari aliansi militer Barat, namun
usulan ini ditolak oleh kekuatan Barat. Beberapa sumber
mempersengketakan kesungguhan usulan ini.[57]
Permulaan Perang Dingin (1947–1953)
Kominform dan perpecahan Tito–Stalin
Pada bulan September 1947, Soviet membentuk Kominform,
yang tujuannya adalah untuk menegakkan ortodoksi dalam gerakan komunis
internasional dan memperketat kontrol politik atas negara-negara satelit
Soviet melalui koordinasi dari pihak komunis di Blok Timur.[58] Kominform mengalami kemunduran pada bulan Juni berikutnya setelah perpecahan Tito–Stalin, yang menyebabkan Soviet mengucilkan Yugoslavia. Yugoslavia tetap menjadi negara komunis, namun mulai mengadopsi posisi Non-Blok.
Kontainmen dan Doktrin Truman
Aliansi militer Eropa.
Pada tahun 1947, penasihat Presiden AS Harry S. Truman
mendesak Truman untuk mengambil langkah-langkah segera dalam melawan
pengaruh Uni Soviet, mengingat upaya Stalin (ditengah kebingungan dan
keruntuhannya pasca-perang) untuk melemahkan Amerika Serikat melalui
persaingan yang bisa mendorong kalangan kapitalis agar memicu perang
lain.[59] Bulan Februari 1947, pemerintah Britania mengumumkan bahwa mereka tidak sanggup lagi membiayai rezim militer monarki Yunani dalam Perang Saudara Yunani untuk melawan pemberontak komunis.
Tanggapan pemerintah Amerika terhadap pengumuman Britania ini adalah bahwa mereka akan mengadopsi kebijakan kontainmen,[60] yaitu kebijakan yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran komunisme.
Truman menyampaikan pidato yang menyerukan alokasi dana sebesar $ 400
untuk memfasilitasi keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Yunani dan
meluncurkan Doktrin Truman, yang menyatakan bahwa konflik tersebut merupakan kontes antara masyarakat bebas dan rezim totaliter.[60] Meskipun kenyataannya para pemberontak komunis mendapat bantuan dari pemimpin Yogoslavia Josip Broz Tito,[16]
AS menuduh bahwa Uni Soviet bersekongkol dengan komunis Yunani untuk
melawan royalis dalam upayanya untuk memperluas pengaruh Soviet.[61]
Doktrin Truman menandai awal dari kebijakan pertahanan bipartisan AS dan konsesus kebijakan luar negeri antara Partai Republik dan Demokrat yang benar-benar berfokus pada kontainmen (penahanan) dan pencegahan penyebaran komunisme selama dan setelah Perang Vietnam.[62][63]
Partai moderat dan konservatif lainnya di Eropa, serta demokratik
sosial, mulai memberikan dukungan penuh tanpa syarat kepada Sekutu
Barat,[64] sedangkan Komunis Amerika dan Eropa, dengan dibiayai oleh KGB, telibat dalam operasi intelijen,[65]
operasi ini tetap sesuai dengan aturan Moskow, meskipun perbedaan
pendapat di kalangan komunis ini mulai muncul setelah tahun 1956. Kritik
lain terkait dengan Doktrin Truman ini berasal dari aktivis anti-Perang Vietnam, CND dan gerakan pembekuan nuklir.[66]
Rencana Marshall dan kudeta Cekoslowakia
Peta era Perang Dingin di Eropa dan Timur Dekat, menunjukkan negara-negara yang menerima bantuan Rencana Marshall. Kolum merah menunjukkan jumlah relatif bantuan yang diterima per negara.
Aliansi perekonomian Eropa.
Pada awal 1947, Britania, Perancis, dan Amerika Serikat tidak
berhasil mencapai kesepakatan dengan Uni Soviet mengenai rencana
pembangunan kembali perekonomian Jerman, termasuk jumlah rinci tentang
penanaman modal industri, barang, dan infrastruktur yang telah
dihancurkan oleh Sekutu selama perang.[67] Bulan Juni 1947, sesuai dengan Doktrin Truman, Amerika Serikat mengesahkan program Rencana Marshall, yaitu suatu program bantuan ekonomi bagi semua negara Eropa yang bersedia untuk berpartisipasi, termasuk Uni Soviet.[67]
Tujuan dari rencana ini adalah untuk membangun kembali sistem demokrasi dan perekonomian Eropa dan untuk membatasi pengaruh komunis di Eropa.[68] Rencana ini juga menyatakan bahwa kemakmuran Eropa bergantung pada pemulihan ekonomi Jerman.[69] Satu bulan kemudian, Truman mengesahkan Undang-Undang Keamanan Nasional 1947, membentuk Departemen Pertahanan terpadu, CIA, dan Badan Keamanan Nasional (NSC). Hal ini selanjutnya akan menjadi birokrasi utama kebijakan AS dalam Perang Dingin.[70]
Stalin percaya bahwa integrasi ekonomi dengan Barat
akan memungkinkan negara-negara Blok Timur untuk memisahkan diri dari
kontrol Soviet, Stalin juga percaya bahwa AS berusaha untuk “membeli”
Eropa agar berpihak kepada AS.[58] Oleh sebab itu, Stalin melarang negara-negara Blok Timur menerima bantuan Marshall.[58]
Alternatif Uni Soviet dalam menandingi Rencana Marshall, yang konon
menghabiskan subsidi Soviet dan perdagangan dengan Eropa Timur, adalah
dengan membentuk Rencana Molotov (kemudian dilembagakan pada bulan Januari 1949 dengan nama Comecon).[16]
Stalin juga mengkhawatirkan upaya AS untuk merekonstitusi Jerman; visi
pasca-perangnya terhadap Jerman tidak mencakup hal ini, karena Soviet
enggan mempersenjatai kembali Jerman atau dengan kata lain, takut bahwa
hal itu akan menimbulkan ancaman lagi terhadap Uni Soviet.[71]
Pada awal 1948, menyusul laporan yang memperkuat "elemen reaksioner" di Cekoslowakia, Soviet melaksanakan kudeta di Cekoslowakia, yang merupakan satu-satunya negara Blok Timur yang diijinkan Soviet untuk mempertahankan struktur demokrasinya.[72][73]
Kebrutalan publik dalam kudeta ini mengejutkan negara-negara Barat,
perdebatan muncul di Kongres Amerika Serikat, yang ketakutan bahwa
perang akan terjadi kembali dalam upaya Soviet untuk menyapu habis
seluruh pendukung Rencana Marshall.[74]
Kebijakan kembar Doktrin Truman dan Rencana Marshall menyebabkan miliaran bantuan ekonomi dan militer mengalir untuk Eropa Barat, Yunani, dan Turki. Dengan bantuan AS, militer Yunani berhasil memenangkan perang saudara.[70] Partai Demokrasi Kristen Italia juga sukses mengalahkan aliansi Komunis-Sosialis dalam pemilihan umum tahun 1948.[75] Pada saat yang bersamaan, terjadi peningkatan aktivitas intelijen dan spionase, pembelotan Blok Timur, dan pengusiran diplomatik.[76]
Blokade Berlin
C-47s melakukan pembongkaran di Bandar Udara Tempelhof di Berlin selama berlangsungnya Blokade Berlin.
Amerika Serikat dan Britania menggabungkan zona pendudukan mereka di Jerman menjadi “Bizonia” (1 Januari 1947, kemudian menjadi “Trizonia” setelah zona pendudukan Perancis juga digabungkan pada bulan April 1949).[77]
Sebagai bagian dari upaya pembangunan kembali perekonomian Jerman, pada
awal 1948 perwakilan dari sejumlah negara Eropa Barat dan Amerika
Serikat mengumumkan kesepakatan untuk menggabungkan wilayah pendudukan
Jerman Barat menjadi sebuah pemerintahan federal.[78]
Selain itu, sesuai dengan Rencana Marshall, mereka memulai kembali
industrialisasi dan menata kembali perekonomian Jerman bersama-sama,
termasuk pengenalan mata uang baru Deutsche Mark untuk menggantikan mata uang Reichsmark lama yang nilainya telah dijatuhkan oleh Soviet.[79]
Tidak lama kemudian, Stalin melembagakan Blokade Berlin
(24 Juni 1948 - 12 Mei 1949), salah satu krisis besar pertama yang
terjadi selama Perang Dingin, yang bertujuan untuk memutus akses dan
mencegah makanan, bahan, dan perlengkapan lainnya memasuki Berlin Barat.[80] Amerika Serikat, Britania, Perancis, Kanada, Selandia Baru, Australia,
dan beberapa negara lainnya memulai “bantuan udara” besar-besaran untuk
memasok Berlin Barat dengan makanan dan perlengkapan lainnya.[81]
Soviet melancarkan kampanye hubungan publik terhadap perubahan
kebijakan di Jerman Barat. Para Komunis di Berlin Timur berupaya untuk
mengganggu prosesi pemilihan umum munisipal di Berlin (seperti yang
mereka lakukan dalam pemilu 1946),[77]
yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 1948 dan menghasilkan
86,3% pemilih sekaligus kemenangan besar bagi partai non-Komunis.[82]
Hasil ini secara efektif membagi Berlin menjadi dua bagian, yaitu
Berlin Timur dan Berlin Barat. 300.000 warga Berlin berunjukrasa dan
mendesak agar bantuan udara internasional untuk Berlin tetap
dilanjutkan,[83] dan pilot US Air Force Gail Halvorsen kemudian menanggapinya dengan membentuk “Operasi Permen” untuk memasok permen bagi anak-anak Jerman.[84] Pada bulan Mei 1949, Stalin mundur dan mencabut blokade terhadap Berlin.[47][85]
Awal NATO dan Radio Free Europe
Presiden Truman menandatangani Amandemen Undang-Undang Keamanan Nasional 1949 dengan para tamu di Oval Office.
Britania, Perancis, Amerika Serikat, Kanada dan delapan negara-negara Eropa Barat menandatangani Pakta Pertahanan Atlantik Utara pada bulan April 1949 untuk mendirikan North Atlantic Treaty Organization (NATO).[47] Pada bulan Agustus, perangkat atom Soviet pertama diledakkan di Semipalatinsk, RSS Kazakhtan.[16]
Setelah Soviet menolak untuk berpartisipasi dalam upaya pembangunan
kembali Jerman yang telah ditetapkan oleh negara-negara Eropa Barat pada
tahun 1948,[78][86] AS, Britania, dan Perancis mempelopori pembentukan Jerman Barat di tiga zona pendudukan mereka yang digabungkan pada bulan April 1949.[31][87] Soviet kemudian menyikapinya dengan memproklamirkan pendirian Republik Demokratik Jerman di zona pendudukannya di Jerman Timur pada bulan Oktober.[31]
Media massa di Blok Timur merupakan organ negara,
operasionalnya benar-benar bergantung dan tunduk pada peraturan partai
komunis, media televisi dan radio ditetapkan sebagai badan usaha milik
negara, sedangkan media cetak biasanya dimiliki oleh organisasi politik, sebagian besarnya dimiliki oleh partai komunis lokal.[88] Propaganda
Soviet menggunakan filosofi Marxis untuk menyerang kapitalisme,
mengklaim eksploitasi tenaga kerja, dan perang terhadap imperialisme.[89]
Seiring dengan diperluasnya siaran British Broadcasting Corporation dan Voice of America ke Eropa Timur,[90] upaya propaganda besar-besaran dimulai pada tahun 1949 dengan dibentuknya Radio Free Europe/Radio Liberty, yang didedikasikan untuk memberitakan mengenai era kekacauan dari sistem komunisme di Blok Timur.[91]
Radio Free Europe berusaha untuk mencapai tujuannya dengan melayani
pendengar sebagai stasiun radio pengganti, serta menjadi alternatif bagi
media dalam negeri yang dikontrol dan didominasi oleh partai.[91]
Radio Free Europe Eropa adalah produk dari beberapa arsitek yang paling
menonjol dari strategi Perang Dingin awal Amerika, terutama mereka yang
percaya bahwa Perang Dingin pada akhirnya akan diperjuangkan lewat
jalur politik ketimbang militer, seperti George F. Kennan.[92]
Pembuat kebijakan Amerika, termasuk Kennan dan John Foster Dulles, mengakui bahwa Perang Dingin pada kenyataannya merupakan sebuah perang gagasan.[92] Amerika Serikat, dibantu oleh CIA,
mendanai daftar panjang proyek-proyek untuk melawan daya tarik komunis
bagi kalangan intelektual Eropa dan negara-negara berkembang, atau
dengan kata lain, mencegah upaya Soviet untuk menyebarkan pengaruh
komunisnya.[93] CIA diam-diam juga mensponsori kampanye propaganda dalam negeri yang disebut Pembasmian untuk Kebebasan.[94]
Pada awal 1950-an, AS berupaya untuk mempersenjatai kembali Jerman
Barat. Pada tahun 1955, AS menjamin keanggotaan penuh Jerman Barat di
NATO.[31] Sebelumnya, bulan Mei 1953, Soviet gagal mencegah upaya penggabungan Jerman Barat ke dalam NATO.[95]
Perang Saudara Cina dan SEATO
Mao Zedong dan Joseph Stalin di Moskow, Desember 1949
Pada tahun 1949, Tentara Pembebasan Rakyat Mao Zedong berhasil menggulingkan Pemerintahan Nasionalis Kuomintang (KMT) Chiang Kai-shek yang didukung oleh Amerika Serikat di Tiongkok, dan Uni Soviet kemudian menjalin aliansi dengan Republik Rakyat Tiongkok yang baru terbentuk.[96] Chiang dan pemerintahan KMT nya mundur ke kepulauan Taiwan. Karena dihadapkan pada revolusi komunis di Tiongkok dan akhir dari monopoli atom Amerika Serikat pada tahun 1949, pemerintahan Truman segera memperluas dan meningkatkan kebijakan kontainmen mereka di Tiongkok.[16] Dalam NSC-68, sebuah dokumen rahasia pada tahun 1950,[97]
disebutkan bahwa Dewan Keamanan Nasional mengusulkan untuk memperkuat
sistem aliansi pro-Barat dan memperbesar pengeluaran pertahanan.[16]
Amerika Serikat selanjutnya juga mulai memperluas kebijakan kontainmen mereka ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin
untuk melawan gerakan nasionalis revolusioner, kebanyakannya dipimpin
oleh partai-partai komunis yang dibiayai oleh Soviet dan berjuang dalam
menentang dominasi kolonial Eropa di Asia Tenggara dan wilayah lainnya.[98] Pada awal 1950-an (periode ini kadang dikenal dengan “Pactomania”), AS membentuk serangkaian aliansi dengan Jepang, Australia, Selandia Baru, Thailand, dan Filipina (terutama ANZUS pada tahun 1951 dan SEATO pada tahun 1954). Aliansi ini membuat AS memiliki sejumlah pangkalan militer jangka panjang di negara-negara tersebut.[31]
Perang Korea
Jenderal Douglas MacArthur, Komandan CiC PBB (duduk), mengamati penembakan laut Incheon dari USS Mt. McKinley, 15 September 1950.
Salah satu dampak yang signifikan dari kebijakan kontainmen Amerika Serikat adalah pecahnya Perang Korea. Pada bulan Juni 1950, Tentara Rakyat Korea Utara di bawah arahan dari Kim Il-Sung menginvasi Korea Selatan.[99] Joseph Stalin “merencanakan, mempersiapkan, dan memulai” invasi tersebut,[100] menyusun “rencana [perang] dengan rinci” yang kemudian dikirimkan kepada Korea Utara.[101][102][103][104] Untuk mengejutkan Stalin,[16] Dewan Keamanan PBB mendukung dan memfasilitasi pertahanan di Korea Selatan, meskipun Soviet kemudian memboikot sidang sebagai protes karena Taiwan yang diberi kursi tetap di dewan, bukannya Komunis Cina.[105]
Personel militer gabungan PBB yang terdiri dari Korea Selatan, AS,
Britania Raya, Turki, Kanada, Australia, Perancis, Afrika Selatan,
Filipina, Belanda, Belgia, Selandia Baru, dan negara-negara lainnya
bersatu untuk menghentikan invasi ini.[106]
Efek lain dari Perang Korea adalah mendorong NATO untuk mengembangkan struktur militer.[107]
Opini publik di negara-negara yang terlibat, seperti Britania, sebagian
besar menentang perang ini. Banyak yang ketakutan bahwa perang ini akan
meningkat menjadi perang besar dengan Komunis Cina, atau bahkan menjadi
perang nuklir. Pandangan yang berbeda mengenai perang ini seringkali menimbulkan ketegangan dalam hubungan Britania–Amerika.
