alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Sabtu, 31 Januari 2015

BANK DUNIA, IMF, DAN WTO, --SAP (STRUTUR ADJUSMENT PROGRAM) MENCIPTAKAN KEMISKINAN

Bank Dunia, IMF, Dan WTO, -- SAP (STRUKTUR ADJUSMENT  PROGRAM), MENCIPTAKAN KEMISKINAN
Oleh : Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Kebijakan globalisasi ekonomi, sebagaimana dijalankan oleh Bank Dunia dan IMF, dan WTO, sesungguhnya jauh lebih banyak menciptakan kemiskinan, ketimbang memberikan jalan keluar.  Ada 2 contoh berikut ; SAP (Structural Adjustment Program/Program Penyesuaian Struktural) dan juga dampak produksi berorientasi ekspor (exsport-oriented production)  pada bidang pertanian dan mata pencaharian/penghidupan. Rakyat yang sebelumnya sudah terbiasa memberi makan diri mereka sendiri, kini semuanya berubah total.  Mereka tidak mandiri/bergantung, lapar, dan jatuh miskin.

SAP (Structural Adjustment Program)
Perdagangan bebas mensyaratkan :

Semua negara menggunakan model perekonomian yang sama. Dengan demikian, ia menghilangkan segala variasi yang bisa jadi memperlambat laju gerak operasi global dari, perusahan-perusahan besar terpenting sewaktu mereka, mencari sumber-sumber daya yang baru, pasar, dan tenaga kerja yang murah. Bagi perusahan-perusahan global tidaklah efisien apabila setiap bangsa di dunia dibiarkan mengungkapkan sendiri-sendiri  apa yang paling baik bagi rakyatnya melalui undang-undang mereka yang demokratis.

Undang-undang  Dalam Negeri itu mungkin disusun untuk :

Melindungi sumber-sumber daya dan lingkungan hidup atau, pelayanan-pelayanan social bagi kaum miskin; atau  hak-hak para pekerja setempat; atau mungkin membantu bisnis-bisnis kecil yang sedang berjuang untuk terus hidup;  atau mensyaratkan  investor   asing untuk tetap menyimpan investasi mereka pada suatu tempat  untuk sementara  waktu; atau mensyaratkan para inverstor asing untuk  menyertakan rekan-rekan dari dalam negeri. Undang-undang semacam itu dianggap sebagai rintangan yang sangat mengganggu bagi kebebasan perusahaan besar.

Karenanya, undang-undang seperti itu harus (di) lenyap (kan).

Dalam konteks itulah, peran khusus WTO adalah merancang :
Aturan-aturan global yang seragam untuk semua negara---satu aturan untuk semua Dan secara khusus menentang undang-undang nasional di  bidang lingkungan hidup dan social yang,  dianggap menjadi penghalang bagi perdagangan bebas perusahaan besar.

Oleh karena mendapat kekuasaan untuk :

  1. Memberlakukan ketentuan secara ketat,
  2. WTO saat ini, bisa menjatuhkan berbagai hukuman yang berat, kepada bangsa-bangsa domokratis yang menyimpang dari peraturan mereka.
  3. Salah seorang mantan presiden WTO, Renato Ruggiero, pada 1998, mengatakan secara terang-terang WTO akan menjadi “konstitusi baru bagi perekonomian global,” (sejak pertemuan di Seattle, pernyataan-pernyataan seperti itu tidak pernah mencuat lagi).
Pendek kata di sini, Bank Dunia dan IMF memiliki instrument yang sangat kuasa dan berbahaya.  Namanya, SAP (Structur Adjustment Program). 
Berbagai kebijakan yang sangat buruk dan merugikan itu,
Dirancang untuk membentuk kembali secara langsung seluruh perekonomian nasional, sehingga tepat dan sesuai dengan semua negara lainnya.dan, dengan idiologi perdagangan bebas. Pada saat ini, penyesuaian-penyesuaian seperti itu ditentukan secara rutin,  sebelum Bank Dunia dan IMF menyetujui dana pinjaman, bahkan kepada negara-negara yang teramat miskin sekalipun.

Berikut ini adalah contoh beberapa persyaratan SAP:

