Pertemuan
Poznan Dimulai, 190 Negara
Bahas
Perubahan Iklim
Oleh
: Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Pertemuan para pihak ke-14 Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai
Perubahan Iklim dibuka secara resmi di Poznan, Polandia, Senin (1/12).
Selama dua pekan, ribuan delegasi dari 190 negara membahas
penanganan perubahan iklim di tengah suasana krisis global. Pada pembukaannya,
Sekretaris Jenderal Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC)
Yvo de Boer kembali mengingatkan, dunia harus bergerak cepat menekan laju
pemanasan global. Sejauh ini, sebanyak 37 negara maju diwajibkan mengurangi
emisi karbonnya, hingga rata-rata 5 persen dari kondisi tahun 1990, pada tahun
2012. Ketua Panel Ahli Antarnegara untuk Perubahan Iklim (IPCC) Rajendra
Pachauri mengingatkan konsekuensi dari kegagalan menangani perubahan iklim.
Kesimpulan ribuan ahli menyebutkan, sepertiga spesies di Bumi
menghadapi kepunahan, bongkahan es di kutub akan meleleh dan menaikkan
permukaan laut hingga hitungan meter, serta ancaman krisis air bersih di sejumlah
negara.
"Itu bisa terjadi dalam beberapa dekade saja," kata
Pachauri, seperti dilaporkan Kantor Berita Associated Press, kemarin. Salah
satu kekhawatiran yang muncul adalah keberadaan proyek-proyek ”energi hijau”
menurun drastis seiring krisis keuangan global, yang juga menghantam sektor
perkreditan.
Komitmen
Eropa
Meskipun seluruh dunia berkonsentrasi pada persoalan penanganan
krisis di negaranya masing-masing, negara-negara di Eropa menyatakan
komitmennya. ”Krisis finansial terjadi pada masa lalu dan juga pada masa
datang, tetapi upaya kita di bidang lingkungan harus sepanjang masa,” kata
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk. Polandia akan mengambil alih posisi
pimpinan negosiasi penanganan perubahan iklim sejak konferensi dibuka resmi. Pimpinan sebelumnya dipegang Indonesia, selaku tuan rumah COP ke-13 tahun 2007.
Posisi Polandia sulit.
Pertumbuhan ekonominya bergantung pada batu
bara, yang dikenal produk beremisi karbon tinggi. Sebanyak 93 persen pembangkit energi di Polandia pun
digerakkan batu bara. Sementara itu, Uni Eropa sepakat memotong emisi karbonnya
hingga 20 persen tahun 2020. Di tengah tarik-menarik kepentingan, harapan muncul
dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat. Obama
diyakini bisa mendorong pembicaraan penanganan perubahan iklim karena posisinya
yang dikenal prolingkungan. (AP/REUTERS/GSA)
Sumber : Kompas Cetak. Selasa, 2
Desember 2008 | 05:48 WIB-- POZNAN, SENIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.