alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Rabu, 28 Januari 2015

PAJAK DAN SUBSIDI UNTUK PERUBAHAN IKLIM

Pajak dan Subsidi untuk Perubahan Iklim:
Oleh.Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Sebuah tulisan untuk menyambut pertemuan tingkat tinggi Menteri Keuangan untuk Perubahan Iklim, Warsawa, Polandia, 8-9 Desember 2008 Kamis, 18 Desember 2008 “Disruption to agriculture would affect food production, raising prices and lowering quality and availability of vegetables….” (The Australian, 8 Maret, 2007)

Pendahuluan

·    Pernyataan yang termuat dalam The Australian, koran nasional Australian, di atas mungkin mewakili dari banyak pernyatan tentang perubahan iklim dan dampaknya.
·         Saat ini, banyak orang membicarakan dan mendiskusikan isu tersebut.
·         Beberapa di antaranya justru bergerak lebih jauh dengan menekan pemerintah untuk merespon dan mengambil kebijakan khusus dalam perubahan iklim.
Terkait dengan hal tersebut, tulisan ini berupaya menilai penerapan kebijakan perpajakan dan subsidi untuk mengatasi perubahan iklim dan implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi.Adalah jelas bahwa perubahan iklim dapat merusak sumber daya alam. Simulasi penelitian dampak perubahan iklim terhadap pasokan dunia, yang dilakukan oleh Rosenzweig and Parry (1994), menunjukkan bahwa perubahan iklim mengakibatkan terjadinya perbedaan jumlah produksi sereal di antara negara maju dan negara berkembang semakin besar. Kondisi ini memicu terjadinya kurangnya asupan nutrisi atau yang lebih dikenal dengan malnutrisi.

Jones (2001) mencatat bahwa perubahan iklim berkontribusi pada peningkatan produktivitas padang rumput dan perubahan harga yang disebabkan oleh perubahan pola produktivitas pertanian global. Lebih lanjut, perubahan iklim juga menyebabkan kerusakan pada kesehatan manusia. Mengingat sistem iklim dunia merupakan bagian dari proses kehidupan yang rumit, perubahan iklim selalu mempunyai dampak pada kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dampak perubahan iklim yang kemungkinan terjadi terhadap kesehatan manusia berkisar dari efek perubahan suhu yang dramtis hingga penyakit infeksi. Mc Michael dan koleganya memprediksi bahwa di masa depan akan banyak manusia mendapat resiko perubahan iklim yang ekstrim (Mc Michael et.al., p. 864, 2006). Dalam jangka panjang, kondisi ini akan mempengaruhi kekuatan manusia, kapabilitas penanganan sumber daya, mengurangi inovasi, ataupun menurunkan kualitas manusia secara umum. Jika hal tersebut terjadi, maka modal sumber daya manusia dalam sebuah negara akan menurun.

Pajak atas emisi dan subsidi
Untuk menangani kondisi yang disebabkan oleh perubahan iklim, pemerintah dapat menerapkan pajak atas emisi dan bahan bakar yang berasal dari fosil. Kebijakan ini dikenal sebagai pajak karbon (carbon taxes). Tujuan dari kebijakan ini adalah, untuk mengurangi emisi gas yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan dalam proses produksinya, dan juga untuk mengurangi jumlah bahan bakar fosil yang digunakan individu maupun perusahaan-perusahaan. Dengan menerapkan pajak-pajak tersebut, diharapkan perusahaan-perusahaan akan berupaya untuk berinovasi dan membangun manajemen limbahnya dengan baik, sehingga dapat mengurangi pembayaran pajak yang tentunya akan menaikkan ongkos produksi. Sejalan dengan hal tersebut, pajak atas bahan bakar fosil akan memicu peningkatan harga bahan bakar tersebut.Secara teori, seseorang akan mengurangi pemakaian bahan bakar ketika harganya naik. Dengan kata lain, pemerintah dapat menyelatmakan lingkungannya dengan menerapkan fitur pajak tersebut. Kebijakan lain yang mungkin dapat menjadi solusi untuk mengatasi perubahan iklim adalah dengan mengalokasikan subsidi bagi penelitian dan pengembangan upaya ramah lingkungan (climate-friendly research and development).

Tujuan dari subsidi ini adalah,
Untuk mengajak dan merangsang orang untuk mencari temuan atau teknologi baru bagi pembangunan proses produksi yang bersih. Sebagai misal, pemerintah memberikan subsidi bagi pengembangan teknologi untuk mengurangi polusi udara, atau bagi pencarian sumber energy terbarukan. Subsidi ini juga dapat menjadi solusi bagi dampak perubahan iklim yang sudah terjadi, semisal untuk penyelamatan mikro biologi yang kemungkinan hampir punah akibat pemanasan.
Dengan kata lain, subsidi untuk penelitian dan pengembangan diharapkan dapat mengatasi masalah yang sekarang dihadapi maupun yang nantinya akan terjadi.

