Budaya Korupsi
Oleh : Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Persoalan besar lainnya yang
menyangkut mekanisme kerja Bank Dunia sendiri adalah budaya kerja yang
mendorong terjadinya penyelewengan dana dan korupsi secara sitematis di
sejumlah pinjaman utama Bank Dunia. Bank Dunia, dibawah pimpinan Wolfensohn,
meskipun berulangkali memproklamirkan peran yang lebih nyata dalam memerangi
korupsi di negara sedang berkembang, tidak berdaya sama sekali dalam mencari
akar persoalan korupsi yang terkait
dengan pemberian pinjaman Bank Dunia.
Akar persoalannya adalah tekanan
internal untuk terus meminjamkan uang, kendati teramat kecil
kesesuaiannya dengan pemenuhan kebijakan-kebijakan Bank Dunia, bukan hanya
mengenai pengentasan kemiskinan dan kelestarian lingkungan saja, tetapi juga
menyangkut kewajiban yang paling pokok yang dipercayakan kepada Bank Dunia
untuk memastikan bahwa penggunaan dana-dana sebagimana yang diharapkan tidak
diselewengkan.
Jika Bank Dunia bersungguh-sungguh
ingin mengetahui dan mengubah bagaimana
uang mereka senyatanya digunakan, maka ada banyak pilihan tindakan yang jauh
lebih dibutuhkan ketimbang sekedar prakarsa-prakarsa Wolfensohn yang menyewa
sebuah perusahaan akuntan swasta untuk mengaudit sejumlah program dibeberapa
negara, dan, belum lama ini, ia memecat beberapa staf yang tertangkap dalam
praktik korupsi yang menggemparkan Wolfensohn juga mendiskualifikasi beberapa
perusahaan yang tertangkap basah melakukan praktik manipulasi.
Pada musim panas l997, berbagai akibat
dari kompleksitas persoalan korupsi yang
terjadi di sejumlah peminjaman utama Bank Dunia yang berjalan selama
bertahun-tahun, akhirnya mulai muncul di Rusia dan Indonesia.
Business
Week mengungkap bahwa “sekurang-kurangnya 100 juta dolar” dari pinjaman 500
juta dolar yang diperuntukkan bagi kawasan pertambangan batu bara di Rusia
digunakan tidak sebagaimana mestinya atau bahkan tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Mengetahui bahwa Bank Dunia tengah menyiapkan pinjaman
baru sebesar 0,5 miliar dollar bagi
kawasan pertambangan baru di Rusia tersebut, Business Week mencermati
“para pejabat Bank Dunia sungguh sangat mengherankan (mereka) nampaknya tidak
menjadi risau atas praktik penyelewengan dana tersebut. Mereka lebih bersikeras
untuk memberikan pinjaman guna memacu perubahan itu ketimbang melakukan makro –
manajemen pengeluaran.
”Lebih
dari satu tahun kemudian, Financial Times
memperkirakan jumlah dana pinjaman untuk kawasan pertambangan batu bara
yang dikorupsi jauh lebih tinggi, yaitu sebesar 250 juta dollar.Untuk kasus di
Indonesia, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Juli l997, Prof.Jeffrey
Winters dari North-western University
mengatakan bahwa bobroknya pengelolaan yang dilakukan Bank Dunia telah
memungkinkan para pejabat Indonesia yang korup melakukan pencurian sebanyak 30 persen dari dana-dana pinjaman Bank Dunia
selama 30 tahun lalu – jumlah yang pasti membuat
kita terperanggah yaitu lebih dari 8 miliar dolar.
Kurang
lebih di seputar waktu itu juga, kantor Bank Dunia di Jakarta melakukan
penelitian internal atas korupsi yang terjadi dalam program-program pemberian
pinjaman Bank Dunia kepada Indonesia. Namun
demikian, berbagai temuan dan rekomendasi dari penelitian tersebut, yang
nyata-nyata menguatkan berbagai tuduhan Winters, tidak pernah ditindaklanjuti
oleh lembaga manajemen senior Bank
Dunia.
Bahkan
Wolfenshn pun baru mengetahui laporan itu pada Juli l998, satu tahun setelah
penelitian tersebut selesai. Bank Dunia menjanjikan akan mengeluarkan lagi dana
pinjaman sekitar lebih dari 1,3 miliar dolar kepada Indonesia, tanpa disertai
langkah-langka yang efektif untuk mencegah terjadinya “kebocoran” seperti yang telah dibeberkan secara terperinci dalam
penelitian tersebut.
Kesimpulan
Kata kunci untuk
memahami Bank Dunia adalah “ketidaksambungan”
(disconnect)
seperti :
Ketidaksambungan antara tujuan-tujuan
yang dinyatakannya dengan catatan prestasinya; Ketidaksambungan antara
pernyataan-pernyataan Wolfensohn untuk mengubah kultur Bank Dunia dengan
aktualisasi sejumlah pembaruan internal yang dibutuhkan untuk mengatasi
kegagalan sistematis Bank Dunia dalam melaksanakan berbagai kebijakannya yang
paling pokok berkenaan dengan pengentasan kemiskinan dan audit lingkungan hidup, Selain itu juga
terjadi ketidaksambungan antara upaya mempercepat ‘restu pemberian pinjaman’,
yang semakin melemahkan kebijakan Bank Dunia dengan penegasan kepeduliannya
untuk membasmi “budaya mohon restu (dalam pemberian pinjaman)”.
Secara mencolok, terlihat
ketidaksambungan di mana, antara pengakuan Bank Dunia tentang pengunaan dana-dana public dan
jaminan-jaminan untuk membantu orang-orang miskin dengan pesatnya perkembangan IFC
dan MIGA yang sebagian besar kliennya adalah korporasi-korporasi besar mulinasional
dan bank-bank sentral internasional. Bagamanapun
juga, aktivitas-aktivitas mereka teramat kecil proporsinya dalam memberikan
keuntungan ekonomi secara langsung---dan justru seringkali menciptakan dampak negative
bagi kehidupan social dan lingkungan—kepada penduduk miskin di negara-negara
sedang berkembang.
Selama beberapa tahun lalu,
tekanan-tekanan eksternal yang dialamatkan kepada Bank Dunia mengenai
ketegangan dan pertentangan antara efektivitas pembangunan dan “budaya mohon
restu dalam pemberian pinjaman” kian memuncak. Belakangan ini, kecenderungan
itu semakin meresahkan. Pada 1998 hampir 40 persen dari komitmen-komitmen baru IBRD/IDA
meliput berbagai pinjaman dan kredit yang lebih besar (dua kali lipat dari dana
tahun sebelumnya), juga pinjaman dan kredit bukan proyek yang dibayarkan secara
cepat.
Bahkan pada l999, angka tersebut
meningkat hingga 63 persen. Bagaimanapun
juga, Bank Dunia tidak lebih dari sekedar “mesin kasir otomatis” (ATM –
Automatic Teller Machin) bagi transaksi-transaksi IMF dalam pemberian jaminan program
penyesuaian structural/SAP yang telah banyak dikecam berbagai kalangan. Tentu
saja, jika muncul berbagai klaim bahwa pinjaman semacam itu merupakan alat
efektif untuk menegakkan pembaruan kebijakan yang sangat dibutuhkan dalam
situasi-situasi kritis, maka itu tak lebih dari bualan kosong dan omongan besar
belaka. (Sumber: Vandana Shiva, dikutip I.Wibowo, Globalisasi Kemiskinan & Ketimpangan, Cindelaras
Pustaka Rakyat Cerdas, Jogja, 2003,:115-119).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.