alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Sabtu, 31 Januari 2015

KEMISKINAN GLOBAL DAN KETIMPANGAN

Kemiskinan Global & Ketimpangan
Oleh : Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Globalisasi  Ekonomi Membantu Kaum Miskin?

Dalam beberapa tahun lalu, kita sungguh disesaki oleh sekian pernyataan yang digembar-gembor para penganjur globalisasi ekonomi maupun pemimpin lembaga-lembaga Bretton Woods (dalam  hal ini Bank Dunia, IMF, WTO dan lain sebagainya). Bahwa tujuan utama mereka mendesakkan globalisasi ekonomi, katanya  untuk membantu kaum miskin di dunia.

Mereka berpendirian bahwa dengan menghilangkan sejumlah hambatan terhadap perdagangan perusahan besar dan berbagai investasi keuangan, maka itulah gagasan terbaik menuju pertumbuhan. Dan jalan terbaik untuk keluar dari kemiskinan. Mereka juga berpendapat bahwa berjuta-juta orang yang secara terang-terangan menentang model globalisasi ekonomi akan merugikan kaum miskin sendiri.  

Setiap orang dipersilahkan minggir dan “menyerahkan” seluruh persoalan itu kepada “perusahaan-perusahaan besar, bankir-bankir, dan birokrasi-birokrasi global” untuk, melakukan perencanaan dan pemecahan atas berbagai persoalan global. Klaim-klaim tadi secara rutin dan berulang muncul di media. Seorang kolumnis nasional terkemuka, misalnya mengungkapkan, “ para pemrotes tengah memblokade satu-satunya jalan bagi orang-orang miskin di dunia untuk bisa keluar dari kemiskinan”. Dengan kata lain, jika protes-protes tersebut berhenti, maka IMF, Bank Dunia, WTO, Nike, dan Monsanto akan membawa “berkah keselamatan bagi kaum miskin”.

Siapa Yang Beruntung?      

Sejauh ini, hampir seluruh fakta dalam beberapa decade lalu (l973—2000)—masa pengaruh tercepat dari globalisasi ekonomi—menunjukkan bahwa ‘globalisasi ekonomi’ justru menciptakan  kondisi ‘sebaliknya’ dari klaim para penganjurnya. Pada saat ini, bukti-bukti tentang ‘kegagalan globalisasi’ yang dimunculkan oleh para tokoh pendukungnya ternyata tidak kalah gaungnya dengan yang diteriakkan oleh para ‘tokoh oposisinya’.  Nampak jelas sekali di sana, betapa kemiskinan dan ketimpangan melaju dengan pesat dan sesaat kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Sebuah laporan PBB (UNDP, 1999) menemukan ‘bukti’ bahwa :

Ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin di dalam negara maupun antar negara dengan  sangat cepat meluas. Adalah system perdagangan dan system keuangan global yang menjadi salah satu penyebab utamanya, tulis laporan itu. Bahkan CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) menegaskan kesimpulan laporan PBB tersebut : ‘globalisasi’ nyata-nyata telah menciptakan ‘ketimpangan yang teramat besar’. Manfaat globalisasi tidak menyentuh kalangan kaum miskin, demikian ungkap CIA.

Dan proses itu secara tak terelakkan telah menimbulkan ‘protes dan kekacauan (chaos) global’ yang semakin besar. Robert Wade dari London School of Economics dalam The Economiist (2001),  menulis : “Ketimpangan global dengan cepatnya menjadi kian memburuk….Perubahan teknologi dan ‘liberalisasi keuangan’ mengakibatkan pesatnya peningkatan jumlah rumah tangga secara tidak proporsional pada tingkatan yang ‘sangat kaya di satu sisi’ tanpa berpengaruh pada ‘penyusutan jumlah rumah tangga miskin’ di sisi lain……

Dari 1988-1993, bagian pendapatan dunia yang diterima oleh 10 persen penduduk termiskin dari penduduk dunia, menyusut lebih dari seperempatnya, sementara bagian yang diterima oleh 10 persen penduduk terkaya meningkat 8 persen.Berbagai idiologi dan aturan globalisasi ekonomi—termasuk perdagangan bebas, deregulasi, privatisasi, dan penyesuaian struktural----telah menghancurkan penghidupan berjuta-juta orang.

Bahkan, tak sedikit dari mereka menjadi :

  1. Gelandangan, tidak mempunyai tanah, dan  hidup dalam gelimang kelaparan.
  2. Mereka pun tidak memiliki akses lagi, terhadap pelayanan public yang paling pokok, seperti kesehatan dan perawatan medis, pendidikan, sanitasi,  air bersih, angkutan umum, pelatihan kerja dan sebagainya.
  3. Sebuah catatan menunjukkan bahwa ‘globalisasi ekonomi’ membuat segala sesuatu menjadi ‘lebih buruk’, dan bukannya ‘lebih baik’, bagi orang–orang miskin.
 Terlebih, jika perundingan dalam GATS (General Agreement on Trade in Services)–WTO akhirnya ditandatangani—

Maka pelayanan public yang paling minimal yang pernah ada sekalipun akan benar-benar lenyap. Ada beberpa contoh khusus di mana sejumlah perbaikan bisa dicapai di negara Dunia Ketiga, dalam jangka waktu yang singkat. Lembaga-lembaga Bretton Woods suka sekali ‘mengembar-gemborkan’ berbagai contoh perbaikan tersebut kendati dalam kenyataannya, sejumlah keuntungan dari “pertumbuhan” itu teramat pendek umurnya.