Karena alasan ini, Britania mengambil langkah cepat untuk meredakan
konflik dengan mencetuskan ide mengenai mempersatukan Korea di bawah
naungan PBB dan penarikan semua pasukan asing.[108]
Meskipun Cina dan Korea Utara sudah lelah akibat perang yang
berkelanjutan dan siap untuk mengakhirinya pada tahun 1952, Stalin
bersikeras bahwa mereka harus terus berjuang, dan gencatan senjata baru disetujui pada tahun 1953 setelah kematian Stalin.[31]
Pemimpin Korea Utara Kim Il Sung kemudian menciptakan kediktatoran yang
sangat terpusat dan brutal di Korea Utara, memberikannya kekuasaan tak
terbatas dan menghasilkan sebuah kultus kepribadian yang tak tertembus
berdekade-dekade lamanya.[109][110] Di Korea Selatan, pemimpin korup Syngman Rhee yang mendapat dukungan dari AS menerapkan sistem pemerintahan totaliter.[111]
Setelah Rhee digulingkan pada tahun 1960, Korea Selatan jatuh di bawah
masa pemerintahan militer yang berlangsung sampai pembentukan kembali
sistem multi-partai pada tahun 1987.
Krisis dan peningkatan (1953-1962)
Kekuatan tentara NATO dan Pakta Warsawa di Eropa pada tahun 1959.
Khrushchev, Eisenhower dan de-Stalinisasi
Pada tahun 1953, perubahan dalam kepemimpinan politik di kedua belah pihak turut menggeser dinamika Perang Dingin.[112] Dwight D. Eisenhower
dilantik sebagai Presiden AS yang baru pada bulan Januari. Selama 18
bulan terakhir pemerintahan Truman, anggaran pertahanan Amerika Serikat
telah meningkat empat kali lipat, dan Eisenhower bertekad untuk
mengurangi sepertiga dari pengeluaran militer sambil terus berjuang
dalam Perang Dingin secara efektif.[16]
Setelah kematian Joseph Stalin, Nikita Khrushchev menjadi pemimpin Soviet setelah deposisi dan pengeksekusian Lavrentiy Beria dan juga menyingkirkan saingannya seperti Georgy Malenkov dan Vyacheslav Molotov. Pada tanggal 25 Februari 1956, Khrushchev mengejutkan delegasi dalam Kongres ke-20 Partai Komunis Soviet dengan mencela kejahatan Stalin.[113] Sebagai bagian dari kampanye de-Stalinisasi,
ia menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mereformasi dan menjauh
dari kebijakan Stalin adalah dengan mengakui kesalahan yang dilakukannya
di masa lalu.[70]
Pada tanggal 18 November 1956, saat berpidato kepada duta besar Barat
dalam sebuah resepsi di kedutaan Polandia di Moskow, Khrushchev
mengungkapkan kalimat terkenalnya: "Entah kalian suka atau tidak,
sejarah berada di pihak kami. Kami akan mengubur kalian", pernyataannya
ini mengejutkan semua tamu yang hadir.[114]
Khrushchev kemudian mengklaim bahwa ia tidak membicarakan mengenai
perang nuklir, melainkan mengenai kemenangan komunisme atas kapitalisme.[115]
Tahun 1961, Khrushchev menyatakan: "bahkan jika Uni Soviet berada di
belakang Barat, dalam satu dekade kekurangan perumahan akan lenyap,
barang-barang konsumsi akan melimpah, dan dalam dua dekade, pembangunan
masyarakat komunis di Uni Soviet akan selesai".[116]
Sekretaris negara Eisenhower, John Foster Dulles, memprakarsai kebijakan "New Look"
sebagai strategi kontainmen (penahanan) baru, yang menyerukan agar AS
lebih mengandalkan senjata nuklir untuk melawan musuh-musuhnya di masa
perang.[70]
Dulles juga menyerukan doktrin "pembalasan besar-besaran" dan menyuruh
AS untuk tidak menanggapi setiap agresi Soviet. Sebagai contoh, karena
Soviet memiliki keunggulan nuklir, Eisenhower, di bawah ancaman dari
Khrushchev, menolak untuk campur tangan dalam Krisis Suez di Timur Tengah pada tahun 1956.[16]
Pakta Warsawa dan Revolusi Hungaria
Peta negara-negara Pakta Warsawa.
Setelah kematian Stalin pada tahun 1953, ketegangan berlangsung
dengan sedikit lebih santai, meskipun situasi di Eropa tetap belum
kondusif.[117] Soviet, yang sudah membentuk jaringan perjanjian bantuan timbal balik dalam Blok Timur pada tahun 1949,[118] juga membentuk suatu aliansi formal untuk melengkapinya, yaitu Pakta Warsawa pada tahun 1955.[31]
Revolusi Hongaria 1956 terjadi tak lama setelah Khrushchev menghapuskan kekuasaan pemimpin Stalinis Hongaria Mátyás Rákosi.[119] Sebagai tanggapan terhadap pemberontakan,[120] rezim baru ini secara resmi dibubarkan oleh polisi rahasia, menyatakan niatnya untuk menarik diri dari Pakta Warsawa dan berjanji untuk menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas. Tentara Soviet mulai menyerbu.[121] Ribuan warga Hongaria ditangkap, dipenjarakan, dideportasi ke Uni Soviet,[122] dan lebih dari 200.000 warga melarikan diri keluar Hongaria.[123] Pemimpin Hongaria Imre Nagy dan yang lainnya dieksekusi setelah diproses dalam sebuah persidangan rahasia.[124]
Dari 1957 sampai 1961, Khrushchev secara terbuka dan berulang kali
mengancam Barat dengan pemusnahan nuklir. Dia mengklaim bahwa kemampuan
rudal Soviet jauh lebih unggul daripada Amerika Serikat, dan mampu
memusnahkan kota-kota di Amerika atau Eropa. Namun, Khrushchev menolak
keyakinan Stalin dalam keniscayaan perang dan menyatakan bahwa tujuan
barunya adalah untuk "hidup berdampingan secara damai".[125] Kebijakan ini berbeda dengan Soviet pada era Stalin, di mana perjuangan kelas
internasional berarti bahwa kedua kubu yang berlawanan berada pada
konflik tak terelakkan dengan komunisme yang akan menang melalui perang global. Sekarang, perdamaian akan memungkinkan kapitalisme untuk menghadapi keruntuhannya sendiri,[126] dan juga memberikan waktu bagi Soviet untuk meningkatkan kemampuan militer mereka,[127] yang akan tetap bertahan puluhan tahun sampai munculnya era "pemikiran baru" Gorbachev.[128]
Peristiwa di Hongaria melumpuhkan ideologi partai-partai Komunis dunia, terutama di Eropa Barat,
dan terjadi penurunan yang besar dalam jumlah keanggotaan partai.
Negara-negara Barat dan komunis merasa kecewa dengan respon brutal
Soviet.[129]
Partai komunis di Barat tidak pernah pulih dari pengaruh Revolusi
Hongaria dalam hal keanggotaan partai, fakta yang segera diakui oleh
beberapa pihak, seperti politisi Yugoslavia Milovan Djilas, yang menyatakan bahwa: "luka yang ditorehkan oleh Revolusi Hongaria terhadap komunisme tidak pernah benar-benar sembuh".[129]
Ultimatum Berlin dan integrasi Eropa
Wilayah-wilayah di dunia yang berada di bawah pengaruh Soviet setelah Revolusi Kuba tahun 1959 dan sebelum perpecahan Sino-Soviet tahun 1961.
Selama bulan November 1958, Khrushchev gagal untuk mengubah seluruh Berlin
menjadi "kota yang independen, terdemiliterisasi dan bebas", hal ini
membuat Amerika Serikat, Britania, dan Perancis diberi ultimatum enam
bulan untuk menarik pasukan mereka dari sektor yang masih diduduki di
Berlin Barat, atau Khrushchev akan mengalihkan kendali hak akses Barat
ke Jerman Timur. Khrushchev sebelumnya menjelaskan kepada Mao Zedong bahwa "Berlin adalah testikelnya Barat. Setiap kali saya ingin membuat Barat menjerit, maka saya akan meremas Berlin."[130] NATO
secara resmi menolak ultimatum ini pada pertengahan Desember dan
Khrushchev menarik kembali ultimatumnya dalam konferensi Jenewa.[131]
Lebih luas lagi, salah satu ciri dari tahun 1950-an adalah awal dari integrasi-Eropa,
yang merupakan produk dari Perang Dingin yang memperomosikan politik,
ekonomi, dan militer Truman dan Eisenhower, namun kemudian hal ini
dipandang sebagai kebijakan yang ambigu, takut bahwa Eropa yang
independen akan melakukan détente terpisah dari Uni Soviet, yang bisa digunakan untuk memperburuk perpecahan Barat.[132]
Persaingan di Dunia Ketiga
Perangko Soviet tahun 1961 yang menuntut kebebasan bagi negara-negara Afrika.
Perangko Soviet tahun 1961 intuk memperingati Patrice Lumumba, perdana menteri Republik Kongo.
Gerakan nasionalis di beberapa negara seperti Guatemala, Indonesia dan Indocina seringkali bersekutu dengan kelompok komunis, atau yang dianggap oleh Barat dibantu oleh komunis.[70]
Dalam konteks ini, Amerika Serikat dan Uni Soviet semakin meningkatkan
persaingan mereka untuk menyebarkan pengaruh dengan cara mencari proksi
di Dunia Ketiga, dan ini bertepatan dengan momentum dekolonisasi pada tahun 1950-an dan awal 1960-an.[133] Selain itu, Soviet terus dirugikan oleh kekuatan-kekuatan imperialis.[134]
Kedua belah pihak mulai melakukan pengiriman dan penjualan senjata
kepada negara-negara Dunia Ketiga untuk mendapatkan pengaruh.[135]
Amerika Serikat memanfaatkan Central Intelligence Agency (CIA) untuk menyusup ke dalam pergolakan politik di Dunia Ketiga dan juga untuk mendukung sekutu mereka.[70] Pada tahun 1953, CIA melaksanakan Operasi Ajax, sebuah operasi rahasia yang bertujuan untuk menggulingkan perdana menteri Iran, Mohammed Mossadegh. Mosadegh yang menganut prinsip Non-Blok telah menjadi nemesis Timur Tengah bagi Britania sejak ia menasionalisasi perusahaan minyak Anglo-Iranian Oil Company milik Britania pada tahun 1951. Winston Churchill mengatakan kepada AS bahwa Mossadegh "semakin beralih ke komunisme".[136][137][138][139] Shah yang pro-Barat, Mohammad Reza Pahlavi, kemudian naik jabatan sebagai monarki otokratik.[140] Kebijakan Shah yang baru ini di antaranya melarang aktivitas partai komunis Tudeh dan penekanan perbedaan pendapat politik oleh SAVAK, badan keamanan dan intelijen dalam negeri Shah.
Di Guatemala, sebuah kudeta militer yang didukung CIA berhasil menggulingkan presiden sayap kiri Jacobo Arbenz Guzmán pada tahun 1954.[141] Pemerintah pasca-Arbenz yang dipimpin oleh Carlos Castillo Armas mengembalikan semua properti milik AS yang dinasionalisasi, membentuk Komite Nasional Pertahanan Melawan Komunisme, dan mendekritkan Hukum Pidana Pencegahan Terhadap Komunisme atas permintaan Amerika Serikat.[142]
Presiden Indonesia, Soekarno,
yang menganut prinsip-prinsip Non-Blok, dihadapkan pada ancaman besar
pada awal tahun 1956, ketika beberapa komandan daerah mulai menuntut
otonomi dari Jakarta.
Setelah proses mediasi gagal, Soekarno mengambil tindakan tegas untuk
menyingkirkan mereka yang membangkang. Pada bulan Februari 1958,
komandan militer di Sumatera Tengah (Kolonel Ahmad Hussein) dan Sulawesi Utara (Kolonel Ventje Sumual) mendeklarasikan pembentukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia-Permesta, yang bertujuan untuk menggulingkan rezim Soekarno. Mereka bergabung dengan politisi sipil lainnya dari Partai Masyumi seperti Sjafruddin Prawiranegara, yang menentang pertumbuhan pengaruh dari Partai Komunis Indonesia.
Karena retorika anti-komunis mereka, pemberontakan mereka mendapat
bantuan senjata, dana, dan bantuan lainnya dari CIA. Hal ini terbukti
saat pesawat Amerika yang dipiloti oleh Allen Lawrence Pope tertembak jatuh di Ambon pada bulan April 1958. Pemerintah pusat menanggapinya dengan meluncurkan invasi militer lewat laut dan udara melalui Padang dan Manado. Pada akhir 1958, para pemberontak berhasil dikalahkan, dan pemberontak yang tersisa menyerahkan diri pada bulan Agustus 1961.[143]
Di Irak, Abd al-Karim Qasim menggulingkan monarki Hashemite pada tahun 1958 dan membangun aliansi dengan Partai Komunis Irak dan Uni Soviet.[144] Meskipun Partai Ba'ath yang anti-komunis adalah faksi dominan dalam kabinet Qasim,[145] AS mulai khawatir bahwa pemberontakan mungkin akan menginspirasi "reaksi berantai" di seluruh Timur Tengah.[146] Mesir dan Suriah juga berusaha untuk membunuh Qasim untuk alasan mereka sendiri,[147] CIA juga dianggap berperan dalam mengirimkan saputangan beracun kepada Qasim (meskipun masih diperdebatkan).[148] Setelah serangkaian kudeta, Ba'athist berhasil merebut kekuasaan pada tahun 1968, kemungkinan dengan dukungan dari KGB,[149] meskipun militer Irak juga melakukan kudeta.[150]
Di Republik Kongo, yang baru merdeka dari Belgia pada bulan Juni 1960, CIA menghasut presiden Joseph Kasa-Vubu untuk memecat Perdana Menteri terpilih Patrice Lumumba dan membubarkan kabinet Lumumba pada bulan September.[151] Dalam Krisis Kongo yang terjadi setelahnya, CIA mendukung Kolonel Mobutu dengan cara memobilisasi pasukannya untuk merebut kekuasaan melalui kudeta militer.[151]
Di Guiana Britania, kandidat Partai Progresif Rakyat (PPP) yang berhaluan kiri, Cheddi Jagan,
memenangkan posisi ketua menteri dalam pemilihan umum kolonial yang
diselenggarakan pada tahun 1953, namun secara cepat dipaksa untuk
mengundurkan diri dari jabatannya setelah adanya suspensi dari Britania
Raya yang masih memiliki kewenangan terhadap konstitusi negara tersebut.[152]
Dipermalukan oleh kemenangan telak Jagan yang diduga Marxis, Britania
memenjarakan ketua PPP pada tahun 1955 dan merekayasa perpecahan antara
Jagan dengan rekan PPP nya.[153]
Jagan lagi-lagi memenangkan pemilu kolonial pada tahun 1957 dan 1961.
