Kelapa Sawit Pemerintah
Diminta Tangguhkan
Izin Kebun
Oleh : Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Aktivis lingkungan hidup mengklaim perkebunan kelapa sawit telah menganggu habitat satwa
dan tanaman liar. Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah menagguhkan
penerbitan izin baru perkebunan kelapa sawit dan mengevaluasi izin lama yang
belum direalisasikan.
Sejak 2006 sampai November 2007, sedikitnya 544
orangutan (termasuk hewan yang dilindungi—penulis) sudah mati akibat pembukaan
dan pembakaran hutan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah jangan menutupi soal
ini dan harus segera mencari solusinya,” kata Direktur Centre for Orangutan
Protection (COP) Hadi Baktiantoro kepada Kompas, Senin (5-11-2007) di Jakarta. Data
COP menyebutkan, sebanyak 368 orangutan di Kalimantan Tengah mati selama tahun 2006. Adapun sampai November
2007, terdapat 176 orangutan yang mati. Dalam
kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia Karen Sjarif
mengatakan pembukaan perkebunan kelapa sawit yang tidak ramah lingkungan, telah
memusnakan aneka jenis flora asli Indonesia.
Sebenarnya, Indonesia bisa memetik keuntungan
lebih besar dari ekspor flora tanpa perlu merusak lingkungan”, kata Karen.
Adapun Direktur Jenderal Perkebunan Departemen
Pertanian Achmad Mangga Barani mengatakan, hal tersebut merupakan isu lama
untuk menyelehkan kelapa sawit Indonesia. Pemerintah saat ini aktif berkampanye
di luar negeri untuk menagkalnya. Secara terpisah, Ketua Harian Gabungan
Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun mengatakan gapki selalu
menekankan kepada anggotanya agar mematuhi 112 indikator pengelolaan sawit
lestari sesuai Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Oleh karena itu, Derom
meminta aktivs lingkungan melaporkan perusahaan perkebunan yang merusak
lingkungan ke polisi sesuai hukum (HAM, Kompas, 7-11-2007).
Terakhir laporan
dan tayangan di Metro TV, pertengahan November 2007, tetang matinya
gajah-gajah di sekitar perkebunan kelapa sawit di Sumatera yang dalam beberapa
tahun belakangan ini tercatat lebih dari 50 ekor. Walaupun
demikian tidak ada tanggapan pemerintah tentang kejadian yang merugikan
ini, sehingga nampaknya pemerintah lebih mementingkan faktor ekonomi daripada
pelestarian hutan, serta flora dan faunanya.
Memprihatinkan!!!. Itulah
sekelumit contoh tentang akibat pengrusakan
lingkungan karena alih fungsi hutan menyebabkan “kemiskinan
alamiah/lingkungan hidup binaan” (Internet).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.