Teknologi Pengolahan Air Bersih Dengan Proses Saringan Pasir Lambat "Up Flow" |
Air bersih merupakan kebutuhan
yang sangat vital bagi masyarakat. Sampai saat ini masalah air bersih masih
banyak dijumpai baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Salah
satu teknologi pengolahan air untuk daerah pedesaan yang sederhana, mudah
dan murah yakni teknologi saringan pasir lambat.
Teknologi saringan pasir
lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya adalah saringan pasir
lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down flow), sehingga
jika kekeruhan air baku naik, terutama pada waktu hujan, maka sering terjadi
penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan pencucian secara
manual dengan cara mengeruk media pasirnya dan dicuci, setelah bersih dipasang
lagi seperti semula, sehingga memerlukan tenaga yang cucup banyak. Hal
inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah dibangun
kurang berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan.
Untuk mengatasi problem
sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat kekeruhan air
baku yang tinggi, dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan
pasir lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat "UP
Flow (penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas). Dengan sistem penyaringan
dengan aliran dari bawah ke atas maka waktu operasi menjadi lebih panjang,
dan cara pencucian media penyaringnya lebih mudah.
KATA
KUNCI : Pasir Lambat, Up Flow, Down Flow, Filter, Supernatant
JENIS TEKNOLOGI : Teknologi Pengolahan Air Bersih
TARGET PENGGUNAAN : Pesantren, Daerah Pedesaan
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan kebutuhan dasar masyarakat khususnya mengenai
kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan, maka perlu disesuaikan dengan
sumber air baku serta teknologi yang sesuai dengan tingkat penguasaan teknologi
dalam masyarakat itu sendiri. Salah satu alternatif yakni dengan menggunakan
teknologi pengolahan air sederhana dengan "Saringan Pasir Lambat".
Sistem saringan pasir lambat adalah merupakan teknologi pengolahan air
yang sangat sederhana dengan hasil air bersih dengan kualitas yang baik.
Sistem saringan pasir lambat ini mempunyai keunggulan antara lain tidak
memerlukan bahan kimia (koagulan) yang mana bahan kimia ini merupakan kendala
sering dialami pada proses pengolahan air di daerah pedesaan.
Di dalam sistem pengolahan ini proses pengolahan yang utama adalah penyaringan
dengan media pasir dengan kecepatan penyaringan 5 - 10 m3/m2/hari.. Air
baku dialirkan ke tangki penerima, kemudian dialirkan ke bak pengendap
tanpa memakai zat kimia untuk mengedapkan kotoran yang ada dalam air baku.
selanjutnya di saring dengan saringan pasir lambat. Setelah disaring dilakukan
proses khlorinasi dan selanjutnya ditampung di bak penampung air bersih,
seterusnya di alirkan ke konsumen.
Jika air baku baku dialirkan ke saringan pasir lambat, maka kotoran-kotoran
yang ada di dalamnya akan tertahan pada media pasir. Oleh karena adanya
akumulasi kotoran baik dari zat organik maupun zat anorganik pada media
filternya akan terbentuk lapisan (film) biologis. Dengan terbentuknya lapisan
ini maka di samping proses penyaringan secara fisika dapat juga menghilangkan
kotoran (impuritis) secara bio-kimia. Biasanya ammonia dengan konsetrasi
yang rendah, zat besi, mangan dan zat-zat yang menimbulkan bau dapat dihilangkan
dengan cara ini. Hasil dengan cara pengolahan ini mempunyai kualitas yang
baik.
Cara ini sangat sesuai untuk pengolahan yang air bakunya mempunyai kekeruhan
yang rendah dan relatif tetap. Biaya operasi rendah karena proses pengendapan
biasanya tanpa bahan kimia. Tetapi jika kekeruhan air baku cukup tinggi,
pengendapan dapat juga memakai baghan kimia (koagulan) agar beban filter
tidak terlalu berat.
1.2. Tujuan dan
Sasaran
Menyebar luaskan teknologi pengolahan air dengan proses saringan pasir
lambat dengan arah penyaringan dari bawah ke atas (Up Flow). Sasarannya
adalah agar teknologi ini dapat ditiru atau dimanfaatkan oleh masyarakat.
