alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Senin, 26 Januari 2015

STRAREGI BARU PEMBANGUNAN PERTANIAN

Strategi Baru Pembangunan Pertanian
Oleh : Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Eskalasi harga pangan dan pertanian sampai 3 kali lipat selama 3 tahun terakhir memang meresahkan, tidak terkecuali bagi Indonesia.  

Tiga Faktor utama berikut sering dianggap bertanggung jawab yakni :

Pertama, Fenomena perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi pangan strategis,

Kedua, Peningkatan permintaan komoditas pangan karena konversi terhadap biofuel, dan

Ketiga, Aksi para investor (spekulan) tingkat global karena kondisi pasar keuangan yang tidak menentu.Meski begitu, eskalasi harga tersebut juga menjadi peluang (dan tantangan) baru untuk merumuskan strategi pembangunan pertanian yang kompatibel dengan perubahan zaman.

Pembangunan pertanian di Indonesia sebenarnya telah menunjukkan
 kontribusi yang sukar terbantahkan, bahwa peningkatan produktivitas tanaman pangan melalui varietas unggul, lonjakan produksi peternakan dan perikanan telah terbukti mampu mengatasi persoalan kelaparan dalam empat dasawarsa terakhir. Pembangunan perkebunan dan agroindustri juga telah mampu mengantarkan pada kemajuan ekonomi bangsa, perbaikan kinerja ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Singkatnya, kinerja perjalanan pertanian Indonesia jauh lebih komprehensif dibandingkan dengan angka 3,51 persen per tahun rata-rata pertumbuhan pada periode 1960-2006—dihitung dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Organisasi Pangan Pertanian Dunia (FAO).

Periodedisasi Perkembangan Hasil Pertanian Indonesia :

·         Pada tahap awal atau fase konsilidasi 1967-1978, sektor pertanian hanya tumbuh 3,38 persen, kemudian melonjak sangat tinggi dan mencapai 5,72 persen;
·         Pada periode  1978-1986, kemudian kembali melambat 3,39 persen
·         Pada fase dekonstruksi 1986-1997,  dan terus melambat 1,57 persen sampai periode krisis ekonomi.
·         Pada masa krisis ekonomi itu, performa baik yang dicapai sub sektor perkebunan dan peternakan hampir tidak membawa dampak berarti karena daya beli yang terus menurun.
·         Pada era reformasi (2001-2006), pertanian telah tumbuh 3,45 persen per tahun, dan belum dapat dikatakan telah maju ke arah yang benar (selengkapnya lihat Arifin, 2007).

(Penulis : Pembaca dapat membandingkan periodesasi dan fase pertumbuhan pertanian pada judul ini, dengan judul pada Judul lainnya pada Blog ini juga , dengan judul Sektor Pertanian dianaktirikan—Fase-fase Pembangunan Pertanian Indonesia oleh, Sri Hartati Samhadi, Kompas 16-8-2005,  sedikit terdadap perbedaan persentasinya.

Tiga prinsip penting

Selama empat dasawarsa terakhir, strategi pembangunan pertanian mengikuti tiga prinsip penting
Pertama, Board-based dan terintegrasi dengan ekonomi makro;
Kedua,     Pemerataan dan pemberantasan kemiskinan, dan
Ketiga,     Pelestarian lingkungan hidup.

Prinsip utama telah menunjukkan kinerja yang baik, seperti diuraikan di atas, karena,
---dukungan jaringan irigasi,
---jalan-jembatan,
---perubahan teknologi,
---kebijakan ekonomi makro dan sebagainya.

Konsep revitalisasi pertanian yang dicanagkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari pola pikir dan strategi besar di atas. Karena fenomena Revolusi Hijau serta perspektif konsistensi tersebut, pencapaian swasembada  beras di era 1980-an juga telah diikuti peningkatan kesejahteraan dan pemerataan pendapatan petani beras di Indonesia, pemerataan sektor pedesaan dan perkotaan. Pada waktu itu sentra produksi beras di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain juga identik dengan kesejahteraan dan pemerataan pendapatan. Prinsip ketiga, tentang pelestarian lingkungan hidup memang belum banyak menunjukkan hasil, karena baru dikembangkan secara serius pasca KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, tahun 1992. Singkatnya, pembangunan pertanian harus mampu membawa misi pemerataan apabila, ingin berkontribusi pada pemberantasan kemiskinan serta, menjamin tingkat berkelanjutan pembangunan itu sendiri.

Strategi baru

Berikut ini adalah strategi baru yang coba ditawarkan sehubungan dengan determinan pola baru pembangunan pertanian di masa mendatang. Stategi yang telah terbukti dan teruji selama ini tidak harus ditinggalkan, hanya perlu dilengkapi dengan beberapa dimensi berikut :

Pertama,
Pembangunan pertanian wajib mengedepankan (R & D), terutama yang mampu menjawab tantangan adaptasi perubahan iklim. Misalnya, para peneliti ditantang untuk menghasilkan varietas padi yang  mampu bersemi di pagi hari, ketika temperatur udara tidak terlalu panas. Kisah padi gogo-rancah pada era 1980-an yang mampu beradeptasi dan tumbuh di lahan kering dan tadah hujan, kini perlu disempurnakan untuk menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari sekadar 2,5 ton per hektar. Bahwa pertanian Indonesia tidak harus bertumpu hanya pada lahan di Jawa tampaknya telah disepakati hanya perlu diwujudkan secara sistematis. Misalnya, varietas yang baru perlu diuji multilokasi dan uji adaptasi di sejumlah daerah kering dengan memberdayakan jaringan universitas daerah dan balai Pengembangan Teknologi Pertanian yang tersebat di daerah.

Kedua,
Integrasi pembangunan ketahanan pangan dengan strategi pengembangan energi, termasuk energi alternatif. Strategi ini memang baru berada pada tingkat sangat awal sehingga Indonesia tidak boleh salah melangkah. Indonesia memang terlambat sekali dalam menyandingkan ketahanan pangan dengan energi alternatif. Maksudnya, Indonesia  butuh sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebijakan pada tingkat Instruksi Presiden Nomor 1/2006 tentang Bahan Bakar Nabati dan Peraturan Presiden Nomor 5/2006
 tentangDiversifikasi

Energi.
Ketiga,
Pembangunan pertanian perlu secara inheren melindungi petani produsen (dan konsumen). Komoditas pangan dan pertanian mengandung resiko usaha seperti faktor musim jeda waktu (time-lag),  perbedaan produktivitas dan kualitas produk yang cukup mencolok. Mekanisme lindung nilai (hedging),   asuransi tanaman, pasar lelang dan resi gudang adalah sedikit saja dari contoh instrumen penting yang mampu mengurangi resiko usaha dan ketidakpastian pasar.
Operasionalisasi dari strategi ini, perumus dan administrator kebijakan di tingkat daerah wajib mampu mewujudkannya menjadi,
·         suatu langkah aksi yang memberi pencarahan kepada petani,
·         memberdayakan masyarakat,
·         memperkuat organisasi kemasyarakatan untuk
·         mampu berperan dalam pasar berjangka komoditas yang lebih
·         menantang,
Di sinilah pertanian tangguh dan berdaya saing akan dapat terwujud.
(Bustanul Arifin, Guru Besar Unila dan Senior Fellow InterCAFE-IPB, Kompas,  21-4-2008).








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.