Amerika Serikat menekan Britania untuk menunda memberikan kemerdekaan
kepada Guiana sampai haluan politik Jagan telah teridentifikasi.[154]
Karena dilelahkan oleh perang gerilya komunis yang menuntut kemerdekaan Vietnam, Perancis setuju untuk melakukan negosiasi dengan komunis Vietnam. Dalam Konferensi Jenewa, perjanjian damai ditandatangani, dan Vietnam dibagi menjadi Vietnam Utara yang pro-Soviet dan Vietnam Selatan
yang pro-Barat. Antara tahun 1954 dan 1961, Amerika Serikat mengirimkan
bantuan ekonomi dan penasihat militer untuk memperkuat rezim pro-Barat
Vietnam Selatan dalam menghalangi upaya komunis yang berniat untuk
mengacaukannya.[16]
Banyak negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin
yang menolak tekanan untuk memihak salah satu blok. Pada tahun 1955,
dalam Konferensi Bandung di Indonesia, puluhan negara Dunia Ketiga memutuskan untuk keluar dari Perang Dingin.[155] Konsesus yang ditetapkan di Bandung mencapai puncaknya dengan didirikannya Gerakan Non-Blok yang bermarkas di Belgrade pada tahun 1961.[70] Sementara itu, Khrushchev memperluas kebijakan Moskow dengan menjalin hubungan dengan India
dan negara-negara netral lainnya. Gerakan kemerdekaan di Dunia Ketiga
mengubah tatanan dunia pasca-perang menjadi lebih pluralistik dengan
diterapkannya dekolonisasi bagi negara-negara Afrika dan Timur Tengah dan semangat nasionalisme juga meningkat di Asia dan Amerika Latin.[16]
Perpecahan Sino-Soviet dan Perlombaan Angkasa
Diagram perkembangan Perlombaan Angkasa pada tahun 1957–1975.
Periode setelah 1956 ditandai dengan kemunduran serius bagi Uni
Soviet, terutama pecahnya aliansi Cina-Soviet, yang dimulai dengan perpecahan Sino-Soviet.
Mao membela Stalin ketika Khrushchev mengkritiknya setelah kematiannya
pada tahun 1956, dan menganggap pemimpin Soviet yang baru sebagai
"pemula yang dangkal", Mao juga menuduhnya telah kehilangan sisi
revolusioner.[156]
Sementara itu, Khrushchev, yang merasa terganggu atas sikap Mao yang
anti-perang nuklir, menyebut pemimpin Cina sebagai "orang yang gila
takhta".[157]
Setelah hal itu terjadi, Khrushchev melakukan berbagai upaya untuk
membangun kembali aliansi dengan Cina, namun Mao menolak setiap
usulannya.[156] Permusuhan Cina-Soviet ini akhirnya tumpah dalam perang propaganda intra-komunis.[158]
Selanjutnya, Soviet mulai berfokus pada persaingan sengit dengan Cina
untuk memperebutkan posisi sebagai pemimpin gerakan komunis dunia.[159]
Dilatardepani oleh senjata nuklir,
Amerika Serikat dan Uni Soviet mulai bersaing untuk membangun
persenjataan nuklir dan mengembangkan senjata jangka-panjang yang bisa
mereka pergunakan untuk menyerang satu sama lain.[31] Bulan Agustus 1957, Soviet berhasil meluncurkan peluru kendali balistik antar benua pertama (ICBM),[160] dan pada bulan Oktobernya, Soviet meluncurkan satelit Bumi pertama, Sputnik.[161] Peluncuran Sputnik ini menandai dimulainya Perlombaan Angkasa antara Soviet dan Amerika Serikat. Persaingan ini memuncak dengan pendaratan Apollo di Bulan, yang dideskripsikan oleh astronot Frank Borman sebagai "pertempuran dalam Perang Dingin".[162]
Revolusi Kuba dan Invasi Teluk Babi
Fidel Castro (kanan) dan Che Guevara, 1961.
Di Kuba, Gerakan 26 Juli berhasil merebut kekuasaan pada bulan Januari 1959, menjatuhkan Presiden Fulgencio Batista, yang rezimnya tidak populer dan tidak direstui oleh pemerintahan Eisenhower.[163]
Hubungan diplomatik antara Kuba dan Amerika Serikat terus berlanjut
selama beberapa waktu setelah kejatuhan Batista, namun Presiden
Eisenhower sengaja meninggalkan ibu kota untuk menghindari pertemuan
dengan pemimpin pemuda revolusioner Kuba Fidel Castro pada bulan April, dan memerintahkan Wakil Presiden Richard Nixon untuk mengadakan pertemuan dengan Castro di kediamannya.[164]
Eisenhower tidak yakin, apakah Castro seorang komunis atau bukan.
Eisenhower juga menentang upaya Kuba untuk mengurangi ketergantungan
ekonomi mereka pada Amerika Serikat.[165] Kuba mulai melakukan negosiasi pembelian senjata dengan Eropa Timur pada bulan Maret 1960.[166]
Bulan Januari 1961, sesaat sebelum turun dari jabatannya, Eisenhower
secara resmi memutuskan hubungan dengan pemerintah Kuba. Pada bulan
April 1961, Presiden Amerika yang baru terpilih, John F. Kennedy, dengan bantuan dari CIA, gagal menginvasi pulau-pulau di Playa Girón dan Playa Larga di Provinsi Las Villas — kegagalan yang mempermalukan Amerika Serikat di mata dunia.[165] Castro menanggapinya dengan mengadopsi paham Marxisme-Leninisme, dan Soviet berjanji untuk memberikan dukungan lebih lanjut kepada Kuba.[165]
Krisis Berlin 1961
Tank Soviet berhadapan dengan tank Amerika Serikat di Checkpoint Charlie, 27 Oktober, selama berlangsungnya Krisis Berlin 1961
Krisis Berlin 1961 adalah insiden besar terakhir yang terjadi dalam masa Perang Dingin terkait dengan status Berlin dan kondisi Jerman pasca-Perang Dunia II. Pada awal 1950-an, pendekatan Soviet mengenai kebijakan pembatasan emigrasi ditiru oleh sebagian besar negara Blok Timur lainnya.[167] Namun, ratusan ribu warga Jerman Timur beremigrasi ke Jerman Barat
setiap tahunnya melalui "celah" yang terdapat dalam sistem antara
Berlin Timur dan Berlin Barat dan dengan bantuan dari pasukan Sekutu di
Jerman Barat.[168]
Emigrasi menyebabkan berpindahnya sumber daya manusia yang berpotensi
seperti kalangan profesional terdidik dari Jerman Timur ke Jerman
Barat, hampir 20% penduduk Jerman Timur telah bermigrasi ke Jerman Barat
pada tahun 1961.[169] Pada bulan Juni, Uni Soviet mengeluarkan ultimatum baru yang menuntut penarikan pasukan Sekutu dari Berlin Barat.[170]
Permintaan tersebut ditolak, dan pada tanggal 13 Agustus, Jerman Timur
mendirikan penghalang kawat berduri yang kemudian konstruksinya
diperluas hingga kelak membentuk Tembok Berlin, yang secara efektif menutup "celah" antara kedua wilayah tersebut.[171]
Krisis Rudal Kuba dan penggulingan Khrushchev
Kapal P-2 milik Angkatan Laut Amerika Serikat terbang di atas sebuah kapal barang Soviet selama Krisis Rudal Kuba.
Setelah Invasi Teluk Babi, Kennedy terus mencari cara untuk menggulingkan Castro, Kennedy dan pemerintahannya bereksperimen secara diam-diam dengan memfasilitasi penggulingan pemerintahan Kuba. Harapan yang signifikan disematkan pada sebuah program rahasia bernama Proyek Kuba, yang dirancang di bawah pemerintahan Kennedy pada tahun 1961.
Pada bulan Februari 1962, Khrushchev mengetahui rencana Amerika
terhadap Kuba: "proyek Kuba" — disetujui oleh CIA dan menetapkan
penggulingan pemerintah Kuba pada bulan Oktober, kemungkinan melibatkan
militer Amerika — dan Kennedy mungkin memerintahkan operasi pembunuhan
terhadap Castro.[172] Sebagai respon, Soviet mempersiapkan pemasangan rudal nuklirnya di Kuba.[172]
Khawatir, Kennedy memutuskan berbagai reaksi untuk menanggapinya, dan
akhirnya menanggapi instalasi rudal nuklir Soviet di Kuba dengan
melakukan blokade laut dan memberikan ultimatum kepada Soviet.
Khrushchev mundur dari konfrontasi, dan Uni Soviet membongkar rudalnya
dengan imbalan janji Amerika agar tidak lagi menyerang Kuba.[173]
Krisis Rudal Kuba (Oktober-November 1962) membawa dunia lebih dekat ke arah perang nuklir daripada sebelumnya.[174] Lebih lanjut, peristiwa tersebut juga menunjukkan konsep saling meyakinkan akan bahaya kehancuran, bahwa negara adidaya tidak siap untuk menggunakan senjata nuklir mereka, takut akan adanya kehancuran global total karena saling balas dendam.[175] Dampak dari krisis ini menyebabkan dilakukannya upaya pertama dalam membatasi perlombaan senjata nuklir dengan pelucutan senjata dan perbaikan hubungan,[117] meskipun upaya-upaya untuk mencegah meletusnya perang nuklir telah ditetapkan sejak tahun 1961 melalui Perjanjian Antartika.[176]
Tahun 1964, rekan Kremlin Khrushchev berhasil menggulingkannya, namun tetap mengijinkannya untuk pensiun dengan damai.[177]
Khrushchev dituduh memerintah dengan kasar dan inkompetensi, dia juga
dianggap telah menghancurkan sektor pertanian Soviet dan membawa dunia
ke ambang perang nuklir.[177]
Khrushchev juga dikatakan telah mempermalukan dunia komunis ketika ia
meresmikan pembangunan Tembok Berlin, yang dianggap sebagai sebuah
penghinaan publik untuk Marxisme-Leninisme.[177]
Konfrontasi melalui détente (1962–1979)
Kekuatan pasukan NATO dan Pakta Warsawa di Eropa tahun 1973.
Amerika Serikat mendarat untuk pertama kalinya di bulan pada tahun 1969—puncak dari perlombaan angkasa.
F-4 Phantom II milik US Navy menyadap pesawat Tupolev Tu-95 D Soviet pada awal 1970-an.
Pada periode 1960-an dan 1970-an, peserta Perang Dingin berjuang untuk menyesuaikan diri dengan pola baru hubungan internasional yang lebih rumit, dunia tidak lagi dibagi menjadi dua blok besar yang bertentangan.[70] Dari awal periode pasca-perang, Eropa Barat dan Jepang
dengan cepat pulih dari kehancuran Perang Dunia II dan mulai mengalami
pertumbuhan ekonomi yang kuat sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an,
dengan PDB per kapita yang hampir mendekati Amerika Serikat, sedangkan perekonomian Blok Timur mengalami stagnasi.[70][178]
Sebagai akibat dari krisis minyak 1973, dikombinasikan dengan semakin kuatnya pengaruh Dunia Ketiga dengan mendirikan organisasi-organisasi seperti Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Gerakan Non-Blok,
negara-negara Dunia Ketiga memiliki lebih banyak ruang untuk
memproklamirkan kemerdekaan mereka dan semakin menunjukkan bahwa mereka
tahan banting terhadap tekanan dari negara adidaya.[98] Sementara itu, Soviet dipaksa untuk mengalihkan perhatiannya pada isu-isu internal seperti permasalahan ekonomi di dalam negeri.[70] Selama periode ini, pemimpin Soviet seperti Leonid Brezhnev dan Alexei Kosygin mulai menerapkan pendekatan détente.[70]
Pengunduran diri Perancis dari NATO
Keberlangsungan NATO sudah menghadapi tantangan pada awal sejarahnya, krisis terjadi selama kepemimpinan Charles de Gaulle dari Perancis pada tahun 1958 dan seterusnya. De Gaulle protes mengenai kuatnya peran Amerika Serikat dalam organisasi dan cemburu atas "hubungan istimewa" antara Amerika Serikat dan Britania Raya. Dalam sebuah memo yang dikirimkan pada Presiden Dwight D. Eisenhower dan Perdana Menteri Harold Macmillan
pada tanggal 17 September 1958, ia berpendapat untuk membentuk tiga
serangkai direktorat yang akan memposisikan Perancis pada kedudukan yang
sama dengan Amerika Serikat dan Britania Raya, dan juga perluasan
cakupan NATO ke wilayah geografis yang memiliki kepentingan dengan
Perancis, seperti Aljazair Perancis, yang pemberontakannya di dukung oleh Perancis.[179]
Karena respon yang diberikan tidak memuaskan, de Gaulle mulai mengembangkan penangkal nuklir
Perancis secara independen dan pada tahun 1966, Perancis mengundurkan
diri dari NATO, diikuti dengan pengusiran semua pasukan NATO dari
daratan Perancis.[180]
Invasi Cekoslowakia
Pada tahun 1968, periode liberalisasi politik di Cekoslowakia, yang dijuluki dengan Musim Semi Praha, berlangsung dengan berbagai aksi, di antaranya "Program Aksi"
liberalisasi, yang menuntut perluasan kebebasan pers, kebebasan
berbicara dan kebebasan bergerak, juga penekanan ekonomi pada
barang-barang konsumsi, kemungkinan sistem multi partai, membatasi
kekuasaan polisi rahasia,[181][182] dan kemungkinan Cekoslowakia untuk menarik diri dari Pakta Warsawa.[183]
Sebagai jawaban atas aksi Musim Semi Praha, tentara Soviet bersama dengan sebagian besar sekutu Pakta Waesawa mereka, menyerbu Cekoslowakia.[184]
Invasi ini diikuti oleh gelombang emigrasi, sekitar 70.000 warga Ceko
dan Slowakia melarikan diri, dan total akhirnya mencapai 300.000 jiwa.[185] Invasi ini memicu protes keras dari Yugoslavia, Rumania, Cina, dan juga dari partai-partai komunis di Eropa Barat.[186]
Doktrin Brezhnev
Leonid Brezhnev dan Richard Nixon selama kunjungan Brezhnev ke Washington pada Juni 1973; kunjungan ini adalah permulaan détente antara Amerika Serikat dan Soviet.
Pada bulan September 1968, dalam pidatonya di Kongres Kelima Partai Persatuan Pekerja Polandia, sebulan setelah menginvasi Cekoslowakia, Brezhnev menyampaikan Doktrin Brezhnev;
yang mengklaim bahwa "hak kami untuk melanggar kedaulatan negara
manapun jika ada yang berupaya untuk menggantikan Marxisme-Leninisme
dengan kapitalisme". Dalam pidatonya, Brezhnev menyatakan:[183]
| “ | Ketika kekuatan yang memusuhi sosialisme mencoba untuk mengubah haluan beberapa negara sosialis menuju kapitalisme, itu bukan hanya menjadi masalah bagi negara yang bersangkutan, namun masalah umum dan kepedulian dari semua negara-negara sosialis. | ” |
Doktrin tersebut dilatarbelakangi oleh kegagalan Marxisme-Leninisme
dalam meningkatkan kesejahteraan di negara-negara seperti Polandia, Hongaria
dan Jerman Timur, yang mengalami penurunan standar hidup yang kontras
dengan kemakmuran Jerman Barat dan negara Eropa Barat lainnya.[187]
Krisis di Dunia Ketiga
Alexei Kosygin (kiri) di samping Presiden AS Lyndon B. Johnson (kanan) dalam Konferensi Tingkat Tinggi Glassboro.
Pada akhir April 1965, Presiden Lyndon B. Johnson mendaratkan 22.000 tentaranya di Republik Dominika dan kemudian mendudukinya selama satu tahun melalui invasi yang diberi kode Operasi Power Pack. Operasi ini dilakukan untuk membendung ancaman menyebarnya revolusi bergaya Kuba di Amerika Latin.[16] Pemilihan presiden diselenggarakan pada tahun 1966, yang menghasilkan kemenangan bagi konservatif Joaquín Balaguer.