1.3. Manfaat
Dengan menggunakan teknologi saringan pasir lambat Up Flow, dapat dihasilkan
air olahan dengan kualitas yang baik dengan biaya operasional sangat murah.
Pengopersiannya sangat mudah dan sederhana.
1.4. Kontak Personil
Ir. Nusa Idaman Said, M.Eng.
Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair
Direktorat Teknologi Lingkungan
Kedeputian Teknologi Informasi, Energi dan Material
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Jl. M.H. Thamrin No. 8, Jakarta Pusat
Tel. 021-3169769, 3169770, Fax. 021-3169760
Email : air@server.enviro.bppt.go.id
Home Page : http://www.enviro.bppt.go.id/~Kel-1/
II. PROSES PENGOLAHAN
2.1. Saringan Pasir Lambat Konvensional
Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat
konvensional terdiri atas unit proses yakni bangunan penyadap, bak penampung,
saringan pasir lambat dan bak penampung air bersih .
Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket.
Air baku yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya
tidak terlalu tinggi. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya
pada waktu musim hujan, maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak
telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan peralatan pengolahan pendahuluan
misalnya bak pengendapan awal dengan atau tanpa koagulasi bahan dengan
bahan kimia.
Umumnya disain konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survai lapangan
baik mengenai kuantitas maupun kualitas. Dalam gambar desain telah ditetapkan
proses pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi.
Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan.
Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat
dari beton, ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung
air dan media penyaring pasir. Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran
bawah, inlet, outlet dan peralatan kontrol.
Untuk sistem saringan pasir
lambat konvensional terdapat dua tipe saringan yakni :
- Saringan pasir lambat dengan kontrol pada inlet (Gambar 1).
- Saringan pasir lambat dengan kontrol pada outlet. (Gambar 2).
Kedua sistem saringan pasir lambat
tersebut mengunakan sistem penyaringan dari atas ke bawah (down Flow).
Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan. Biasanya saringan pasir lambat hanya
terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton, ferosemen, bata semen
atau bak fiber glass untuk menampung air dan media penyaring pasir. Bak
ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan peralatan
kontrol.
Gambar 1 Komponen Dasar Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Inlet
Keterangan :
A. Kran untuk inlet air baku
dan pengaturan laju penyaringan
B. Kran untuk penggelontoran air supernatant C. Indikator laju air D. Weir inlet E. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih F. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor G. Kran distribusi H. Kran penguras bak air bersih |
Hal-hal yang perlu diperhatikan
pada sistem saringan pasir lambat antara lain yakni :
Bagian Inlet
Struktur inlet dibuat sedemikian rupa sehingga air masuk ke dalam saringan
tidak merusak atau mengaduk permukaan media pasir bagian atas. Struktur
inlet ini biasanya berbentuk segi empat dan dapat berfungsi juga untuk
mengeringkan air yang berada di atas media penyaring (pasir).
Lapisan Air di
Atas media Penyaring (supernatant)
Tinggi lapisan air yang berada di atas media penyaring (supernatant) dibuat
sedemikian rupa agar dapat menghasilkan tekanan (head) sehingga dapat mendorong
air mengalir melalui unggun pasir. Di samping itu juga berfungsi agar dapat
memberikan waktu tinggal air yang akan diolah di dalam unggun pasir sesuai
dengan kriteria disain.
Gambar 2 Komponen Dasa Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Outlet.
Keterangan :
A. Kran untuk inlet air baku
B. Kran untuk penggelontoran air supernatant C. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih D. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor E. Kran pengatur laju penyaringan F. Indikator laju alir G. Weir inlet kran distribusi H. Kran distribusi I. Kran penguras bak air bersih |
Bagian outlet ini selain untuk pengeluran air hasil olahan, berfungsi juga
sebagai weir untuk kontrol tinggi muka air di atas lapisan pasir.
Media Pasir (Unggun
Pasir)
Media penyaring dapat dibuat dari segala jenis
bahan inert(tidak larut dalam air atau tidak bereaksi dengan bahan kimia
yang ada dalam air). Media penyaring yang umum dipakai yakni pasir silika
karena mudah diperoleh, harganya cukup murah dan tidak mudah pecah. Diameter
pasir yang digunakan harus cukup halus yakni dengan ukuran 0,2-0,4 mm.