·         Penghapusan tarif-tarif yang membantu industri-industri kecil local, agar tetap mampu bertahan hidup berhadapan dengan perusahaan-perusahaan besar global.--- Padahal tarif-tarif tersebut sesungguhnya memberi ruang bernafas bagi negara-negara miskin untuk berkembang secara internal dalam menghadapi pesaing-pesaing yang lebih besar dan juga kaya.
·         Penghapusan berbagai peraturan dalam negeri  yang mungkin dapat menghambat atau terlalu banyak mengatur masuknya investasi  luar negeri.—Dengan demikian ini memungkinkan para pemodal dan korporasi global untuk secara bebas masuk dan dengan mudah menguasai bisnis-bisnis di tingkat local, bahkan tak jarang di seluruh lini perekonomian.
·         Penghapusan control harga---bahkan berkenaan dengan kebutuhan pokok seperti pangan dan air sekalipun---tetapi secara tidak adil mewajibkan pemberlakuan control atas upah.--- Alhasil sudah  dapat dipastikan, para pekerja yang upahnya sudah teramat kecil, menjadi semakin kecil kemampuannya untuk bisa bertahan hidup.
·         Pengangguran secara drastik berbagai pelayanan social dan badan-badan yang menjalankannya---seperti pelayanan kesehatan, dan perawatan medis, pendidikan, bantuan pangan, bantuan usaha kecil, angkutan, sanitasi, air, pelatihan kerja, dan lain-lain kerapkali, berbagai pelayanan tersebut diprivatisasi sehingga bantuan yang sebelumnya diterima cuma-cuma oleh rakyat, kini memerlukan biaya yang ujung-ujungnya harus dibayarkan kepada korporasi-korporasi global.  Akibatnya, begitu banyak orang tidak mampu membayarnya, sehingga secara otomatis mereka tersingkir dan terpelanting keluar dari system.
·         Penghancuran secara agresif atas program-program rakyat,--- yang menjadi sarana bagi bangsa-bangsa untuk bisa mencapai kemandirian dalam hal kebutuhan pokok, seperti pangan, angkutan, industri dasar, dan sumber-sumber daya dasar. Tentu saja, korporasi-korporasi global tidak bisa mendapatkan keuntungan, jika bangsa-bangsa mampu memecahkan persoalan dalam negeri mereka sendiri; keuntungan korporasi global itu berasal dari pengembangan proses-proses penciptaan “nilai tambah”, khususnya melalui system perdagangan global.
·         Perubahan yang dipaksakan  secara cepat atas perekonomian dalam negeri untuk menekankan produksi ekspor; --- yang biasanya dikelola tanpa ketatalaksanaan langsung dari para investor asing dan korporasi global. Produksi yang terversifikasi secara local dan berskala kecil---seperti dalam bidang industri atau pertanian---akan digulung dengan cepat dan digantikan dengan produksi berorientasi ekspor yang terspesialisasi dalam skala besar.
·         Dalam hal ini, teori  yang berlaku adalah ketika negara-negara memusatkan produksi mereka pada sejumlah kecil produksi ekspor, maka mereka akan mendapatkan cadangan devisa (foreign exchanges) dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Dengan demikian, mereka akan mampu membeli barang-barang kebutuhan mereka di pasar-pasar asing.

Rumusan terakhir, dalam prakteknya, gagal total.

Pasalnya, dengan memusatkan perhatian pada produk ekspor berskala besar, meskipun hanya dalam beberapa jenis produksi saja, negara-negara pengekspor seringkali menambah besarnya persediaan yang sudah berlimpah di pasar. Hal itu akan  menekan harga-harga menjadi di bawah biaya produksi, dan membuat negara-negara menjadi jauh lebih rentan. Sistem seperti itu menyebabkan negara-negara bergantung sepenuhnya pada pasar dan, berbagai system penetapan  harga yang tidak bisa mereka control. Sementara di sisi lain, mereka yang telah kehilangan kemampuan dalam menentukan berbagai tujuan hidup mereka sendiri. Sensasi terbesar dalam hal ini tentu saja adalah bagaimana mungkin para promoter dari sejumlah peraturan berikut beberapa persyaratannya seperti itu bisa-bisanya, mengemukakan bahwa peraturan-peraturan itu dapat membantu bangsa-bangsa keluar dari kemiskinan?  Padahal, peraturan itu jelas-jelas merupakan suatu cetak biru dalam menciptakan ketergantungan dan kemiskinan.

Kegagalan Program Penyesuaian Struktur (SAP).

Kendati IMF dan Bank Dunia telah berusaha meluaskan program penyesuaian struktur (SAP),---akan tetapi, mereka tidak dapat mengklaim bahwa mereka telah berhasil mencapai tujuan mereka  barang secuil pun. Ini terbukti dari sejumlah penelitian intern IMF yang mengungkapkan bahwa begitu banyak program penyesuaian struktur (SAP) :
  1. telah gagal dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
  2. mengurangi devisit fiscal,
  3. menyeimbangkan nenaca pembayaran,
  4. menurunkan inflasi, maupun
  5. mengurangi hutang luar negeri.
Dalam kenyataannya, antara l980 dan l997, hutang negara-negara yang berpendapatan rendah bertambah sebesar 544 persen, sedangkan hutang negara-negara yang berpendapatan menengah bertambah sebesar 481 persen.

Dengan kata lain, ini berarti negara-negara miskin yang dengan susah payah menjalani program penyesuaian structural (SAP) tersebut, hanya semata-mata melanjutkan andil mereka dalam pemindahan kekayaan ke dunia industri. Satu setengah decade lalu, kami mengibaratkan lembaga-lembaga Bretton Woods layaknya dokter-dokter abad pertengahan. Adapun penyakit pasiennya, para dokter itu dengan mudahnya menepelkan lintah pada pasien, yang lantas dari lintah itulah, darah pasien dipaksa mengalir keluar.  


Pada awal melenium baru ini, perlakuan keji dari dokter semacam itu sesungguhnya telah dibongkar habis, dalam puluhan penelitian dan aksi protes di jalanan yang semakin vocal. Kendati demikian, jawaban IMF dan Bank Dunia sejauh ini hanya bersifat kosmetik belaka. Tak ayal, “lintah-lintah baru “ pun tetap digunakan, hanya saja dandanannya telah dipoles para pakar humas (public relations).  Perlakuan “baru” semacam itu, bagaimanapun juga, tidak ada gunanya.  Kiranya, teriakan massa yang semakin keras, baik di Utara maupun di Selatan, mampu menciptakan pembaruan nyata dan menjadi obat mujarab. (I Wibowo : 89-90). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.