Meskipun Balaguer mendapat dukungan dari sektor-sektor elit dan
kelompok petani, lawan politiknya dari partai PRD, mantan presiden Juan Bosch, tidak aktif berkampanye.[188] Aktivis PRD dilumpuhkan dengan kekerasan oleh polisi Dominika dan angkatan bersenjata.[188]
Di Indonesia, anti-komunis garis keras Jenderal Soeharto meraih kendali pemerintahan dari pendahulunya, Soekarno, dan kemudian mulai membangun "Orde Baru". Dari tahun 1965 sampai 1966, militer Indonesia melakukan pembunuhan massal terhadap sekitar setengah juta anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia serta organisasi-organisasi sayap kiri lainnya.[189]
Meningkatnya konflik yang sedang berlangsung antara pemimpin Vietnam Selatan Ngô Đình Diệm dengan komunis Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam Selatan
(NLF) membuat Johnson mengirimkan 575.000 tentara Amerika ke Asia
Tenggara untuk melumpuhkan NLF dan sekutu Vietnam Utara mereka dalam Perang Vietnam,
namun kebijakan ini memakan banyak biaya dan melemahkan perekonomian
AS, dan pada tahun 1975, krisis ini memuncak dengan kegagalan Amerika
Serikat. Dunia memandang peristiwa ini sebagai kekalahan memalukan bagi
sebuah negara adidaya yang paling kuat di tangan salah satu negara
termiskin dunia.[16]
Vietnam Utara menerima persetujuan Soviet untuk memulai perang pada
tahun 1959. Uni Soviet mengirimkan 15.000 penasihat militer dan bantuan
dana sebesar $ 450 juta kepada Vietnam Utara selama perang, sedangkan
Cina mengirimkan 320.000 tentara dan bantuan dana senilai $180 juta.[190]
Di Chili, kandidat Partai Sosialis Salvador Allende memenangkan pemilihan presiden tahun 1970, menjadi Marxis terpilih demokratis pertama yang menjadi presiden di negara-negara Amerika.[191] Jenderal Augusto Pinochet melakukan kudeta terhadap pemerintahan
pada tanggal 11 September 1973 dan dengan cepat mengambilalih semua
kekuasaan politik menjadi kediktatoran militer, tindakannya ini direstui
oleh AS. Reformasi Allende ekonomi diurungkan dan lawan sayap kiri
tewas atau ditahan di kamp-kamp interniran di bawah arahan dari Dirección de Inteligencia Nacional (DINA).
Henry Kissinger, Penasihat Keamanan Nasional dan Sekretaris Negara Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Nixon dan Ford, merupakan salah satu tokoh kunci dalam Perang Dingin (1969-1977).
Sementara itu, Operasi Burung Kondor di Amerika Selatan — yang digunakan oleh para diktator di Argentina, Brasil, Bolivia, Chili, Uruguay, dan Paraguay
untuk menekan perbedaan pendapat dengan sayap kiri — juga mendapat
dukungan dari Amerika Serikat, dan (kadang-kadang akurat) diperkirakan
juga terdapat Kuba atau Soviet di belakang gerakan oposisi tersebut.[192]
Amerika Serikat juga tidak senang saat Jamaika mulai menjalin hubungan yang lebih erat dengan pemerintah Kuba setelah pemilihan Michael Manley pada tahun 1972.[193] Amerika Serikat meresponnya dengan mendanai lawan-lawan politik Manley, mendorong pemberontakan dalam tubuh tentara Jamaika, dan menyewa tentara bayaran untuk menentang pemerintahan Manley.[153] Kekerasan pun terjadi.
Situasi di Timur Tengah terus menjadi sumber persengketaan. Mesir,
yang menerima banyak bantuan senjata dan bantuan ekonomi dari Uni
Soviet, adalah klien Soviet yang merepotkan. Dengan terpaksa, Uni Soviet
berkewajiban untuk membantu Mesir dalam Perang Enam Hari (dengan mengirimkan penasihat militer dan teknisi) dan Perang Atrisi (dengan mengirimkan pilot dan pesawat) untuk melawan Israel yang pro-Barat.[194] Di samping pembelotan Mesir, dari yang sebelumnya pro-Soviet menjadi pro-Amerika pada tahun 1972 (dibawah kepemimpinan Anwar El Sadat),[195] rumor mengenai intervensi Soviet dalam Perang Yom Kippur pada tahun 1973 menyebabkan terjadinya pengiriman tentara Amerika besar-besaran dan mengancam akan menghancurkan détente.[196]
Meskipun pada era pra-Sadat Mesir merupakan penerima bantuan terbesar
Soviet di Timur Tengah, Soviet juga sukses menjalin hubungan erat dengan
komunis di Yaman Selatan, serta pemerintahan nasionalis Aljazair dan Irak.[195] Soviet secara langsung memihak dan membantu Palestina dalam menghadapi konflik dengan Israel, termasuk dukungan untuk Yasser Arafat dan Organisasi Pembebasan Palestina.[197] Dari tahun 1973-1975, CIA berkolusi dengan pemerintah Iran untuk membiayai dan mempersenjatai pemberontak Kurdi dalam Perang Irak–Kurdi Kedua dengan tujuan untuk melumpuhkan pemimpin Irak Ahmed Hassan al-Bakr. Saat Iran dan Irak menandatangani Perjanjian Aljazair pada tahun 1975, dukungan untuk Iran pun juga turut berhenti.[198]
Seorang tentara Amerika dalam Perang Vietnam, 3 Agustus 1965.
Di Afrika, militer Somalia yang dipimpin oleh Mohamed Siad Barre melakukan kudeta tak berdarah pada tahun 1969 dan mendirikan Republik Demokratik Somalia yang berpaham sosialis. Uni Soviet berjanji untuk mendukung Somalia. Empat tahun kemudian, Kaisar Ethiopia Haile Selassie yang pro-Amerika digulingkan dalam kudeta tahun 1974 oleh kelompok Derg, sebuah kelompok militer radikal pro-Soviet yang dipimpin oleh Mengistu Haile Mariam. Mariem menjalin hubungan dengan Kuba dan Soviet.[199] Saat peperangan antara Somalia dan Ethiopia pecah pada tahun 1977-1978,
Barre kehilangan dukungan Soviet dan kemudian bersekutu dengan Amerika
Serikat. Tentara Kuba juga berperan dalam perang ini dengan memihak
Ethiopia.[199]
Revolusi Anyelir di Portugis pada tahun 1974 yang melawan keotoriteran Estado Novo membuat Portugis kembali ke sistem multi-partai dan sekaligus memfasilitasi kemerdekaan koloni Portugis di Angola dan Timor Timur. Di Afrika, pemberontak Angola mengobarkan perang kemerdekaan multi-faksi menentang kekuasaan Portugis sejak tahun 1961, setelah perang ini usai, perang dua dasawarsa menggantikan perang anti-kolonial, yang ditandai dengan peperangan antara komunis Gerakan Rakyat Pembebasan Angola (MPLA), yang didukung oleh Kuba dan Soviet, dengan Front Pembebasan Nasional Angola (FNLA), yang didukung oleh Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok, dan pemerintahan Mobutu di Zaire. AS, pemerintahan apartheid Afrika Selatan, dan beberapa negara Afrika lainnya juga mendukung faksi ketiga, Uni Nasional untuk Kemerdekaan Penuh Angola (UNITA). Tanpa berkonsultasi dengan Soviet, Kuba mengirimkan tentaranya untuk berjuang bersama MPLA.[199]
Pemerintah apartheid Afrika Selatan juga mengirimkan tentara untuk
membantu UNITA, namun MPLA berada di atas tangan karena didukung oleh
Kuba dan Soviet.[199]
Di Asia Tenggara, koloni Timor Timur secara sepihak memproklamasikan kemerdekaannya dari Portugis di bawah sayap kiri Fretilin pada bulan November 1975. Dengan dukungan dari Australia dan Amerika Serikat, Soeharto menginvasi Timor Timur pada bulan Desember — yang memulai pendudukan Indonesia di Timor Timur selama seperempat abad.[200]
Selama Perang Vietnam,
Vietnam Utara menginvasi dan menduduki sebagian Kamboja untuk digunakan
sebagai pangkalan militer, yang juga berperan dalam memicu pecahnya Perang Saudara Kamboja antara pemerintah pro-Amerika Lon Nol dan pemberontak Maoist Khmer Merah.
Dokumen yang ditemukan dari arsip Soviet mengungkapkan bahwa invasi
Vietnam Utara ke Kamboja pada tahun 1970 dilaksanakan atas permintaan
dari Khmer Merah setelah bernegosiasi dengan Nuon Chea.[201] AS dan Vietnam Selatan menanggapinya dengan melancarkan kampanye pemboman dan serangan darat, efek dari operasi ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan.[202] Di bawah kepemimpinan Pol Pot, Khmer Merah membantai 1-3 juta, dari 8,4 juta total penduduk Kamboja, di ladang pembantaian.[203][204][205] Sosiolog Martin Shaw menggambarkan kekejaman ini sebagai "genosida paling murni dari era Perang Dingin".[206] Vietnam menggulingkan Pol Pot pada tahun 1979 dan membentuk pemerintah boneka di bawah pimpinan Heng Samrin.
Perbaikan hubungan Cina-Amerika
Richard Nixon bertemu dengan Mao Zedong pada tahun 1972.
Sebagai akibat dari perpecahan Sino-Soviet, ketegangan yang berlangsung di sepanjang perbatasan Cina-Soviet mencapai puncaknya pada tahun 1969, dan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon
memutuskan untuk memanfaatkan konflik tersebut sebagai alat untuk
menggeser keseimbangan kekuasaan ke arah Barat dalam Perang Dingin.[207] Cina juga berusaha meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat dalam upayanya untuk mengambil keuntungan dari Soviet.
Pada bulan Februari 1972, Nixon mengumumkan pemulihan hubungan dengan Cina.[208] Ia melakukan kunjungan ke Beijing dan bertemu dengan Mao Zedong dan Zhou Enlai. Pada saat itu, sumber daya nuklir Uni Soviet telah setara dengan Amerika Serikat, Perang Vietnam juga telah melemahkan pengaruh Amerika di Dunia Ketiga dan mendinginkan hubungannya dengan Eropa Barat.[209]
Meskipun konflik tak langsung antara dua adidaya dalam Perang Dingin
terus berlanjut sampai akhir 1960-an dan awal 1970-an, ketegangan
perlahan-lahan mulai mereda.[117]
Nixon, Brezhnev, dan détente
Leonid Brezhnev dan Jimmy Carter menandatangani traktat SALT II, 18 Juni 1979 di Wina
Setelah kunjungannya ke Tiongkok, Nixon bertemu dengan para pemimpin Soviet, termasuk Brezhnev di Moskow.[210] Perundingan Pembatasan Senjata Strategis (SALT) antara kedua belah pihak menghasilkan dua kesepakatan mengenai pengawasan penggunaan senjata, yaitu SALT I, pakta pembatasan senjata komprehensif pertama yang ditandatangani oleh kedua negara adidaya,[211] dan Traktat Peluru Kendali Anti-Balistik,
yang mengatur mengenai pembatasan sistem peluru kendali anti-balistik
yang digunakan untuk mempertahankan wilayah terhadap senjata nuklir yang
dibawa misil. Ini bertujuan untuk membatasi pengembangan peluru kendali
anti-balistik dan rudal nuklir berbiaya mahal.[70]
Nixon dan Brezhnev mengumumkan era baru "hidup berdampingan secara damai" dan membangun pendekatan hubungan baru yang disebut détente
(peredaan ketegangan) antara dua negara adidaya. Sementara itu,
Brezhnev berusaha untuk memperbaiki kembali perekonomian Soviet yang
mengalami penurunan akibat besarnya pengeluaran militer.[16] Antara tahun 1972 dan 1974, kedua belah pihak juga sepakat untuk memperkuat hubungan ekonomi mereka,[16]
di antaranya dengan melakukan perjanjian dalam rangka peningkatan
aktivitas perdagangan. Sebagai hasil dari perundingan mereka, détente menggantikan era permusuhan dari Perang Dingin dan kedua negara bisa hidup secara berdampingan.[210]
Sementara itu, perkembangan hubungan AS dan Soviet juga bertepatan dengan "Ostpolitik" Kanselir Jerman Barat Willy Brandt.[186] Perjanjian lainnya yang disahkan untuk menstabilkan situasi di Eropa adalah Perjanjian Helsinki, yang ditandatangani dalam Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa pada tahun 1975.[212]
Memburuknya hubungan pada akhir 1970-an
Pada tahun 1970-an, KGB, yang dikepalai oleh Yuri Andropov, terus menekan kritikus-kritikus terkenal yang mengkritik kepemimpinan Soviet seperti Aleksandr Solzhenitsyn dan Andrei Sakharov.[213] Selama periode détente
ini, konflik tak langsung antara kedua negara adidaya masih terus
terjadi di Dunia Ketiga, khususnya dalam krisis politik di Timur Tengah,
Chili, Ethiopia, dan Angola.[214]
Presiden Jimmy Carter berusaha untuk menetapkan pembatasan perlombaan persenjataan lebih lanjut dengan mengesahkan SALT II pada tahun 1979,[215] namun upayanya ini dirusak oleh peristiwa lainnya pada tahun itu, yaitu Revolusi Iran yang didukung oleh KGB,[216] Revolusi Nikaragua untuk menggulingkan rezim pro-AS, dan yang paling membuat AS berang; intervensi Soviet dalam Perang Afganistan pada bulan Desember.[16]
"Perang Dingin Kedua" (1979-1985)
Istilah "Perang Dingin Kedua" merujuk pada periode peningkatan
kembali ketegangan Perang Dingin dan konflik antara kedua belah pihak
pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Ketegangan sangat meningkat antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet dan masing-masingnya menjadi lebih
ter-militeristik.[12]
Diggins mengungkapkan: "Reagan mengerahkan segalanya untuk berjuang
dalam 'Perang Dingin Kedua' dengan mendukung kontra-pemberontakan di
Dunia Ketiga."[217] Sementara Cox menyatakan: "Intensitas 'Perang Dingin Kedua' sehebat durasinya yang singkat."[218]
Perang Soviet-Afganistan
Presiden Reagan menunjukkan dukungannya dalam pertemuan dengan para pemimpin Mujahidin Afganistan di Gedung Putih, 1983.
Tentara Soviet di Afganistan.
Pada bulan April 1978, Partai Demokrasi Rakyat Afganistan (PDPA) yang berhaluan komunis merebut kekuasaan atas Afganistan melalui Revolusi Saur.