Sisten Saluran
Bawah (drainage)
Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai
penyangga media penyaring. Saluran ini tediri dari saluran utama dan saluran
cabang, terbuat dari pipa berlubang yang di atasnya ditutup dengan lapisan
kerikil. Lapisan kerikil ini berfungsi untuk menyangga lapisan pasir agar
pasir tidak menutup lubang saluran bawah.
Ruang Pengeluaran
Ruang pengeluran terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan sekat
atau dinding pembatas. Di atas dinding pembatas ini dapat dilengkapi dengan
weir agar limpasan air olahannya sedikit lebih tinggi dari lapisan pasir.
Weir ini berfungsi untuk mencegah timbulnya tekanan di bawah atmosfir dalam
lapisan pasir serta untuk menjamin saringan pasir beroperasi tanpa fluktuasi
level pada reservoir. Dengan adanya air bebas yang jatuh melalui weir,
maka konsentrasi oksigen dalam air olahan akan bertambah besar.
Pengolahan air bersih dengan
menggunakan sistem saringan pasir lambat konvensional ini mempunyai keunggulan
antara lain :
-
Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.
-
Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
-
Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan berjalan secara fisika dan biokimia.
-
Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.
Sedangkan beberapa kelemahan dari
sistem saringan pasir lambat konvensiolal tersebut yakni antara lain :
-
Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter menjadi besar, sehingga sering terjadi kebutuan. Akibatnya waktu pencucian filter menjadi pendek.
-
Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas.
-
Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengeruk lapisan pasir bagian atas dan dicuci dengan air bersih, dan setelah bersih dimasukkan lagi ke dalam bak saringan seperti semula.
- Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring air gambut.
Untuk mengatasi problem sering
terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat kekeruhan air baku yang
tinggi, dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan pasir
lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat "UP Flow (penyaringan
dengan aliran dari bawah ke atas).
2.2. Sistem Saringan
Pasir Lambat "Up Flow"
Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya
adalah saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke
bawah (down flow), sehingga jika kekeruhan air baku naik, terutama pada
waktu hujan, maka sering terjadi penyumbatan pada saringan pasir, sehingga
perlu dilakukan pencucian secara manual dengan cara mengeruk media pasirnya
dan dicuci, setelah bersih dipasang lagi seperti semula, sehingga memerlukan
tenaga yang cucup banyak. Ditambah lagi dengan faktor iklim di Indonesia
yakni ada musim hujan air baku yang ada mempunyai kekeruhan yang sangat
tinggi. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah
dibangun kurang berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan.
Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim
hujan, maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar,
maka perlu dilengkapi dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya
bak pengendapan awal atau saringan "Up Flow" dengan media berikil atau
batu pecah, dan pasir kwarsa / silika. Selanjutnya dari bak saringan awal,
air dialirkan ke bak saringan utama dengan arah aliran dari bawah ke atas
(Up Flow). Air yang keluar dari bak saringan pasir Up Flow tersebut merupakan
air olahan dan di alirkan ke bak penampung air bersih, selanjutnya didistribusikan
ke konsumen dengan cara gravitasi atau dengan memakai pompa.
Diagram proses pengolahan serta
contoh rancangan konstruksi saringan pasir lambat Up Flow ditunjukkan pada
Gambar (3).
Gambar (3) : Diagram proses pengolahan air bersih dengan teknologi saringan pasir lambat "Up Flow" ganda.
Dengan sistem penyaringan dari arah bawah ke atas (Up Flow),
jika saringan telah jenuh atau buntu, dapat dilakukan pencucian balik dengan
cara membuka kran penguras. Dengan adanya pengurasan ini, air bersih yang
berada di atas lapisan pasir dapat berfungi sebagai air pencuci media penyaring
(back wash). Dengan demikian pencucian media penyaring pada saringan pasir
lambat Up Flow tersebut dilakukan tanpa pengeluran atau pengerukan media
penyaringnya, dan dapat dilakukan kapan saja.
Saringan pasir lambat "Up Flow"
ini mempunyai keunggulan dalam hal pencucian media saringan (pasir) yang
mudah, serta hasilnya sama dengan saringan pasir yang konvesional.
