Pajak dan
Subsidi untuk Perubahan Iklim:
Oleh.Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Sebuah tulisan untuk
menyambut pertemuan tingkat tinggi Menteri Keuangan untuk Perubahan Iklim,
Warsawa, Polandia, 8-9 Desember 2008 Kamis, 18 Desember 2008 “Disruption to agriculture would affect food
production, raising prices and lowering quality and availability of
vegetables….” (The Australian, 8 Maret, 2007)
Pendahuluan
· Pernyataan yang
termuat dalam The Australian, koran nasional Australian, di atas mungkin
mewakili dari banyak pernyatan tentang perubahan iklim dan dampaknya.
·
Saat ini, banyak orang membicarakan dan mendiskusikan isu tersebut.
·
Beberapa di antaranya justru bergerak lebih jauh dengan menekan pemerintah
untuk merespon dan mengambil kebijakan khusus dalam perubahan iklim.
Terkait dengan hal tersebut, tulisan ini berupaya menilai
penerapan kebijakan perpajakan dan subsidi untuk mengatasi perubahan iklim dan
implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi.Adalah jelas bahwa perubahan iklim
dapat merusak sumber daya alam. Simulasi penelitian dampak perubahan iklim
terhadap pasokan dunia, yang dilakukan oleh Rosenzweig and Parry (1994),
menunjukkan bahwa perubahan iklim mengakibatkan terjadinya perbedaan jumlah
produksi sereal di antara negara maju dan negara berkembang semakin besar.
Kondisi ini memicu terjadinya kurangnya asupan nutrisi atau yang lebih dikenal
dengan malnutrisi.
Jones (2001) mencatat bahwa perubahan iklim berkontribusi
pada peningkatan produktivitas padang rumput dan perubahan harga yang
disebabkan oleh perubahan pola produktivitas pertanian global. Lebih lanjut, perubahan iklim juga menyebabkan kerusakan pada kesehatan
manusia. Mengingat sistem iklim dunia merupakan bagian dari proses kehidupan
yang rumit, perubahan iklim selalu mempunyai dampak pada kesehatan manusia dan
makhluk hidup lainnya. Dampak perubahan iklim yang kemungkinan terjadi terhadap
kesehatan manusia berkisar dari efek perubahan suhu yang dramtis hingga
penyakit infeksi. Mc Michael dan koleganya memprediksi bahwa di masa depan akan
banyak manusia mendapat resiko perubahan iklim yang ekstrim (Mc Michael et.al.,
p. 864, 2006). Dalam jangka panjang, kondisi ini akan mempengaruhi kekuatan
manusia, kapabilitas penanganan sumber daya, mengurangi inovasi, ataupun
menurunkan kualitas manusia secara umum. Jika hal tersebut terjadi,
maka modal sumber daya manusia dalam sebuah negara akan menurun.
Pajak atas emisi dan
subsidi
Untuk
menangani kondisi yang disebabkan oleh perubahan iklim, pemerintah dapat
menerapkan pajak atas emisi dan bahan bakar yang berasal dari fosil. Kebijakan
ini dikenal sebagai pajak karbon (carbon taxes). Tujuan dari kebijakan ini
adalah, untuk mengurangi emisi gas yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan dalam
proses produksinya, dan juga untuk mengurangi jumlah bahan bakar fosil yang
digunakan individu maupun perusahaan-perusahaan. Dengan menerapkan pajak-pajak
tersebut, diharapkan perusahaan-perusahaan akan berupaya untuk berinovasi dan
membangun manajemen limbahnya dengan baik, sehingga dapat mengurangi pembayaran
pajak yang tentunya akan menaikkan ongkos produksi. Sejalan dengan hal
tersebut, pajak atas bahan bakar fosil akan memicu peningkatan harga bahan
bakar tersebut.Secara teori, seseorang akan mengurangi pemakaian bahan bakar
ketika harganya naik. Dengan kata lain, pemerintah dapat menyelatmakan lingkungannya
dengan menerapkan fitur pajak tersebut. Kebijakan lain yang mungkin dapat menjadi solusi untuk
mengatasi perubahan iklim adalah dengan mengalokasikan subsidi bagi penelitian
dan pengembangan upaya ramah lingkungan (climate-friendly research and development).
Tujuan
dari subsidi ini adalah,
Untuk mengajak dan merangsang orang untuk mencari temuan
atau teknologi baru bagi pembangunan proses produksi yang bersih. Sebagai
misal, pemerintah memberikan subsidi bagi pengembangan teknologi untuk
mengurangi polusi udara, atau bagi pencarian sumber energy terbarukan. Subsidi
ini juga dapat menjadi solusi bagi dampak perubahan iklim yang sudah terjadi,
semisal untuk penyelamatan mikro biologi yang kemungkinan hampir punah akibat
pemanasan.
Dengan kata lain, subsidi untuk penelitian dan
pengembangan diharapkan dapat mengatasi masalah yang sekarang dihadapi maupun
yang nantinya akan terjadi.