Dalam hitungan bulan, penentang pemerintahan komunis melancarkan
pemberontakan di Afganistan timur, yang dengan cepat berkembang menjadi perang saudara antara gerilyawan mujahidin melawan tentara pemerintah. Pemerintah Pakistan
memfasilitasi para pemberontak dengan pusat-pusat pelatihan rahasia,
sedangkan Uni Soviet mengirim ribuan penasihat militer untuk mendukung
pemerintahan PDPA.[219] Sementara itu, meningkatnya gesekan antara faksi-faksi yang bersaing di PDPA – faksi Khalq yang dominan dan Parcham
yang lebih moderat – menyebabkan pemberhentian anggota kabinet dan
penangkapan perwira militer Parchami dengan dalih kudeta terhadap
Parchami. Pada pertengahan 1979, Amerika Serikat memulai sebuah program
rahasia untuk membantu mujahidin.[220]
Bulan September 1979, Presiden Khalqist Nur Muhammad Taraki dibunuh dalam sebuah kudeta PDPA yang diatur oleh rekannya sesama anggota Khalq bernama Hafizullah Amin,
yang kemudian menjadi presiden. Amin dibunuh oleh pasukan khusus Soviet
pada bulan Desember 1979. Setelah kematiannya, sebuah pemerintahan yang
diorganisir oleh Soviet, di bawah pimpinan Babrak Karmal,
mengisi kekosongan kekuasaan. Pasukan Soviet dikerahkan untuk
menstabilkan Afganistan di bawah pemerintahan Karmal, yang telah menjadi
boneka Soviet. Akibatnya, Soviet terlibat langsung dalam apa yang
kemudian menjadi perang domestik di Afganistan.[221]
Carter menanggapi intervensi Soviet di Afganistan dengan cara menarik kembali perjanjian SALT II dari Senat,
melakukan embargo dalam pengiriman gandum dan barang-barang teknologi
pada Uni Soviet, serta meningkatkan pengeluaran militer. Amerika Serikat
juga melakukan pemboikotan terhadap Olimpiade Moskow 1980. Carter menyatakan bahwa tindakan Soviet merupakan "ancaman yang paling serius terhadap perdamaian selama Perang Dingin Kedua".[222]
Reagan dan Thatcher
Pada bulan Januari 1977, empat tahun sebelum menjadi presiden, Ronald Reagan mengungkapkan dalam percakapannya dengan Richard V. Allen,
mengenai harapan dasarnya terkait dengan Perang Dingin: "Ide saya
mengenai kebijakan Amerika terhadap Uni Soviet sederhana, dan beberapa
orang akan menyebutnya sangat sederhana, yaitu: Kita menang dan mereka
kalah. Bagaimana menurut Anda?".[223] Tahun 1980, Ronald Reagan mengalahkan Jimmy Carter dalam pemilu presiden 1980. Setelah kemenangannya, ia bersumpah akan meningkatkan anggaran militer dan menghadapi Soviet dimanapun.[224] Baik Reagan maupun Perdana Menteri Britania Raya yang baru, Margaret Thatcher,
sama-sama mengecam Uni Soviet dan ideologinya. Reagan menyebut Uni
Soviet sebagai sebuah "kekaisaran jahat" dan meramalkan bahwa komunisme akan hancur menjadi "tumpukan abu sejarah".[225]
Meskipun sentimen anti-Amerika di Iran setelah Revolusi Iran meningkat, pemerintahan Reagan tetap mengulurkan tangan kepada pemerintah anti-komunis Ayatollah Khomeini dalam upayanya untuk merekrut teokrasi bagi Amerika pada tahun 1980-an. Direktur CIA William Casey
menggambarkan pemerintahan Khomeini sebagai pemerintahan yang "goyah
dan [mungkin] dalam pergerakan ke arah kebenaran... AS hampir tidak
memiliki kartu untuk dimainkan; sementara Uni Soviet memiliki banyak
kartu."[226]
Salah satu metode yang dilakukan Amerika untuk mendukung Iran adalah
dengan penjualan senjata secara rahasia. Pada tahun 1983, CIA merilis
daftar panjang komunis Iran dan aktivis sayap kiri lainnya yang
dicurigai bekerja dalam pemerintahan Khomeini.[227]
Sebuah komisi khusus kemudian melaporkan bahwa daftar itu disusun untuk
mengambil "langkah-langkah, termasuk eksekusi massal, untuk
mengeliminasi semua infrastruktur pro-Soviet di Iran."[227]
Pada awal 1985, prinsip anti-komunis Reagan telah berkembang menjadi sikap yang dikenal sebagai Doktrin Reagan — yang mana, selain penahanan, juga dirumuskan hak tambahan untuk menumbangkan pemerintahan komunis yang ada.[228]
Selain melanjutkan kebijakan Carter yang mendukung penentang Islam
dalam melawan Soviet dan PDPA di Afganistan, CIA juga berusaha
melemahkan Uni Soviet dengan cara mempromosikan politik Islam di mayoritas Islam Soviet Asia Tengah.[229]
Di samping itu, CIA mendorong anti-komunis ISI di Pakistan agar
bersedia melatih Muslim dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam jihad melawan Uni Soviet.[229] A
Gerakan solidaritas dan darurat militer di Polandia
Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke negara kelahirannya, Polandia, pada tahun 1979 telah mendorong kebangkitan spiritual dan nasionalis yang memicu lahirnya gerakan solidaritas dan semangat anti-komunisme. Hal ini diperkirakan merupakan penyebab dilakukannya upaya pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II dua tahun kemudian.[230]
Pada bulan Desember 1981, Wojciech Jaruzelski bereaksi terhadap krisis di Polandia dengan memberlakukan masa darurat militer. Untuk menanggapinya, Reagan memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Polandia.[231] Mikhail Suslov,
ideolog top di Kremlin, menyarankan agar pemimpin Soviet tidak campur
tangan jika Polandia jatuh di bawah kendali gerakan Solidaritas, karena
takut hal itu akan menimbulkan sanksi ekonomi yang lebih berat lagi,
yang berarti akan menjadi malapetaka bagi perekonomian Soviet.[231]
Isu ekonomi dan militer Soviet dan AS
Perbandingan stok senjata nuklir AS dan Soviet/Rusia, 1945–2006
Delta 183 diluncurkan, membawa sensor eksperimen Strategi Inisiatif Pertahanan "Delta Star".
Moskow telah membangun sumber daya militer yang menghabiskan 25
persen dari produk nasional bruto Uni Soviet, dengan mengorbankan
barang-barang konsumsi dan investasi di sektor sipil.[232] Pengeluaran Soviet untuk perlombaan senjata dan kompetisi Perang Dingin lainnya semakin diperparah oleh masalah struktural dalam sistem perekonomian Soviet,[233] yang mengalami stagnasi ekonomi selama satu dekade dalam tahun-tahun terakhir pemerintahan Brezhnev.
Pemboikotan Olimpiade Moskow 1980 (biru) dan Olimpiade Los Angeles 1984 (merah).
Investasi Soviet dalam sektor pertahanan tidak didorong oleh
kepentingan militer, namun sebagian besar untuk mendukung kepentingan
partai-partai besar dan birokrasi negara, yang bergantung pada sektor
militer untuk mendukung kekuasaan dan hak istimewa mereka.[234] Militer Uni Soviet
merupakan militer terbesar di dunia dalam hal jumlah dan jenis senjata,
jumlah tentara, dan jumlah pangkalan militer yang mereka miliki.[235]
Namun, keuntungan kuantitatif yang dipegang oleh militer Soviet
seringkali dirahasiakan keberadaannya, sehingga Blok Timur secara
dramatis tertinggal oleh Barat.[236]
Setelah seorang anak Amerika berusia sepuluh tahun bernama Samantha Smith mengirimkan surat kepada Yuri Andropov, yang mengungkapkan ketakutannya atas perang nuklir, Andropov mengundang Smith ke Uni Soviet.
Pada awal 1980-an, Uni Soviet telah membangun persenjataan dan
pasukan militer yang melebihi Amerika Serikat. Segera setelah Soviet
menginvasi Afganistan, Presiden Carter memulai pembangunan besar-besaran
militer Amerika Serikat. Upaya ini semakin diintensifkan oleh
pemerintahan Reagan, yang meningkatkan pengeluaran militer dari 5,3 persen/total GNP pada tahun 1981 menjadi 6,5 persen pada tahun 1986,[237] jumlah anggaran militer terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.[238]
Ketegangan terus meningkat pada awal 1980-an ketika Reagan mengaktifkan kembali program B-1 Lancer yang sebelumnya dibatalkan oleh pemerintahan Carter, memproduksi LGM-118 Peacekeeper,[239] menginstal rudal jelajah AS di Eropa, dan mengumumkan program eksperimental Strategi Inisiatif Pertahanan,
yang dijuluki "Star Wars" oleh media, yaitu program pertahanan untuk
menembak jatuh rudal musuh di tengah-tengah penerbangannya.[240]
Dilatarbelakangi oleh meningkatnya ketegangan antara Soviet dan Amerika Serikat, serta dipasangnya rudal balistik RSD-10 Pioneer milik Soviet yang mengarah ke Eropa Barat, NATO memutuskan – di bawah dorongan dari Presiden Carter – untuk menginstal rudal jelajah dan MGM-31 Pershing milik Amerika Serikat di Eropa, terutama di Jerman Barat.[241] Rudal-rudal ini ditempatkan dengan jarak mencolok, hanya berjarak 10 menit dari Moskow.[242]
Setelah pembangunan militer Reagan selesai, Soviet tidak
menanggapinya dengan mengembangkan sumber daya militernya lebih besar
lagi karena pengeluaran militer Soviet sudah sangat besar.[243] Besarnya anggaran militer Soviet mengakibatkan tidak efisiennya pembangunan dalam sektor manufaktur dan pertanian, yang akhirnya menjadi beban berat bagi perekonomian Soviet.[244] Di saat yang bersamaan, produksi minyak di Arab Saudi meningkat,[245] bahkan produksi minyak di negara-negara non-OPEC juga meningkat pada periode tersebut, termasuk Soviet.[246] Perkembangan ini memberikan kontribusi terhadap fenomena banjir minyak 1980-an yang mempengaruhi Uni Soviet. Minyak mulai menjadi sumber utama pendapatan ekspor Soviet.[232][244] Namun, permasalahan perekonomian komando,[247] turunnya harga minyak, dan pengeluaran militer yang tetap besar secara bertahap membawa perekonomian Soviet menuju stagnasi.[244]
Pada tanggal 1 September 1983, Uni Soviet menembak jatuh Korean Air Penerbangan 007, pesawat Boeing 747 yang mengangkut 269 penumpang, termasuk anggota Kongres Larry McDonald. Pesawat itu ditembak karena melanggar wilayah udara Soviet dengan melewati pantai barat Pulau Sakhalin, di dekat Kepulauan Moneron —tindakan
yang oleh Reagan dianggap sebagai "pembantaian". Tindakan Soviet ini
semakin meningkatkan dukungan bagi AS supaya segera menerjukan
militernya.[248] NATO mengadakan latihan militer Able Archer 83
pada bulan November 1983, yang merupakan simulasi peluncuran nuklir
secara nyata. Peristiwa ini disebut-sebut sebagai saat yang paling
berbahaya bagi dunia sejak Krisis Rudal Kuba
pada tahun 1962. Setelah pemimpin Soviet memahami maksud dari latihan
militer tersebut, maka diputuskan bahwa perang nuklir semakin dekat.[249]
Ketidaksetujuan publik AS mengenai campur tangan AS dalam konflik negara lain sudah berlangsung sejak akhir Perang Vietnam.[250] Pemerintahan Reagan menekankan taktik kontra-pemberontakan dan penyelesaian cepat dalam mencampuri konflik asing.[250] Pada tahun 1983, pemerintahan Reagan ikut campur tangan dalam Perang Saudara Lebanon, menginvasi Grenada, membom Libya, dan mendukung gerakan Contras di Amerika Tengah – paramiliter anti-komunis yang berusaha menggulingkan pemerintahan pro-Soviet Sandinista di Nikaragua.[98] Intervensi Reagan terhadap Grenada dan Libya mendapat dukungan dari publik AS, namun dukungannya pada Contra mengundang kontroversi.[251]
Sementara itu, Soviet sendiri mengeluarkan biaya tinggi dalam
memfasilitasi intervensi mereka terhadap asing. Meskipun Brezhnev
meyakini pada tahun 1979 bahwa Perang Soviet-Afganistan akan berlangsung singkat, gerilyawan Muslim, yang dibantu oleh AS dan negara-negara lainnya, mengobarkan perlawanan sengit terhadap invasi tersebut.[252]
Kremlin mengirimkan hampir 100.000 tentara untuk mendukung rezim boneka
di Afganistan, yang dijuluki oleh para pengamat luar dengan "perang
'Vietnam'-nya Soviet".[252]
Namun, dampak perang Afganistan ini jauh lebih parah bagi Soviet
ketimbang dampak Perang Vietnam bagi Amerika Serikat, karena konflik ini
juga bertepatan dengan periode kekacauan dan krisis internal dalam
birokrasi dan perekonomian Soviet.[253]
Seorang pejabat senior di Departemen Luar Negeri AS
memprediksikan pada awal 1980-an, ia menyatakan bahwa "invasi yang
mengakibatkan krisis dalam negeri bagi Soviet... mungkin itu adalah
hukum termodinamika entropi...
yang terjebak dengan sistem Soviet, yang sekarang tampaknya lebih
banyak mengeluarkan energi untuk menjaga keseimbangannya ketimbang untuk
memperbaikinya. Kita bisa melihat periode kebangkitan asing pada saat
mengalami keruntuhan internal".[254][255]
Tahun-tahun terakhir (1985–1991)
Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan menandatangani Traktat INF di Gedung Putih, 1987
Penarikan diri Soviet dari Afganistan pada tahun 1988.
Reformasi Gorbachev
Pada saat Mikhail Gorbachev, yang relatif masih muda, menjadi Sekretaris Jenderal pada tahun 1985,[225]
perekonomian Soviet sedang stagnan dan mengalami penurunan tajam dalam
penerimaan mata uang asing akibat turunnya harga minyak dunia pada tahun
1980-an.[256] Masalah ini memaksa Gorbachev untuk mengambil langkah-langkah guna membangkitkan kembali keterpurukan Soviet.[256]
Gorbachev menyatakan bahwa untuk membangkitkan kembali Soviet,
diperlukan perubahan yang mendalam dalam struktural Soviet. Pada bulan
Juni 1987, Gorbachev mengumumkan agenda reformasinya yang disebut perestroika atau restrukturisasi.[257] Perestroika memungkinkan lebih efektifnya sistem kuota produksi, kepemilikan swasta atas bisnis dan juga membuka jalan bagi investor
asing. Langkah ini dimaksudkan untuk mengarahkan sumber daya negara
dari pembiayaan militer yang mahal untuk menunjang Perang Dingin ke
pengembangan sektor sipil yang lebih produktif.[257]
Meskipun muncul skeptisisme dari negara-negara Barat, pemimpin Soviet
yang baru ini terbukti berkomitmen untuk memperbaiki kondisi
perekonomian Soviet yang buruk, bukannya melanjutkan perlombaan senjata
dengan Barat.[117][258] Untuk melawan penentang reformasinya yang berasal dari internal partai, Gorbachev secara bersamaan memperkenalkan glasnost, atau keterbukaan. Kebijakan ini memungkinkan meningkatnya kebebasan pers dan transparansi lembaga-lembaga negara.[259] Glasnost dimaksudkan untuk mengurangi korupsi dalam tubuh Partai Komunis dan memoderasi penyalahgunaan kekuasaan di Komite Sentral.[260] Glasnost juga memungkinkan meningkatnya kontak antara warga Soviet dan Dunia barat, khususnya dengan Amerika Serikat, yang memberikan kontribusi bagi peningkatan détente antara kedua negara.[261]
Perbaikan hubungan
Menanggapi konsesi politik dan militer Kremlin
yang baru, Reagan setuju untuk mengadakan kembali perundingan dengan
Soviet terkait dengan isu-isu ekonomi dan perlombaan senjata.[262] Perundingan pertama diadakan pada bulan November 1985 di Jenewa, Swiss.[262]
Dalam perundingan tersebut, kedua pemimpin negara, disertai oleh
seorang penerjemah, sepakat untuk mengurangi persenjataan nuklir di
masing-masing negara sebesar 50 persen.[263] Perundingan kedua, Konferensi Tingkat Tinggi Reykjavík, diselenggarakan di Islandia.
Perundingan tersebut berjalan lancar hingga pembicaraan bergeser ke
arah Strategi Inisiatif Pertahanan Reagan yang ingin dieliminasi oleh
Gorbachev, namun Reagan menolaknya.[264]
Negosiasi akhirnya gagal, namun dalam perundingan ketiga pada tahun
1987, kedua belah pihak berhasil menghasilkan terobosan dengan
ditandatanganinya Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah
(INF). Traktat ini menghapuskan keberadaan semua senjata nuklir, rudal
balistik, dan rudal jelajah di kedua belah pihak dengan jarak antara 500
dan 5.500 kilometer beserta infrastrukturnya.[265]
Ketegangan antara Timur dengan Barat mereda dengan cepat pada
pertengahan 1980-an. Tahun 1989, bertempat di Moskow, Gorbachev dan
pengganti Reagan, George H. W. Bush, menandatangani perjanjian START I, yang mengakhiri perlombaan senjata antar kedua negara.[266]
Selama tahun-tahun berikutnya, Soviet dihadapkan pada keruntuhan
perekonomian yang diakibatkan oleh turunnya harga minyak dunia dan
besarnya pembiayaan militer.[267] Selain itu, penempatan militer di negara sekutunya diakui tidak relevan lagi bagi Soviet, dan pada tahun 1987, Soviet secara resmi mengumumkan kalau ia tidak akan ikut campur lagi dalam urusan dalam negeri negara-negara sekutunya di Eropa Timur.[268]
Tahun 1989, pasukan Soviet mundur dari Afganistan,[269] dan setahun kemudian Gorbachev menyetujui reunifikasi Jerman,[267] satu-satunya alternatif untuk menanggapi skenario Tianmen.[270] Ketika Tembok Berlin runtuh, konsep "Common European Home" yang dicetuskan oleh Gorbachev mulai terbentuk.[271]
Pada tanggal 3 Desember 1989, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Malta, Gorbachev dan George H. W. Bush secara resmi menyatakan bahwa Perang Dingin sudah berakhir.[272] Setahun kemudian, dua negara tersebut bermitra dalam Perang Teluk melawan Irak.[273]
Goyahnya sistem Soviet
Runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989.