Kapasitas pengolahan dapat
dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
III. KRITERIA PERENCANAAN
SARINGAN PASIR LAMBAT "UP FLOW"
Untuk merancang saringan pasir lambat "Up Flow", beberapa kriteria perencanaan
yang harus dipenuhi antara lain :
-
Kekeruhan air baku lebih kecil 10 NTU. Jika lebih besar dari 10 NTU perlu dilengkapi dengan bak pengendap dengan atau tanpa bahan kimia.
-
Kecepatan penyaringan antara 5 - 10 M3/M2/Hari.
-
Tinggi Lapisan Pasir 70 - 100 cm.
-
Tinggi lapisan kerikil 25 -30 cm.
-
Tinggi muka air di atas media pasir 90 - 120 cm.
-
Tinggi ruang bebas antara 25- 40 cm.
-
Diameter pasir yang digunakan kira-kira 0,2-0,4 mm
-
Jumlah bak penyaring minimal dua buah.
Unit pengolahan air dengan saringan
pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku yang digunakan yakni air sungai
atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi.
Jika tingkat kekeruhan air
bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka agar supaya
beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan
peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan
"Up Flow" dengan media berikil atau batu pecah.
Secara umum, proses pengolahan
air bersih dengan saringan pasir lambat Up Flow sama dengan saringan pasir
lambat Up Flow terdiri atas unit proses:
- Bangunan penyadap
- Bak Penampung / bak Penenang
- Saringan Awal dengan sistem "Up Flow"
- Saringan Pasir Lambat Utama "Up Flow"
- Bak Air Bersih
- Perpipaan, kran, sambungan dll.
Kapasitas pengolahan dapat dirancang
dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
IV. PERCONTOHAN
Salah satu rancangan detail konstruksi sistem saringan pasir lampat ‘Up
Flow" dengan kapasitas 100 M3 per hari ditunjukkan seperti pada
Gambar 4.a s/d gambar 4.c.
4.1. Bahan Yang
Digunakan
Bahan
yang digunakan untuk pembuatan percontohan unit pengolahan air bersih dengan
proses saringan pasir lambat Up Flow antara lain :
- Bak penenang manupun bak penyaring dibuat dengan konstruksi beton cor.
- Perpipaan menggunakan pipa PVC (poly vinyl chloride) diameter 4".
- Media filter yang digunakan yakni batu pecah (split) ukuran 2-3 cm untuk lapisan penahan, dan pasir sungai/pasir silika untuk lapisan penyaring.
Gambar 4.b : Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 M3/hari. Potongan A -A.
Gambar 4.c : Rancangan " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 M3/hari. Potongan B-B dan C-C.
Salah satu contoh unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat "Up
Flow" adalah unit ala pengolah air yang dibangun di Pesantren La Tansa,
Lebak, Jawa barat, dengan kapasitas 100 M3/hari seperti ditunjukkan
pada gambar desain seperti pada Gambar 5.
Gambar 5 : Unit Pengolahan Air Bersih dengan Saringan pasir lambat
dengan arah aliran dari bawah ke atas (Up Flow) yang sedang beroperasi.
Kapasitas 100 M3/hari.
Lokasi : Pesantren La tansa, Lebak, Jawa Barat.
Spesifikasi Alat adalah sebagai berikut :
Kapasitas Pengolahan : 100 m3 / hari
Bangunan Penyadap : Pipa PCV diameter 4" (berlubang)
Bak Penerima / Bak Penenang Awal : 80 cm x 300 cm x 250 cm
Saringan Up Flow Awal : Ukuran 200 cm x 300 cm x 225 cm
Tebal Lapisan Kerikil :
Batu Pecah, ukuran 2-3 cm = 20 cm
Batu Pecah, ukuran 1-2 cm = 10 cm
Pasir = 70 cm
Kecepatan Penyaringan = 16 m3/m2 hari
Bak Penenang kedua : 80 cm x 500 cm x 225 cm (2 buah)
Saringan Pasir Up Flow kedua : 200 cm x 500 cm x 200 cm (2 buah)
Kecepatan Penyaringan : 5 m3/m2 hari
Bak Air Bersih : 200 cm x 580 cm x 200 cm ( + 20 m3)
Tebal Lapisan Kerikil :
Batu Pecah, ukuran 2-3 cm = 20 cm
Batu Pecah, ukuran 1-2 cm = 10 cm
Pasir = 20 cm
Bahan Bangunan : beton semen cor
V. KEUNGGULAN SARINGAN PASIR LAMBAT DENGAN ARAH ALIRAN DARI BAWAH KE ATAS
Pengolahan air bersih menggunakan sistem saringan pasir lambat dengan arah
aliran dari bawah ke atas mempunyai keuntungan antara lain :
- Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.
- Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
- Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan berjalan secara fisika dan biokimia.
- Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.
- Perawatan mudah karena pencucian media penyaring (pasir) dilakukan dengan cara membuka kran penguras, sehingga air hasil saringan yang berada di atas lapisan pasir berfungsi sebagai air pencuci. Dengan demikian pencucian pasir dapat dilakukan tanpa pengerukan media pasirnya.
VI. HASIL PENGOLAHAN
Berdasarkan hasil uji coba alat pengolah air saringan pasir lambat Up Flow
yang telah dibangun di Pesantren La Tansa, Lebak, Jawa Barat, dengan kapasitas
operasi 120 M3/Hari, didapatkan hasil analisa kualias air sebelum
dan sesudah pengolahan seperti pada Tabel (1).
Dari hasil analisa tersebut dapat dilihat bahwa dengan teknologi saringan
pasir lambat tersebut dapat menurunkan zat besi dari 1,16 mg/lt menjadi
0,36 mg/lt. Konsentrasi ammonium juga turun dari 0,4 mg/lt menjadi tak
terdeteksi.
Dari hasil analisa air tersebut secara umum dapat diketahui bahwa hasil
air olahan dengan saringan pasir lambat dengan arah aliran dari bawah ke
atas tersebut sudah memenuhi syarat sebagai air bersih, dan jika direbus
sudah dapat digunakan sebagai air minum sesuai dengan standar kesehatan.
VII. OPERASI DAN
PERAWATAN
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengoperasian saringan pasir
lambat dengan arah aliran dari atas ke bawah antara lain yakni :
- Kecepatan penyaringan harus diatur sesuai dengan kriteria perencanaan.
- Jika kekeruhan air baku cukup tinggi sebaiknya kecepatan diatur sesuai dengan kecepatan disain mimimum (5 M3/M2.Hari).
- Pencucian media penyaring (pasir) pada saringan awal (pertama) sebaiknya dilakukan minimal setelah 1 minggu operasi, sedangkan pencucian pasir pada saringan ke dua dilakukan minimal setelah 3 - 4 minggu operasi.
- Pencucian media pasir dilakukan dengan cara membuka kran penguras pada tiap-tiap bak saringan, kemudian lumpur yang ada pada dasar bak dapat dibersihkan dengan cara mengalirkan air baku sambil dibersihkan dengan sapu sehingga lumpur yang mengendap dapat dikelurakan. Jika lupur yang ada di dalam lapisan pasir belum bersih secara sempurna, maka pencucian dapat dilakukan dengan mengalirkan air baku ke bak saringan pasir tersebut dari bawah ke atas dengan kecepatan yang cukup besar sampai lapisan pasir terangkat (terfluidisasi), sehingga kotoran yang ada di dalam lapisan pasir terangkat ke atas. Selanjutnya air yang bercampur lumpur yang ada di atas lapisan pasir dipompa keluar sampai air yang keluar dari lapisan pasir cukup bersih.
PENUTUP
Aspek yang paling menarik dari sistem saringan pasir lambat
adalah pengoperasiannya sederhana, mudah dan murah. Apabila konstruksi
saringan dirancang sesuai dengan kriteria perencanaan, maka alat ini dapat
menghasilkan hasil yang baik dan murah. Di dalam proses saringan pasir
lambat ini selain terjadi penyaringan secara fisik juga terjadi proses
biokimia. Mikroorganisme yang hidup dan menempel pada permukaan media menyaring
dapat menguraikan senyawa organik, amonium serta senyawa mikro polutan
lainnya. Selain itu dengan proses saringan pasir lambat juga dapat menurunkan
zat besi dan mangan yang ada dalam air baku.