Pajak plus subsidi
lingkungan VS pertumbuhan ekonomi
Namun
demikian, kebijakan tersebut (pajak dan subisidi untuk lingkungan)
mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara negatif maupun positif.
Pajak bagi bahan bakar fosil misalnya, kemungkinan dapat menurunkan daya beli
masyarakat yang memicu turunnya permintaan sebagai akibat naiknya harga barang.
Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar tidak hanya digunakan oleh individu
tetapi juga oleh perusahaan dalam proses produksi. Dalam kaitan ini, kemungkinan besar produsen
akan mengalihkan pajak atas bahan bakar kepada konsumen. Konsekuensinya, harga barang
naik, dan daya beli menurun.
Selanjutnya, jika konsumsi masyarakat menurun,
pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat tersebut hidup kemungkinan besar akan
turun sebagai akibat turunnya input konsumsi (dengan asumsi faktor lainnya
konstan). Sebaliknya, Groth and Shcou (2004) berargumen bahwa dalam jangka
panjang pajak untuk menyelamatkan lingkungan, semisal pajak karbon, mendukung
konservasi sekaligus pertumbuhan ekonomi.
Perlu diingat bahwa pengurangan emisi gas dan penggunaan
bahan bakar fosil berkontribusi bagi penyelamatan sumber daya alam seperti air,
udara, dan kesuburan tanah. Dalam kaitan ini, aliran klasik pertumbuhan ekonomi
menyatakan bahwa sumber daya alam merupakan bagian penting dari pertumbuhan
ekonomi. Lebih lanjut, subsidi untuk penelitian dan pengembangan
upaya ramah lingkungan akan menaikkan pengeluaran pemerintah. Bagi Negara yang
memiliki pemasukan yang rendah, kebijakan tersebut justru akan menambah beban
bagi anggaran negaranya. Hal ini berarti bahwa dalam jangka pendek, pemberian
subsidi bagi penelitian dan pengembangan upaya ramah lingkungan akan mengganggu
pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi,
analisa lain ceritanya apabila suatu pemerintahan mempunyai cukup dana untuk
mensubsidi. Amerika
Serikat misalnya, pada tahun 2003 mengajukan dana USD 1.2 miliar untuk
membangun kendaraan bebas polusi. Pada tahun 2005 mereka menaikkan anggaran
untuk penelitian dan pengembangan energy sebesar USD 500 juta untuk membangun
sumber energi bersih (Popp, p.311,
2006).
Harapannya, subsidi yang dikeluarkan akan memberikan
hasil signifikan pada jangka panjang. Pemerintah Amerika berharap bahwa
teknologi maju dan pengetahuan untuk mengatasi polusi akan menjadi input untuk
menaikkan pertumbuhan ekonomi di kemudian hari. Hal ini sejalan dengan
pemikiran Romer (1994) tentang teori endogenous growth dimana investasi dalam
sumber daya manusia dan pengetahuan sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi modal sumber daya manusia dan pengetahuan, semakin
tinggi pertumbuhan ekonomi. Di sinilah kemudian diperlukan kerjasama antara negara kaya dengan
gas buang tinggi, dan negara kurang mampu yang biasanya mempunyai sumber daya
alam yang dapat meredam laju perubahan iklim.
Kesimpulan
Adalah penting bagi pemerintah untuk merespon tekanan atas perubahan iklim
dengan membuat kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan dan manusiawi tanpa
menghapus kepentingan ekonomi. Tentu hal ini merupakan tugas yang tidak mudah
bagi pemerintah untuk menghitung biaya implementasi kebijakan ramah lingkungan,
yang kemungkinan dapat menurunkan laju pertumbuhan ekonomi. Namun, bukan
berarti pemerintah tidak mempunyai solusi untuk itu. Tulisan ini mungkin dapat
menjadi pemicu untuk diskusi lebih lanjut tentang bagaimana melindungi
lingkungan kita dengan tetap mempertahankan kesejahteraan ekonomi.
Referensi
Cresswell, A 2007, ‘Climate
change bad for health’, The Australian, Sidney.
Groth, C & Schou, P 2007,
‘Growth and non-renewable resources: The different roles of capital and
resources taxes’, Journal of environmental economics and management, vol.53,
pp.80-98.
Jones, R 2001, ‘An environmental
risk assessment / management framework for climate change impacts assessments’,
Natural Hazard, vol.23, Kluwer Academic Publishers, Nederland,
pp.197-230.
Mc Michael, A.J, Woodruff, R.E,
& Hales, S 2006, ‘Climate change and human health: present and future
risks’, The Lancet, vol.367, March 11, pp.859-60
Popp, D 2006, ‘R&D subsidies
and climate policy: is there a “free lunch”?’, Climatic Change, vol.77, pp.
311-341.
Romer, P.M 1994, ‘The origins of
endogenous growth’, Journal of economic perspective, vol.8. no.1, pp. 3-22.
Rosenzweig, C & Parry, M
1994, ‘Potential impacts of climate change on world food supply’, Nature,
vol.367, Nature Publishing Group, pp. 133-139. (Internet).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.