Pada tahun 1989, sistem aliansi Soviet berada di ambang keruntuhan.
Akibat hilangnya dukungan militer dari Soviet, satu-persatu para
pemimpin negara-negara komunis Pakta Warsawa juga kehilangan kekuasaan.[269] Di Uni Soviet sendiri, kebijakan glasnost melemahkan ikatan yang selama ini menyatukan Soviet.[268] Bulan Februari 1990, dengan semakin memuncaknya isu pembubaran Uni Soviet, para pemimpin Partai Komunis terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaannya yang telah bertahan selama 73 tahun.[274]
Pada saat yang sama, isu kemerdekaan yang dipicu oleh glasnost semakin mendorong negara-negara Soviet untuk memisahkan diri dari Moskow. Negara-negara Baltik mulai menarik diri dari Soviet sepenuhnya.[275] Gelombang revolusi damai 1989 yang melanda Eropa Tengah
dan Eropa Timur meruntuhkan kedigjayaan komunisme Soviet di
negara-negara seperti Polandia, Hongaria, Cekoslowakia dan Bulgaria.[276]
Rumania menjadi satu-satunya negara Blok Timur yang menggulingkan
kekuasaan komunis secara keras dengan mengeksekusi kepala negaranya.[277]
Pembubaran Uni Soviet
Persemakmuran Negara-Negara Merdeka, akhir resmi dari Uni Soviet
Sikap permisif Gorbachev terhadap Eropa Timur awalnya tidak meluas ke
wilayah Soviet, bahkan Bush, yang berjuang untuk mempertahankan
hubungan persahabatan dengan Soviet, mengutuk pembunuhan pada bulan
Januari 1991 di Latvia dan Lituania. Bush memperingatkan bahwa hubungan ekonomi akan dibekukan jika kekerasan terus terjadi.[278] Uni Soviet secara fatal dilemahkan oleh kudeta yang gagal pada tahun 1991 dan meningkatnya jumlah republikan Soviet, khususnya di Rusia, yang mengancam akan memisahkan diri dari Uni Soviet. Persemakmuran Negara-Negara Merdeka,
yang didirikan pada tanggal 21 Desember 1991, dipandang sebagai entitas
penerus Uni Soviet, namun, menurut para pemimpin Rusia, tujuannya
adalah untuk "memungkinkan perpisahan secara beradab" antara
republik-republik Soviet dan juga sebanding dengan kelonggaran
konfederasi.[279] Uni Soviet secara resmi dibubarkan pada tanggal 25 Desember 1991.[280]
Dampak
NATO telah memperluas cakupannya ke negara-negara bekas Pakta Warsawa dan bekas Uni Soviet sejak berakhirnya Perang Dingin.
Setelah Perang Dingin, Rusia
sebagai ahli waris utama Uni Soviet memotong pengeluaran militer secara
drastis. Restrukturisasi ekonomi menyebabkan jutaan warga di seluruh
Uni Soviet menganggur.[281]
Sedangkan reformasi kapitalis mengakibatkan terjadinya resesi parah,
lebih parah daripada yang dialami oleh AS dan Jerman selama Depresi Besar.[282]
Setelah berakhir, Perang Dingin masih terus mempengaruhi dunia.[12] Setelah pembubaran Uni Soviet, dunia pasca-Perang Dingin secara luas dianggap sebagai dunia yang unipolar, menyisakan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia.[283][284][285] Perang Dingin juga membantu mendefenisikan peran politik Amerika Serikat di dunia pasca-Perang Dunia II: pada tahun 1989 AS menjalin kerjasama militer dengan 50 negara dan memiliki 526.000[286] tentara di luar negeri yang tersebar di puluhan negara, dengan 326.000 terdapat di Eropa (dua pertiganya di Jerman Barat),[287] dan sekitar 130.000 terdapat di Asia (terutama di Jepang dan Korea Selatan).[286]
Perang Dingin juga menandai puncak pengembangan industri-militer,
terutama di Amerika Serikat, dan pendanaan militer secara besar-besaran.[288]
Pengembangan industri militer ini memiliki dampak besar terhadap negara
yang bersangkutan; membantu membentuk kehidupan kemasyarakatan,
kebijakan, dan hubungan luar negeri negara tersebut.[289]
Pengeluaran militer Amerika Serikat selama berlangsungnya Perang
Dingin diperkirakan sekitar $ 8 triliun, sedangkan hampir 100.000 orang
Amerika kehilangan nyawa mereka dalam Perang Korea dan Perang Vietnam.[290]
Sulit untuk memperkirakan jumlah korban dan kerugian dari pihak Soviet,
namun jika dilihat dari komparasi produk nasional bruto mereka, maka
biaya keuangan yang dikeluarkan oleh Soviet selama Perang Dingin jauh
lebih besar daripada yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat.[291]
Selain hilangnya nyawa warga sipil oleh para tentara tak berseragam, jutaan jiwa juga tewas dalam perang proksi antar kedua negara adidaya di berbagai belahan dunia, terutama di Asia Tenggara.[292]
Sebagian besar perang proksi dan bantuan untuk konflik-konflik lokal
turut berakhir seiring dengan usainya Perang Dingin. Perang
antar-negara, perang etnis, perang revolusi, serta jumlah pengungsi
menurun tajam pada tahun-tahun pasca-Perang Dingin.[293]
Di sisi lain, konflik-konflik antar-negara di Dunia Ketiga
tidak sepenuhnya terhapus pasca-Perang Dingin. Ketegangan ekonomi dan
sosial yang dulu dimanfaatkan sebagai "bahan bakar" Perang Dingin terus
berlangsung di Dunia Ketiga.[12]
Kegagalan kontrol negara di sejumlah wilayah yang dulunya dikuasai oleh
pemerintah komunis telah menghasilkan konflik sipil dan etnis baru,
terutama di negara-negara bekas Yugoslavia.[12] Berakhirnya Perang Dingin telah menghantarkan Eropa Timur pada era pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah negara demokrasi liberal, sedangkan di bagian lain dunia, seperti di Afganistan, kemerdekaan diikuti dengan kegagalan negara.[12]
Historiografi
Setelah istilah "Perang Dingin" dipopulerkan untuk merujuk pada
ketegangan antara AS-Soviet pasca-Perang Dunia II, penafsiran terhadap
asal usul konflik telah menjadi sumber perdebatan di kalangan sejarawan, ilmuwan politik, dan jurnalis.[294]
Secara khusus, sejarawan tidak sepakat mengenai siapa yang bertanggung
jawab atas kerusakan hubungan Soviet-AS setelah Perang Dunia II, dan
apakah konflik antara dua adidaya tersebut tak terelakkan atau bisa
dihindari.[295]
Para sejarawan juga tidak sepakat mengenai apa defenisi persisnya
Perang Dingin itu, apa-apa saja yang menjadi sumber-sumber konfliknya,
dan bagaimana untuk menguraikan pola aksi dan reaksi antara kedua belah
pihak.[12]
Meskipun penjelasan tentang asal usul dari konflik Perang Dingin
dalam diskusi akademik berlangsung dengan kompleks dan beragam, beberapa
sekolah umum menetapkan pemikiran pada subjek yang dapat
diidentifikasi. Sejarawan umumnya berpendapat bahwa terdapat tiga
pendekatan yang berbeda untuk mempelajari Perang Dingin, yaitu:
pendekatan "ortodoks", "revisionisme", dan "pasca-revisionisme".[288]
Pendekatan "ortodoks" menyatakan bahwa Uni Soviet dan ekspansinya ke Eropa Timur lah yang memicu berkobarnya Perang Dingin.[288]
Kalangan "revisionis" menganggap bahwa Amerika Serikat bertanggung
jawab atas kerusakan perdamaian pasca-Perang Dunia II karena berupaya
untuk mengkonfrontasi dan mengisolasi Uni Soviet sebelum akhir Perang
Dunia II.[288]
Sedangkan "pasca-revisionis" memandang Perang Dingin sebagai peristiwa
yang lebih bernuansa, dan berusaha untuk lebih menyeimbangkan mengenai
siapa pihak yang bertanggung jawab dalam Perang Dingin.[288] Kebanyakan historiografi mengenai Perang Dingin menggunakan dua atau keseluruhan pendekatan ini.[31]
Catatan kaki
- ^ Orwell, "You and the Atomic Bomb", Tribune October 19, 1945
- ^ Orwell, George, The Observer, March 10, 1946
- ^ Gaddis 2005, hlm. 54
- ^ Safire, William (October 1, 2006). "Islamofascism Anyone?". The New York Times (The New York Times Company). Diarsipkan dari aslinya tanggal October 22, 2006. Diakses December 25, 2008.
- ^ 'Bernard Baruch coins the term "Cold War"', history.com, April 16, 1947. Retrieved on July 2, 2008.
- ^ Strobe Talbott: The Great Experiment: The Story of Ancient Empires, Modern States, and the Quest for a Global Nation (2009) p.441 n.3; Lippmann's own book is Lippmann, Walter (1947). The Cold War. Harper. Diakses September 2, 2008.
- ^ a b Gaddis 1990, hlm. 57
- ^ Lee 1999, hlm. 57
- ^ Palmieri 1989, hlm. 62
- ^ Tucker 1992, hlm. 46
- ^ Tucker 1992, hlm. 47–8
- ^ a b c d e f g Halliday 2001, hlm. 2e
- ^ Tucker 1992, hlm. 74
- ^ Tucker 1992, hlm. 75
- ^ Tucker 1992, hlm. 98
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p LaFeber 1991, hlm. 194–197
- ^ Tim Tzouliadis. The Forsaken. The Penguin Press. ISBN 978-1-59420-168-4.
- ^ George C. Herring Jr., Aid to Russia, 1941–1946: Strategy, Diplomacy, the Origins of the Cold War (Columbia University Press, 1973).
- ^ Gaddis 1990, hlm. 151–153
- ^ a b c Gaddis 2005, hlm. 13–23
- ^ Gaddis 1990, hlm. 156
- ^ Gaddis 2005, hlm. 7
- ^ "Leaders mourn Soviet wartime dead", BBC News, May 9, 2005. Retrieved on July 2, 2008.
- ^ Gaddis 1990, hlm. 176
- ^ a b Plokhy 2010
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 21
- ^ Zubok 1996, hlm. 94
- ^ Gaddis 2005, hlm. 22
- ^ Bourantonis 1996, hlm. 130
- ^ Garthoff 1994, hlm. 401
- ^ a b c d e f g h i Byrd, Peter (2003). "Cold War (entire chapter)". In McLean, Iain; McMillan, Alistair. The concise Oxford dictionary of politics. Oxford University Press. ISBN 0-19-280276-3. Diakses June 16, 2008.
- ^ Alan Wood, p. 62
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 25–26
- ^ LaFeber 2002, hlm. 28
- ^ a b c Wettig 2008, hlm. 21
- ^ a b c Senn, Alfred Erich, Lithuania 1940 : revolution from above, Amsterdam, New York, Rodopi, 2007 ISBN 978-90-420-2225-6
- ^ Roberts 2006, hlm. 43
- ^ Roberts 2006, hlm. 55
- ^ Shirer 1990, hlm. 794
- ^ a b Schmitz, David F. (1999). "Cold War (1945–91): Causes [entire chapter]". In Whiteclay Chambers, John. The Oxford Companion to American Military History. Oxford University Press. ISBN 0-19-507198-0. Diakses June 16, 2008.
- ^ Wettig 2008, hlm. 96–100
- ^ van Dijk, Ruud, Encyclopedia of the Cold War, Volume 1, p. 200. Taylor & Francis, 2008. ISBN 0-415-97515-8
- ^ Grenville 2005, hlm. 370–71
- ^ Cook 2001, hlm. 17
- ^ Roht-Arriaza 1995, hlm. 83
- ^ Gaddis 2005, hlm. 40
- ^ a b c Gaddis 2005, hlm. 34
- ^ Gaddis 2005, hlm. 100
- ^ a b Fenton, Ben. "The secret strategy to launch attack on Red Army", telegraph.co.uk, October 1, 1998. Retrieved July 23, 2008.
- ^ British War Cabinet, Joint Planning Staff, Public Record Office, CAB 120/691/109040 / 002 (August 11, 1945). "Operation Unthinkable: 'Russia: Threat to Western Civilization'" (online photocopy). Department of History, Northeastern University. Diarsipkan dari aslinya tanggal July 6, 2008. Diakses June 28, 2008.
- ^ Schecter 2003, hlm. 152–154
- ^ Kydd 2005, hlm. 107
- ^ Gaddis 2005, hlm. 30
- ^ Morgan, Curtis F. "Southern Partnership: James F. Byrnes, Lucius D. Clay and Germany, 1945–1947". James F. Byrnes Institute. Diakses June 9, 2008.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 94
- ^ Harriman, Pamela C. (Winter 1987–1988). "Churchill and...Politics: The True Meaning of the Iron Curtain Speech". Winston Churchill Centre. Diarsipkan dari aslinya tanggal October 15, 2007. Diakses June 22, 2008.
- ^ Van Dijk, Rudd. The 1952 Stalin Note Debate: Myth or Missed Opportunity for German Reunification? Woodrow Wilson International Center for Scholars. Cold War International History Project, Working Paper 14, May 1996.
- ^ a b c Gaddis 2005, hlm. 32
- ^ Gaddis 2005, hlm. 27
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 28–29
- ^ Gaddis 2005, hlm. 38
- ^ Hahn 1993, hlm. 6
- ^ Higgs 2006, hlm. 137
- ^ Moschonas & Elliott 2002, hlm. 21
- ^ Andrew, Christopher; Mitrokhin, Vasili (2000). The Sword and the Shield: The Mitrokhin Archive and the Secret History of the KGB. Basic Books. hlm. 276.
- ^ Crocker, Hampson & Aall 2007, hlm. 55
- ^ a b Miller 2000, hlm. 16
- ^ Gaddis 1990, hlm. 186
- ^ "Pas de Pagaille!". Time. July 28, 1947. Diakses May 28, 2008.
- ^ a b c d e f g h i j k l Karabell 1999, hlm. 916
- ^ Gaddis 2005, hlm. 105–106
- ^ Wettig 2008, hlm. 86
- ^ Patterson 1997, hlm. 132
- ^ Miller 2000, hlm. 19
- ^ Gaddis 2005, hlm. 162
- ^ Cowley 1996, hlm. 157
- ^ a b Miller 2000, hlm. 13
- ^ a b Miller 2000, hlm. 18
- ^ Miller 2000, hlm. 31
- ^ Gaddis 2005, hlm. 33
- ^ Miller 2000, hlm. 65–70
- ^ Turner, Henry Ashby, The Two Germanies Since 1945: East and West, Yale University Press, 1987, ISBN 0-300-03865-8, page 29
- ^ Fritsch-Bournazel, Renata, Confronting the German Question: Germans on the East-West Divide, Berg Publishers, 1990, ISBN 0-85496-684-6, page 143
- ^ Miller 2000, hlm. 26
- ^ Miller 2000, hlm. 180–81
- ^ Turner 1987, hlm. 23
- ^ "Trizonia". Encyclopædia Britannica. 2011. Diakses May 7, 2011.
- ^ O'Neil, Patrick (1997). Post-communism and the Media in Eastern Europe. Routledge. hlm. 15–25. ISBN 0-7146-4765-9.