Bagaimanapun juga, semua keuntungan : telah jatuh ke tangan kaum elit di negara-negara itu dan, para eksekutif korporasi global yang berada di pusat proses itu; yang pada saat ini, penghasilan tahunan dari para eksekutif itu teramat besar, bahkan hingga  mencapai  berpuluh-puluh atau beratus-ratus juta dollar. Seluruh angka itu ingin menunjukkan bahwa ‘jurang perbedaan’ antara para eksekutif papan atas dengan para pekerja serta orang biasa semakin bertambah besar. Bahkan di antara yang disebut poster childen” perdagangan bebas.

“Macan-macan Asia” (seperti Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia), perbaikan yang terjadi disana sesungguhnya bukanlah hasil  kemauan mereka mengikuti dengan tekun berbagai aturan rezim Bretton Woods (Bank Bunia, IMF, WTO), dan lain sebagainya, melainkan dari kemauan mereka sendiri untuk melakukan “kebalikan” dari apa yang diperintahkan oleh lembaga-lembaga tersebut”.

Sebagai contoh, negara-negara Asia yang telah mengalami sejumlah keberhasilan dalam mengembangkan perekonomiannya. Mereka tidak memotong semua tarif seperti yang dimintakan oleh lembaga-lembaga globalisasi. Mereka juga tidak memperbolehkan masuknya perusahaan asing tanpa control, dan  tidak menghapuskan dukungan kepada bisnis dalam negeri, perekonomian local, maupun pertanian local.

Ahli-ahli, negara-negara itu justru lebih memilih menerapkan, “penggantian impor” dengan cara mengembangkan kemampuan mengelola berbagai kebutuhan pokok mereka secara internal, ketimbang mengubah system mereka secara total, ke dalam system produksi berbasis ekspor.  Proses yang disebut terakhir ini, yang dipromosikan dengan sangat gencar oleh IMF dan Bank Dunia Telah mengakibatkan begitu banyaknya negara mengekspor sebagian besar produksi pangan mereka ke luar negeri.

Padahal, rakyat di dalam negeri sendiri megalami kelaparan atau, bahkan, yang lebih tragis lagi, mati karena dililit kelaparan. Bermula dari upaya menentang model ekonomi yang dipaksakan oleh lembaga-lembaga Bretton Woods.

Sejumlah negara berhasil mengelola dirinya untuk tetap bebas dari volatilitas pasar-pasar ekspor.

Namun, ketika akhirnya mereka  tunduk dan menurut kepada tekanan-tekanan berat IMF dan Bank Dunia, mereka merasakan bahwa hari-hari kejayaan mereka seketika itu juga lenyap, berganti menjadi krisis keuangan Asia yang teramat memilukan (l997-l998). Adalah aturan-aturan baru perdagangan bebas bagi keuangan dan korporasi global yang telah menjadi biang kerok  itu semua. Bagaimanapun juga, sebagian besar negara miskin tidak banyak menikmati keuntungan dari globalisasi.

Setelah 3 decade menerima “pil-pil keras” dari IMF dan Bank Dunia, dan kurang dari 1 decade menerima kebijakan-kebijakan WTO, mereka akhirnya paham dan sadar betapa globalisasi menjual janji palsu. Seluruh kebijakan lembaga-lembaga Bretton Woods tidak dirancang untuk memberi keuntungan kepada negara-negara miskin, melainkan kepada negara-negara industri kaya dan berbagai korporasi global mereka.  Itulah sebabnya mengapa begitu banyak negara miskin  di dunia berusaha untuk bertahan dan bersatu padu menentang WTO di Seattle pada 1999..
(Baca Tulisan-tulisan mengenai: “Dampak-dampak globalisasi bagi negara-negara Selatan”, oleh Walden Bello, Vandana Shiva, Martin Khor, dan Victoria Tauli-corpuz-I.Wibowo, 2003)
  
Pertanyaannya sekarang adalah :

Apakah lembaga-lembaga globalisasi itu benar-benar memahami apa yang telah mereka perbuat? Ataukah mereka hanya semata-mata secara membabi buta mengikuti model idiologi yang telah gagal itu?

Kesimpulan terburuk dari pertanyaan tersebut---dan itu kini banyak dipercaya---adalah bahwa lembaga-lembaga itu pasti mengetahui apa yang tengah dan telah mereka perbuat.  Mereka bertugas melenyapkan segala bentuk rintangan yang menghalangi aliran bebas dari  modal global, seperti halnya ketika modal global itu berusaha untuk membuka dengan paksa kantong-kantong sumber daya alam terakhir dunia, pasar-pasar, dan tenaga kerja murah  (dan selalu berusaha agar tenaga itu tetap murah).  Dengan mengatakan bahwa mereka melakukan semuanya itu untuk membantu kaum miskin, itu, adalah sebuah “sinisme tingkat tinggi”.

Boleh jadi, ungkapan paling jelas mengenai kesenjangan antar klaim-klaim Bank Dunia dan IMF dengan kenyataan di lapangan, dalam kaitannya dengan negara-negara termiskin di dunia, muncul di tengah pertemuan Bank Dunia/IMF pada April 2000 di Wasington D.C. Dalam konferensi pers tersebut, mereka mencela para domonstran sebagai “telah menghalangi”. Setiap hari, para pemimpin Bank Dunia dan IMF menggelar konferensi pers yang diliput secara luas. membat upaya dan kemampuan Bank Dunia dan IMF untuk membantu kaum miskin”.

Kemiskinan, kata mereka adalah buah dari kesalahan para domonstran. Akan tetapi, pada hari yang sama, ketika sejumlah bank tengah melancarkan klaim tersebut, negara-negara yang tergabung dalam G-77 (Negara-negara termiskin di dunia) mengadakan pertemuan.  Mereka pun mengeluarkan pernyataan bersama yang isinya mengutuk IMF dan Bank Dunia seraya melayangkan pujian dan dukungan yang kuat kepada para demonstran.

( I.Wibowo, 2003, :3-8).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.