Pajak plus subsidi lingkungan VS pertumbuhan ekonomi

Namun demikian, kebijakan tersebut (pajak dan subisidi untuk lingkungan) mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara negatif maupun positif. Pajak bagi bahan bakar fosil misalnya, kemungkinan dapat menurunkan daya beli masyarakat yang memicu turunnya permintaan sebagai akibat naiknya harga barang. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar tidak hanya digunakan oleh individu tetapi juga oleh perusahaan dalam proses produksi. Dalam kaitan ini, kemungkinan besar produsen akan mengalihkan pajak atas bahan bakar kepada konsumen. Konsekuensinya, harga barang naik, dan daya beli menurun.
Selanjutnya, jika konsumsi masyarakat menurun, pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat tersebut hidup kemungkinan besar akan turun sebagai akibat turunnya input konsumsi (dengan asumsi faktor lainnya konstan). Sebaliknya, Groth and Shcou (2004) berargumen bahwa dalam jangka panjang pajak untuk menyelamatkan lingkungan, semisal pajak karbon, mendukung konservasi sekaligus pertumbuhan ekonomi.

Perlu diingat bahwa pengurangan emisi gas dan penggunaan bahan bakar fosil berkontribusi bagi penyelamatan sumber daya alam seperti air, udara, dan kesuburan tanah. Dalam kaitan ini, aliran klasik pertumbuhan ekonomi menyatakan bahwa sumber daya alam merupakan bagian penting dari pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, subsidi untuk penelitian dan pengembangan upaya ramah lingkungan akan menaikkan pengeluaran pemerintah. Bagi Negara yang memiliki pemasukan yang rendah, kebijakan tersebut justru akan menambah beban bagi anggaran negaranya. Hal ini berarti bahwa dalam jangka pendek, pemberian subsidi bagi penelitian dan pengembangan upaya ramah lingkungan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, analisa lain ceritanya apabila suatu pemerintahan mempunyai cukup dana untuk mensubsidi. Amerika Serikat misalnya, pada tahun 2003 mengajukan dana USD 1.2 miliar untuk membangun kendaraan bebas polusi. Pada tahun 2005 mereka menaikkan anggaran untuk penelitian dan pengembangan energy sebesar USD 500 juta untuk membangun sumber energi bersih (Popp, p.311, 2006).

Harapannya, subsidi yang dikeluarkan akan memberikan hasil signifikan pada jangka panjang. Pemerintah Amerika berharap bahwa teknologi maju dan pengetahuan untuk mengatasi polusi akan menjadi input untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi di kemudian hari. Hal ini sejalan dengan pemikiran Romer (1994) tentang teori endogenous growth dimana investasi dalam sumber daya manusia dan pengetahuan sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi modal sumber daya manusia dan pengetahuan, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi. Di sinilah kemudian diperlukan kerjasama antara negara kaya dengan gas buang tinggi, dan negara kurang mampu yang biasanya mempunyai sumber daya alam yang dapat meredam laju perubahan iklim.

Kesimpulan

Adalah penting bagi pemerintah untuk merespon tekanan atas perubahan iklim dengan membuat kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan dan manusiawi tanpa menghapus kepentingan ekonomi. Tentu hal ini merupakan tugas yang tidak mudah bagi pemerintah untuk menghitung biaya implementasi kebijakan ramah lingkungan, yang kemungkinan dapat menurunkan laju pertumbuhan ekonomi. Namun, bukan berarti pemerintah tidak mempunyai solusi untuk itu. Tulisan ini mungkin dapat menjadi pemicu untuk diskusi lebih lanjut tentang bagaimana melindungi lingkungan kita dengan tetap mempertahankan kesejahteraan ekonomi.

Referensi
Cresswell, A 2007, ‘Climate change bad for health’, The Australian, Sidney.
Groth, C & Schou, P 2007, ‘Growth and non-renewable resources: The different roles of capital and resources taxes’, Journal of environmental economics and management, vol.53, pp.80-98.
Jones, R 2001, ‘An environmental risk assessment / management framework for climate change impacts assessments’, Natural Hazard, vol.23, Kluwer Academic Publishers, Nederland, pp.197-230. 
Mc Michael, A.J, Woodruff, R.E, & Hales, S 2006, ‘Climate change and human health: present and future risks’, The Lancet, vol.367, March 11, pp.859-60 
Popp, D 2006, ‘R&D subsidies and climate policy: is there a “free lunch”?’, Climatic Change, vol.77, pp. 311-341. 
Romer, P.M 1994, ‘The origins of endogenous growth’, Journal of economic perspective, vol.8. no.1, pp. 3-22.

Rosenzweig, C & Parry, M 1994, ‘Potential impacts of climate change on world food supply’, Nature, vol.367, Nature Publishing Group, pp. 133-139. (Internet).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.