- ^ James Wood, p. 111
- ^ Puddington 2003, hlm. 131
- ^ a b Puddington 2003, hlm. 9
- ^ a b Puddington 2003, hlm. 7
- ^ Puddington 2003, hlm. 10
- ^ Cummings, Richard H. (2010). Radio free Europe's "Crusade for freedom" : rallying Americans behind Cold War broadcasting, 1950-1960. Jefferson, N.C.: McFarland & Co. ISBN 9780786444106.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 105
- ^ Gaddis 2005, hlm. 39
- ^ Gaddis 2005, hlm. 164
- ^ a b c Gaddis 2005, hlm. 212
- ^ Stokesbury, James L (1990). A Short History of the Korean War. New York: Harper Perennial. hlm. 14. ISBN 0-688-09513-5.
- ^ David Dallin, Soviet Foreign Policy After Stalin (J. B. Lippincott, 1961), p60.
- ^ Douglas J. Macdonald, “Communist Bloc Expansion in the Early Cold War,” International Security, Winter 1995-6, p180.
- ^ John Lewis Gaddis, We Know Now: Rethinking Cold War History (Oxford University Press, 1997), p71.
- ^ Sergei N. Goncharov, John W. Lewis and Xue Litai, Uncertain Partners: Stalin, Mao and the Korean War (Stanford University Press, 1993), p213
- ^ William Stueck, The Korean War: An International History (Princeton University Press, 1995), p69.
- ^ Malkasian 2001, hlm. 16
- ^ Fehrenbach, T. R., This Kind of War: The Classic Korean War History, Brasseys, 2001, ISBN 1-57488-334-8, page 305
- ^ Isby & Kamps 1985, hlm. 13–14
- ^ Cotton, James (1989). The Korean war in history. Manchester University Press ND. hlm. 100. ISBN 0-7190-2984-8.
- ^ Oberdorfer, Don, The Two Koreas: A Contemporary History, Basic Books, 2001, ISBN 0-465-05162-6, page 10-11
- ^ No, Kum-Sok and J. Roger Osterholm, A MiG-15 to Freedom: Memoir of the Wartime North Korean Defector who First Delivered the Secret Fighter Jet to the Americans in 1953, McFarland, 1996, ISBN 0-7864-0210-5
- ^ Hastings, Max (1988). The Korean War. New York: Simon & Schuster. hlm. 89–90. ISBN 0-671-66834-X.
- ^ Karabell, p. 916
- ^ Gaddis 2005, hlm. 107
- ^ "We Will Bury You!", Time magazine, November 26, 1956. Retrieved June 26, 2008.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 84
- ^ Tompson 1997, hlm. 237–239
- ^ a b c d Palmowski
- ^ Feldbrugge, p. 818
- ^ "Soviet troops overrun Hungary". BBC News. November 4, 1956. Diakses June 11, 2008.
- ^ Video: Revolt in Hungary[pranala nonaktif] Narrator: Walter Cronkite, producer: CBS (1956) – Fonds 306, Audiovisual Materials Relating to the 1956 Hungarian Revolution, OSA Archivum, Budapest, Hungary ID number: HU OSA 306-0-1:40
- ^ UN General Assembly Special Committee on the Problem of Hungary (1957) Chapter IV. E (Logistical deployment of new Soviet troops), para 181 (p. 56)PDF (1.47 MB)
- ^ "Report by Soviet Deputy Interior Minister M. N. Holodkov to Interior Minister N. P. Dudorov (15 November 1956)" (PDF). The 1956 Hungarian Revolution, A History in Documents. George Washington University: The National Security Archive. November 4, 2002. Diakses September 2, 2006.
- ^ Cseresnyés, Ferenc (Summer 1999). "The '56 Exodus to Austria". The Hungarian Quarterly (Society of the Hungarian Quarterly) XL (154): 86–101. Diakses October 9, 2006.
- ^ "On This Day June 16, 1989: Hungary reburies fallen hero Imre Nagy" British Broadcasting Corporation (BBC) reports on Nagy reburial with full honors. Retrieved October 13, 2006.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 70
- ^ Perlmutter 1997, hlm. 145
- ^ Njolstad 2004, hlm. 136
- ^ Breslauer, p. 72
- ^ a b Lendvai, Paul (2008). One day that shook the Communist world: the 1956 Hungarian uprising and its legacy. Princeton University Press. hlm. 196. ISBN 0-691-13282-8.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 71
- ^ Glees, pp. 126–27
- ^ Cameron, p. 156
- ^ Gaddis 2005, hlm. 121–124
- ^ Edelheit, p. 382
- ^ Towle, Philip (2000). "Cold War". In Charles Townshend. The Oxford History of Modern War. New York, USA: Oxford University Press. hlm. 160. ISBN 0-19-285373-2.
- ^ Mark J. Gasiorowski and Malcolm Byrne Mohammad Mosaddegh and the 1953 Coup in Iran, Syracuse University Press, May 2004. ISBN 0-8156-3018-2, p. 125.
- ^ James S. Lay, Jr. (November 20, 1952). United States policy regarding the current situation in Iran (PDF). George Washington University. Diakses November 7, 2007. Statement of policy proposed by the National Security Council
- ^ Walter B. Smith, Undersecretary (March 20, 1953). First Progress Report on Paragraph 5-1 of NSC 136/1, "U.S. Policy Regarding the Current Situation in Iran" (PDF). George Washington University. Diakses November 7, 2007.
- ^ Measures which the United States Government Might Take in Support of a Successor Government to Mosaddegh (PDF). George Washington University. March 1953. Diakses November 7, 2007.
- ^ Watson, Cynthia A. (2002). U.S. National Security: A Reference Handbook. Santa Barbara, California: ABL-CLIO. hlm. 118. ISBN 978-1-57607-598-2.
- ^ Stone, The Atlantic and Its Enemies (2010) pp 199, 256
- ^ Bulmer-Thomas, V. (1987). The Political Economy of Central America since 1920. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 142. ISBN 978-0-521-34284-1.
- ^ Roadnight, Andrew (2002). United States Policy towards Indonesia in the Truman and Eisenhower Years. New York: Palgrave Macmillan. ISBN 0-333-79315-3.
- ^ Coughlin, Con (2005). Saddam: His Rise and Fall. Harper Perennial. hlm. 25–26. ISBN 0-06-050543-5.
- ^ Coughlin, Con (2005). Saddam: His Rise and Fall. Harper Perennial. hlm. 24–25. ISBN 0-06-050543-5.
- ^ Lesch, David W. The Middle East and the United States Third Edition: A Historical and Political Reassessment. Boulder: Westview Press, 2003. page 173.
- ^ Coughlin, Con (2005). Saddam: His Rise and Fall. Harper Perennial. hlm. 27. ISBN 0-06-050543-5.
- ^ Senate Select Committee on Intelligence (20 November 1975). "C. Institutionalizing Assassination: the "Executive Action" capability". Alleged Assassination Plots involving Foreign Leaders. hlm. 181.
- ^ Mauro, Ryan, "Interview with Ali Ibrahim al-Tikriti," Global Politician, 14 February 2006. The former Ba'athist general claims: "The Soviet Union openly supported and backed the Ba'athist revolution in Iraq at the time and I am sure you can find news articles about it in European press agencies and others at the time. I was there helping with the revolution and worked on two occasions with Soviet KGB officials to help train us, much like the United States did with the Taliban during the Soviet campaign in Afghanistan."
- ^ Coughlin, Con (2005). Saddam: His Rise and Fall. Harper Perennial. hlm. 52. ISBN 0-06-050543-5.
- ^ a b Schraeder, Peter J. (1994). United States Foreign Policy Toward Africa: Incrementalism, Crisis, and Change. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 57. ISBN 978-0-521-46677-6.
- ^ Rose, Euclid A. (2002). Dependency and Socialism in the Modern Caribbean: Superpower Intervention in Guyana, Jamaica, and Grenada, 1970–1985. Lanham: Lexington Books. hlm. 57. ISBN 978-0-7391-0448-4.
- ^ a b Mars, Perry & Alma H. Young (2004). Caribbean Labor and Politics: Legacies of Cheddi Jagan and Michael Manley. Detroit: Wayne State University Press. p. xviii. ISBN 978-0-8143-3211-5.
- ^ Palmer, Colin A. (2010). Cheddi Jagan and the Politics of Power: British Guiana's Struggle for Independence. Chapel Hill: University of North Carolina Press. hlm. 247–248. ISBN 978-0-8078-3416-9.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 126
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 142
- ^ Kempe, Frederick (2011). Berlin 1961. Penguin Group (USA). hlm. 42. ISBN 0-399-15729-8.
- ^ Lüthi, pp. 273–276
- ^ Gaddis 2005, hlm. 140–142
- ^ Lackey, p. 49
- ^ "Sputnik satellite blasts into space". BBC News. October 4, 1957. Diakses June 11, 2008.
- ^ Klesius, Michael (December 19, 2008). "To Boldly Go". Air & Space. Diakses January 7, 2009.
- ^ Blumberg, Arnold (1995). Great Leaders, Great Tyrants?: Contemporary Views of World Rulers Who Made History. Westport, Connecticut: Greenwood Press. hlm. 23–24. ISBN 978-0-313-28751-0.
- ^ Lechuga Hevia, Carlos (2001). Cuba and the Missile Crisis. Melbourne, Australia: Ocean Press. hlm. 142. ISBN 978-1-876175-34-4.
- ^ a b c Smith, Joseph (1998). The Cold War 1945–1991. Oxford: Blackwell. hlm. 95. ISBN 978-0-631-19138-4.
- ^ Dominguez 1989, hlm. 22
- ^ Dowty 1989, hlm. 114
- ^ Harrison 2003, hlm. 99
- ^ Dowty 1989, hlm. 122
- ^ Gaddis 2005, hlm. 114
- ^ Pearson 1998, hlm. 75
- ^ a b Zubok, Vladislav M. (1994). "Unwrapping the Enigma: What Was Behind the Soviet Challenge in the 1960s?". In Diane B. Kunz (Ed.), The Diplomacy of the Crucial Decade: American Foreign Relations During the 1960s. New York: Columbia University Press. p. 158-159. ISBN 978-0-231-08177-1.
- ^ Jones, Howard (2009). Crucible of Power: A History of American Foreign Relations from 1945. Lanham: Rowman & Littlefield. hlm. 122. ISBN 978-0-7425-6454-1.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 82
- ^ Gaddis 2005, hlm. 80
- ^ National Research Council Committee on Antarctic Policy and Science, p. 33
- ^ a b c Gaddis 2005, hlm. 119–120
- ^ Hardt & Kaufman 1995, hlm. 16
- ^ Menon, Anand (2000). France, NATO, and the limits of independence, 1981–97: the politics of ambivalence. Palgrave Macmillan. hlm. 11. ISBN 0-312-22931-3.
- ^ Crawley p.431
- ^ Ello (ed.), Paul (April 1968). Control Committee of the Communist Party of Czechoslovakia, "Action Plan of the Communist Party of Czechoslovakia (Prague, April 1968)" in Dubcek’s Blueprint for Freedom: His original documents leading to the invasion of Czechoslovakia. William Kimber & Co. 1968, pp 32, 54
- ^ Von Geldern, James; Siegelbaum, Lewis. "The Soviet-led Intervention in Czechoslovakia". Soviethistory.org. Diakses March 7, 2008.
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 150
- ^ "Russia brings winter to Prague Spring". BBC News. August 21, 1968. Diakses June 10, 2008.
- ^ Čulík, Jan. "Den, kdy tanky zlikvidovaly české sny Pražského jara". Britské Listy. Diakses January 23, 2008.
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 154
- ^ Gaddis 2005, hlm. 153
- ^ a b Itzigsohn, José (2000). Developing Poverty: The State, Labor Market Deregulation, and the Informal Economy in Costa Rica and the Dominican Republic. University Park, Pennsylvania: Penn State University Press. hlm. 41–42. ISBN 978-0-271-02028-0.
- ^ Farid, Hilmar (2007). "Mass Killings and Capitalist Expansion, 1965–1966". In Kuan-Hsing Chen & Chua Beng Huat (Ed.), [The Inter-Asia Cultural Studies Reader]. London: Routledge. pp. 207–222. ISBN 0-415-43134-4.
- ^ Qiang Zhai, China and the Vietnam Wars, 1950-1975 (University of North Carolina Press, 2000), p135; Gen. Oleg Sarin and Col. Lev Dvoretsky, Alien Wars: The Soviet Union’s Aggressions Against the World, 1919 to 1989 (Presidio Press, 1996), pp93-4.
- ^ "Profile of Salvador Allende". BBC. BBC. September 8, 2003. Diakses January 25, 2011.
- ^ McSherry, p. 13
- ^ Mars, Perry & Alma H. Young (2004). Caribbean Labor and Politics: Legacies of Cheddi Jagan and Michael Manley. Detroit: Wayne State University Press. p. xvi. ISBN 978-0-8143-3211-5.
- ^ Stone, p. 230
- ^ a b Grenville, J.A.S. & Bernard Wasserstein (1987). Treaties of the Twentieth Century: A History and Guide with Texts, Volume 2. London and New York: Methuen. ISBN 978-0-416-38080-4.
- ^ Kumaraswamy, p. 127
- ^ Friedman, p. 330
- ^ Hitchens, Christopher, "The Ugly Truth About Gerald Ford", Slate, December 29, 2006.
- ^ a b c d Erlich, Reese (2008). Dateline Havana: The Real Story of U.S. Policy and the Future of Cuba. Sausalito, California: PoliPoint Press. hlm. 84–86. ISBN 978-0-9815769-7-8.
- ^ Doyle, Randall Jordan (2007). America and China: Asia-Pacific Rim Hegemony in the Twenty-First Century. Lanham: Lexington Books. hlm. 119. ISBN 978-0-7391-1702-6.
- ^ Dmitry Mosyakov, "The Khmer Rouge and the Vietnamese Communists: A History of Their Relations as Told in the Soviet Archives," in Susan E. Cook, ed., Genocide in Cambodia and Rwanda (Yale Genocide Studies Program Monograph Series No. 1, 2004), p54ff. Can be accessed at: www.yale.edu/gsp/publications/Mosyakov.doc "In April–May 1970, many North Vietnamese forces entered Cambodia in response to the call for help addressed to Vietnam not by Pol Pot, but by his deputy Nuon Chea. Nguyen Co Thach recalls: “Nuon Chea has asked for help and we have liberated five provinces of Cambodia in ten days.”"
- ^ Chandler, David 2000, Brother Number One: A Political Biography of Pol Pot, Revised Edition, Chiang Mai, Thailand: Silkworm Books, pp. 96-7.
- ^ Heuveline, Patrick (2001). "The Demographic Analysis of Mortality in Cambodia." In Forced Migration and Mortality, eds. Holly E. Reed and Charles B. Keely. Washington, D.C.: National Academy Press. Heuveline suggests that a range of 1.17-3.42 million people were killed.
- ^ Marek Sliwinski, Le Génocide Khmer Rouge: Une Analyse Démographique (L'Harmattan, 1995).
- ^ Banister, Judith, and Paige Johnson (1993). "After the Nightmare: The Population of Cambodia." In Genocide and Democracy in Cambodia: The Khmer Rouge, the United Nations and the International Community, ed. Ben Kiernan. New Haven, Conn.: Yale University Southeast Asia Studies.
- ^ Theory of the Global State: Globality as Unfinished Revolution by Martin Shaw, Cambridge University Press, 2000, pp 141, ISBN 978-0-521-59730-2
- ^ Dallek, Robert (2007), p. 144.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 149–152
- ^ Buchanan, pp. 168–169
- ^ a b "President Nixon arrives in Moscow". BBC News. May 22, 1972. Diakses June 10, 2008.
- ^ "The President". Richard Nixon Presidential Library. Diakses March 27, 2009.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 188
- ^ Gaddis 2005, hlm. 186
- ^ Gaddis 2005, hlm. 178
- ^ "Leaders agree arms reduction treaty". BBC News. June 18, 2008. Diakses June 10, 2008.
- ^ Christopher Andrew and Vasili Mitrokhin, The KGB and the World: The Mitrokhin Archive II (Penguin, 2006), pp41, 120-1.