Sistem saringan pasir lambat ini sangat sesuai diterapkan di daerah pedesaan
di negara- negara berkembang, khususnya di Indonesia, karena sistem ini
cukup sederhana baik dari segi konstruksi operasionalnya , serta biaya
operasinya sangat murah. Di samping itu, sistem saringan pasir lambat ini
dapat dirancang mulai dari kapasitas yang kecil sampai kapasitas yang besar.
DAFTAR
PUSTAKA
- Annonimous, "Design Criteria For Waterworks Facilities", Japan Water Works Association, 1978.
- Tambo, N., and Okasawara, K., "Jousui no Gijutsu", Gihoudo Shuppan, Tokyo, 1992.
- Viessman, W. JR.and Hammer, "Water Supply And Pollution Control", Fourth Edition, Harper & Row Publishers, New York, 1985.
Tabel 1 : Hasil Analisa Air Baku dan Air Olahan
No. | Sifat Fisika | Satuan | Air Baku | Air Olahan | Standar | |
1 | Keadaan | - | - | - | - | |
2 | Bau | - | - | - | tak berbau | |
3 | rasa | - | - | - | tak berasa | |
4 | Suhu | oC | 27,7 | 27,7 | normal | |
5 | Kekeruhan | NTU | 28,8 | 4,8 | 5 | |
6 | Warna | Pt-Co | 25 | 0,9 | 50 | |
7 | Daya Hantar Listrik | mmhos/cm | 75 | 79 | ||
Sifat Kimia | ||||||
8 | pH | - | 6,9 | 7,0 | 6,5 - 9,0 | |
9 | Jumlah Zat Padat | mg/lt | 65 | 63 | 1500 | |
10 | Karbon dioksida bebas | mg/lt | - | - | - | |
Karbon dioksida agresif | mg/lt | - | - | - | ||
11 | Alkalinitas : | - | ||||
a. phonolphtalein | mg/lt CaCO3 | - | - | - | ||
b. Total | sda | 24,2 | 24,6 | - | ||
c. hidroksida | sda | - | - | - | ||
d. karbonat | sda | - | - | - | ||
e. bikarbonat | sda | - | - | - | ||
12 | Kesadahan | sda | - | - | 500 | |
13 | Kalsium | mg/lt -CaCO3 | 5,9 | 6,1 | 200 | |
14 | Magnesium | sda | 17,3 | 17,4 | 150 | |
15 | Besi Total | mg/lt-Fe | 1,16 | 0,36 | 1,0 | |
Terlarut | sda | - | - | - | ||
16 | Mangan | mg/lt-Mn | negatip | negatip | 0,5 | |
17 | Ammonium | mg/lt-NH4+ | 0,4 | ttd | - | |
18 | Nitrit | mg/lt-NO2 | negatip | negatip | 1,0 | |
19 | Nitrat | mg/lt-NO3 | - | - | 10 | |
20 | Angka Permanganat | mg/lt | 1,25 | 1,0 | 10 | |
21 | Khlorida | mg/lt-Cl- | 1,50 | 1,55 | 600 | |
22 | Sulfat | mg/lt-SO4- | 1,0 | 1,0 | 400 |
Pembangunan bak penyaringan
Konstruksi beton penyangga media penyaring
Pengisian lapisan kerikil
Bak penenang ke dua
Pengisian media pasir ke dalam bak penyaringan
Saluran irigasi yang digunakan sebagai air baku yang akan diolah.
Bak penenang awal
Bak penenang ke dua
Konstruksi saluran penguras untuk pencucian media filter.
Bentuk alat pembubuh khlorine atau kaporit (bentuk tablet).
Unit pengolahan air bersih dengan proses saringan
pasir lambat "Up Flow" yang sedang beroperasi
INFORMASI PENGADAAN BAHAN :
Bahan pembuatan bak filter dapat dibeli di toko-toko bahan material biasa.
Kaporit dapat dibeli di toko bahan kimia
INFORMASI SELENGKAPNYA HUBUNGI :
Nusa Idaman Said, Haryoto Indriatmoko, Nugro Raharjo, Arie Herlambang
Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair
Direktorat Teknologi Lingkungan
Kedeputian Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Jl. M.H. Thamrin No. 8, Jakarta Pusat
Telp. 3169769, 3169770
Fax. 3169760
Email : air@server.enviro.bppt.go.id
http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Pasir/pasir.html
Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.