- ^ John P. Diggins (2007). Ronald Reagan: Fate, Freedom, And the Making of History. W. W. Norton. hlm. 267.
- ^ Michael Cox (1990). Beyond the Cold War: Superpowers at the Crossroads. University Press of America. hlm. 18.
- ^ Hussain 2005, hlm. 108-109
- ^ Meher 2004, hlm. 68-69, 94
- ^ Kalinovsky 2011, hlm. 25-28
- ^ Gaddis 2005, hlm. 211
- ^ Allen, Richard V. "The Man Who Won the Cold War". Hoover.org. Diakses November 3, 2011.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 189
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 197
- ^ Gerges, Fawaz A. (1999). America and Political Islam: Clash of Cultures or Clash of Interests?. Cambridge: Cambridge University Press. p. 72. ISBN 978-0-521-63957-6.
- ^ a b Beinin, Joel & Joe Stork (1997). "On the Modernity, Historical Specificity, and International Context of Political Islam". In Joel Beinin & Joe Stork (Eds.), Political Islam: Essays from the Middle East Report. Berkeley: University of California Press. p. 11. ISBN 978-0-520-20448-5.
- ^ Graebner Norman A., Richard Dean Burns & Joseph M. Siracusa (2008). Reagan, Bush, Gorbachev: Revisiting the End of the Cold War. Westport, Connecticut: Greenwood Press. p. 76. ISBN 978-0-313-35241-6.
- ^ a b Singh, Bilveer (1995). "Jemaah Islamiyah". In Wilson John & Swati Parashar (Eds.) Terrorism in Southeast Asia: Implications for South Asia. Singapore and Delhi: ORF-Pearson-Longman. p. 130. ISBN 978-81-297-0998-1.
- ^ Henze, p. 171
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 219–222
- ^ a b LaFeber 2002, hlm. 332
- ^ Towle, Philip. The Oxford History of Modern War. hlm. 159.
- ^ LaFeber 2002, hlm. 335
- ^ Odom 2000, hlm. 1
- ^ LaFeber 2002, hlm. 340
- ^ Carliner, Geoffrey; Alberto Alesina (1991). Politics and economics in the eighties: edited by Alberto Alesina and Geoffrey Carliner. University of Chicago Press. hlm. 6. ISBN 0-226-01281-6.
- ^ Feeney, Mark (March 29, 2006). "Caspar W. Weinberger, 88; Architect of Massive Pentagon Buildup". The Boston Globe (Encyclopedia.com). Diakses June 21, 2008.[pranala nonaktif]
- ^ "LGM-118A Peacekeeper". Federation of American Scientists. August 15, 2000. Diakses April 10, 2007.
- ^ Lakoff, p. 263
- ^ Gaddis 2005, hlm. 202
- ^ Garthoff, p. 88
- ^ Lebow, Richard Ned and Janice Gross Stein (February 1994). "Reagan and the Russians". The Atlantic. Diakses May 28, 2010.
- ^ a b c Gaidar 2007 pp. 190–205
- ^ Gaidar, Yegor. "Public Expectations and Trust towards the Government: Post-Revolution Stabilization and its Discontents". The Institute for the Economy in Transition. Diakses March 15, 2008.
- ^ "Official Energy Statistics of the US Government", EIA — International Energy Data and Analysis. Retrieved on July 4, 2008.
- ^ Hardt & Kaufman 1995, hlm. 1
- ^ Talbott, Strobe; Hannifin, Jerry; Magnuson, Ed; Doerner, William R.; Kane, Joseph J. (September 12, 1983). "Atrocity in the skies". Time. Diakses June 8, 2008.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 228
- ^ a b LaFeber 2002, hlm. 323
- ^ Reagan, Ronald (1991). In Foner, Eric; Garraty, John Arthur. The Reader's companion to American history. Houghton Mifflin Books. ISBN 0-395-51372-3. Diakses June 16, 2008.
- ^ a b LaFeber 2002, hlm. 314
- ^ Gaddis 2005, hlm. 292
- ^ Dobrynin 2001, hlm. 438–439
- ^ Maynes 1980, hlm. 1–2
- ^ a b LaFeber 2002, hlm. 331–333
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 231–233
- ^ LaFeber 2002, hlm. 300–340
- ^ Gibbs 1999, hlm. 7
- ^ Gibbs 1999, hlm. 33
- ^ Gibbs 1999, hlm. 61
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 229–230
- ^ 1985: "Superpowers aim for 'safer world'", BBC News, November 21, 1985. Retrieved on July 4, 2008.
- ^ "Toward the Summit; Previous Reagan-Gorbachev Summits". The New York Times. May 29, 1988. Diakses June 21, 2008.
- ^ "Intermediate-Range Nuclear Forces". Federation of American Scientists. Diakses June 21, 2008.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 255
- ^ a b Shearman 1995, hlm. 76
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 248
- ^ a b Gaddis 2005, hlm. 235–236
- ^ Shearman 1995, hlm. 74
- ^ "Address given by Mikhail Gorbachev to the Council of Europe". Centre Virtuel de la Connaissance sur l'Europe. July 6, 1989. Diakses February 11, 2007.
- ^ Malta summit ends Cold War, BBC News, December 3, 1989. Retrieved June 11, 2008.
- ^ Goodby, p. 26
- ^ Sakwa 1999, hlm. 460
- ^ Gaddis 2005, hlm. 253
- ^ Lefeber, Fitzmaurice & Vierdag 1991, hlm. 221
- ^ Gaddis 2005, hlm. 247
- ^ Goldgeier, p. 27
- ^ Soviet Leaders Recall ‘Inevitable’ Breakup Of Soviet Union, Radio Free Europe/Radio Liberty, December 8, 2006. Retrieved May 20, 2008.
- ^ Gaddis 2005, hlm. 256–257
- ^ Åslund, p. 49
- ^ Nolan, pp. 17–18
- ^ Country profile: United States of America. BBC News. Retrieved March 11, 2007
- ^ Nye, p. 157
- ^ Blum 2006, hlm. 87
- ^ a b "U.S. Military Deployment 1969 to the present". http://www.pbs.org. October 26, 2004. Diakses November 30, 2010.
- ^ Duke, Simón (1989). United States military forces and installations in Europe. Oxford University Press. hlm. 175. ISBN 0-19-829132-9.
- ^ a b c d e Calhoun, Craig (2002). "Cold War (entire chapter)". Dictionary of the Social Sciences. Oxford University Press. ISBN 0-19-512371-9. Diakses June 16, 2008.
- ^ Pavelec, Sterling Michael (2009). The Military-Industrial Complex and American Society. ABC-CLIO. hlm. xv–xvi. ISBN 1-59884-187-4.
- ^ LaFeber 2002, hlm. 1
- ^ Gaddis 2005, hlm. 213
- ^ Gaddis 2005, hlm. 266
- ^ Monty G. Marshall and Ted Gurr, Peace and Conflict 2005 (PDF), Center for Systemic Peace (2006). Retrieved June 14, 2008.
- ^ Nashel, Jonathan (1999). "Cold War (1945–91): Changing Interpretations (entire chapter)". In Whiteclay Chambers, John. The Oxford Companion to American Military History. Oxford University Press. ISBN 0-19-507198-0. Diakses June 16, 2008.
- ^ Brinkley, pp. 798–799
Referensi dan bacaan lanjutan
- Applebaum, Anne (2012). Iron Curtain: The Crushing of Eastern Europe, 1944-1956. Doubleday. ISBN 0-385-51569-3.
- Davis, Simon, and Joseph Smith. The A to Z of the Cold War (Scarecrow, 2005), encyclopedia focused on military aspects
- Dominguez, Jorge I. (1989). To Make a World Safe for Revolution: Cuba's Foreign Policy. Harvard University Press. ISBN 0-674-89325-0 Check
|isbn=value (help). - Friedman, Norman (2007). The Fifty-Year War: Conflict and Strategy in the Cold War. Naval Institute Press. ISBN 1-59114-287-3.
- Gaddis, John Lewis (1990). Russia, the Soviet Union and the United States. An Interpretative History. McGraw-Hill. ISBN 0-07-557258-3.
- Gaddis, John Lewis (1997). We Now Know: Rethinking Cold War History. Oxford University Press. ISBN 0-19-878070-2.
- Gaddis, John Lewis (2005). The Cold War: A New History. Penguin Press. ISBN 1-59420-062-9.
- Garthoff, Raymond (1994). Détente and Confrontation: American-Soviet Relations from Nixon to Reagan. Brookings Institution Press. ISBN 0-8157-3041-1.
- Haslam, Jonathan. Russia's Cold War: From the October Revolution to the Fall of the Wall (Yale University Press; 2011) 512 pages
- Hoffman, David E. The Dead Hand: The Untold Story of the Cold War Arms Race and Its Dangerous Legacy (2010)
- Hussain, Rizwan (2005). Pakistan And The Emergence Of Islamic Militancy In Afghanistan. Ashgate Publishing. ISBN 0-7546-4434-0.
- Judge, Edward H. The Cold War: A Global History With Documents (2012)
- Kalinovsky, Artemy M. (2011). A Long Goodbye: The Soviet Withdrawal from Afghanistan. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-05866-8.
- LaFeber, Walter (2002). America, Russia, and the Cold War, 1945–2002. McGraw-Hill. ISBN 0-07-284903-7.
- Leffler, Melvyn (1992). A Preponderance of Power: National Security, the Truman Administration, and the Cold War. Stanford University Press. ISBN 0-8047-2218-8.
- Leffler, Melvyn P. and Odd Arne Westad, eds. The Cambridge History of the Cold War (3 vol, 2010) 2000pp; new essays by leading scholars
- Lewkowicz, Nicolas (2010). The German Question and the International Order, 1943–48. Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-24812-0.
- Lundestad, Geir (2005). East, West, North, South: Major Developments in International Politics since 1945. Oxford University Press. ISBN 1-4129-0748-9.
- Lüthi, Lorenz M (2008). The Sino-Soviet split: Cold War in the communist world. Princeton University Press. ISBN 0-691-13590-8.
- McMahon, Robert (2003). The Cold War: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 0-19-280178-3.
- Meher, Jagmohan (2004). America's Afghanistan War: The Success that Failed. Gyan Books. ISBN 81-7835-262-1.
- Lüthi, Lorenz M (2008). The Sino-Soviet split: Cold War in the communist world. Princeton University Press. ISBN 0-691-13590-8.
- Malkasian, Carter (2001). The Korean War: Essential Histories. Osprey Publishing. ISBN 1-84176-282-2.
- Mastny, Vojtech. The Cold War and Soviet insecurity: the Stalin years (1996) online edition
- Fedorov, Alexander (2011). Russian Image on the Western Screen: Trends, Stereotypes, Myths, Illusions. Lambert Academic Publishing,. ISBN 978-3-8433-9330-0.
- Miller, Roger Gene (2000). To Save a City: The Berlin Airlift, 1948–1949. Texas A&M University Press. ISBN 0-89096-967-1.
- Njolstad, Olav (2004). The Last Decade of the Cold War. Routledge. ISBN 0-7146-8371-X.
- Nolan, Peter (1995). China's Rise, Russia's Fall. St. Martin's Press. ISBN 0-312-12714-6.
- Pearson, Raymond (1998). The Rise and Fall of the Soviet Empire. Macmillan. ISBN 0-312-17407-1.
- Porter, Bruce; Karsh, Efraim (1984). The USSR in Third World Conflicts: Soviet Arms and Diplomacy in Local Wars. Cambridge University Press. ISBN 0-521-31064-4.
- Puddington, Arch (2003). Broadcasting Freedom: The Cold War Triumph of Radio Free Europe and Radio Liberty. University Press of Kentucky. ISBN 0-8131-9045-2.
- Roberts, Geoffrey (2006). Stalin's Wars: From World War to Cold War, 1939–1953. Yale University Press. ISBN 0-300-11204-1.
- Stone, Norman (2010). The Atlantic and Its Enemies: A History of the Cold War. Basic Books Press. ISBN 0-465-02043-7.
- Taubman, William (2004). Khrushchev: The Man and His Era. W. W. Norton & Company. ISBN 0-393-32484-2.; Pulitzer Prize
- Tucker, Spencer, ed. Encyclopedia of the Cold War: A Political, Social, and Military History (5 vol. 2008), world coverage
- Walker, Martin. The Cold War: A History (1995), British perspective
- Wettig, Gerhard (2008). Stalin and the Cold War in Europe. Rowman & Littlefield. ISBN 0-7425-5542-9.
- Zubok, Vladislav; Pleshakov, Constantine (1996). Inside the Kremlin's Cold War: From Stalin to Khrushchev. Harvard University Press. ISBN 0-674-45531-2.
- Zubok, Vladislav M. A Failed Empire: The Soviet Union in the Cold War from Stalin to Gorbachev (2008)
Historiografi dan memori
- Hopkins, Michael F. "Continuing Debate and New Approaches in Cold War History," Historical Journal, Dec 2007, Vol. 50 Issue 4, pp 913–934,
- Isaac, Joel, and Duncan Bell, eds. Uncertain Empire: American History and the Idea of the Cold War (2012) excerpt and text search
- Johnston, Gordon. "Revisiting the cultural Cold War," Social History, Aug 2010, Vol. 35 Issue 3, pp 290–307
- Nuti, Leopoldo, et al., eds. Europe and the End of the Cold War: A Reappraisal (2012) excerpt and text search
- Wiener, Jon. How We Forgot the Cold War: A Historical Journey across America (2012) excerpt and text search
Sumber primer
- Andrew, Christopher; Mitrokhin, Vasili (2000). The Sword and the Shield: The Mitrokhin Archive and the Secret History of the KGB. Basic Books. ISBN 0-585-41828-4.
- Dobrynin, Anatoly (2001). In Confidence: Moscow's Ambassador to Six Cold War Presidents. University of Washington Press. ISBN 0-295-98081-8.
- Hanhimaki, Jussi and Odd Arne Westad, eds. The Cold War: A History in Documents and Eyewitness Accounts (Oxford University Press, 2003). ISBN 0-19-927280-8.
- Sakwa, Richard (1999). The rise and fall of the Soviet Union, 1917–1991. Routledge. ISBN 0-415-12290-2.
- Cardona, Luis (2007). Cold War KFA. Routledge. Unknown parameter
|unused_data=ignored (help) - "Presidency in the Nuclear Age", conference and forum at the JFK Library, Boston, October 12, 2009. Four panels: "The Race to Build the Bomb and the Decision to Use It", "Cuban Missile Crisis and the First Nuclear Test Ban Treaty", "The Cold War and the Nuclear Arms Race", and "Nuclear Weapons, Terrorism, and the Presidency". ( transcript of "The Cold War and the Nuclear Arms Race")
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Perang Dingin pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Berita dari Wikinews | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Buku dari Wikibuku | |
- Arsip
- Open Society Archives, Budapest (Hungary), one of the biggest history of communism and cold war archives in the world
- An archive of UK civil defence material
- Post-Cold War World Economy from the Dean Peter Krogh Foreign Affairs Digital Archives
- CONELRAD Cold War Pop Culture Site
- CBC Digital Archives – Cold War Culture: The Nuclear Fear of the 1950s and 1960s
- The Cold War International History Project (CWIHP)
- The Cold War Files
- CNN Cold War Knowledge Bank[pranala nonaktif] comparison of articles on Cold War topics in the Western and the Soviet press between 1945 and 1991
- The CAESAR, POLO, and ESAU Papers–This collection of declassified analytic monographs and reference aids, designated within the Central Intelligence Agency (CIA) Directorate of Intelligence (DI) as the CAESAR, ESAU, and POLO series, highlights the CIA's efforts from the 1950s through the mid-1970s to pursue in-depth research on Soviet and Chinese internal politics and Sino-Soviet relations. The documents reflect the views of seasoned analysts who had followed closely their special areas of research and whose views were shaped in often heated debate.
- Documents available online regarding aerial intelligence during the Cold War, Dwight D. Eisenhower Presidential Library
- Bibliografi
- Berita
- Sumber edukasional
- http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dingin
Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.