Goncangan Terhadap Tenaga Kerja dan Penghidupan
Oleh :Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Salah satu tujuan
utama model globalisasi ekonomi dewasa ini adalah memberikan kebebasan gerak
bagi modal dan korporasi-korporasi besar untuk beroperasi ke berbagai daerah di
mana tenaga kerja murah. Pun
hak-hak pekerjanya minimal. Sementara
itu, tenaga kerja tidak diperbolehkan bergerak bebas menunuju tingkat-tingkat
gaji yang lebih tinggi. Bahkan hampir setengah dari penduduk dunia hidupnya
sangat tergantung pada tanah, menggunakan air dan berbagai sumber daya lainnya
untuk menanam bahan pangan, membangun tempat tinggal, dan untuk menjaga
masyarakat mereka tetap sehat. Berbagai
kebijakan globalisasi cenderung menyingkirkan sumber-sumber daya itu dan memaksa
rakyat pedesaan hengkang dari sawah ladang mereka.
1. Pada akhirnya, perputaran roda global telah melibas hak,
standar, serta teaga kerja di semua negara hingga menghancurkan masyarakat dan penghidupan
berjuta-juta orang. Sementara keuntungan korporasi semakin melangit tinggi. Sebuah
jajak pendapat yang dilakukan Wall Street
Jurnal terhadap seperempat dari hampir 500 eksekutif korporasi Amerika Serikat
mendapati bahwa “besar kemungkinan” mereka akan menggunakan NAFTA sebagai bilah
kekuatan tawar-menawar untuk menekan gaji. Sekretariat tenaga kerja NAFTA mensurvei
sejumlah perusahaan yang didesak untuk mengorganisir serikat buruh sejak NAFTA
berdiri. Mereka menemukan bahwa mayoritas perusahaan mengancam akan menutup
operasi mereka, jika serikat buruh
menang. Sebanyak 15 persen dari perusahaan-perusahaan itu memang
benar-benar menutup seluruhnya atau sebagian pabrik mereka ketika mereka harus
melakukan tawar-menawar dengan serikar buruh. Insiden-insiden seperti itu
menunjukkan investasinya : tiga kali
lebih sering sebelum NAFTA berdiri.---(Ekonomi Policy Institute,
NAFTA at Seven, 2001)
2.Pada
akhir 1998, kira-kira 1 milyar pekerja-sepertiga dari tenaga kerja
dunia---menjadi pengangguran
atau setengah pengangguran. Angka tersebut adalah yang terburuk sejak Depresi Besar pada tahun 1930-an.(---World Employmen Report 1998-1999,
International Labor Organization)..
3.Akibat
globalisasi, keuntungan ekonomi para pemegang modal meningkat, sedangkan keuntungan untuk tenaga
kerja semakin merosot. Hal ini
tidaklah mengherankan karena di seluruh dunia tenaga kerja lebih relatif lebih
berlimpah bila dibandingkan dengan modal, terlebih didunia maju yang kaya. Hal
serupa juga terjadi dikalangan para pekerja. Sementara upah bagi para pekerja
yang memiliki ketrampilan meningkat, upah untuk mereka yang tidak
berketrampilan menurun. Hal itu juga tidak mengherankan, lantaran jumlah
“pekerja tidak trampil”. Dan bahwa teknologi-teknologi baru telah meningkatkan
kebutuhan terhadap pekerja trampil. Pada akhirnya persoalannya adalah
persediaan dan permintaan.(---Lester
Thurow, USA To day, 1999).
4. Perluasan
perdagangan tidak selalu berarti bahwa ada lebih banyak pekerjaan dan juga gaji
yang lebih baik. Di negara-negara paling
kaya, penciptaan lapangan kerja jauh tertinggal ke belakang baik dari sisi
pertumbuhan GDP maupun perluasan perdagangan dan investasi. Meski terjadi
peningkatan GDP per kapita sebesar 2.3 persen selama 2 dekade lalu, tetap pada
tingkat pengangguran tidak juga menurun, tetap pada tingkatan kira-kira 7
persen. (---The United Nation Human
Development Report).
5. Inilah
dampak dari perdagangan: tingkat upah yang sangat memprihatinkan di sektor
padat tenaga kerja. Ia menjadi kekuatan utama di balik bertambah besarnya
tingkat ketimpangan pendapatan yang terjadi di berbagai masyarakat di mana
sektor-sektor tersebut merupakan sumber-sumber penting bagi kesempatan kerja.
(---Edward Leamer, Micro The Micro Economic
Research Bulletin, 1998).
6.Sebanyak
200 korporasi terbesar di dunia saat ini menguasai hampir 30 persen kegiatan perekonomian globalisasi,
kendati mereka hanya memperkerjakan
kurang dari 1 persen angkatantenaga
kerja di seluruh dunia. Sementara
keuntungan mereka meningkat sebesar 263,4 persen antara 1983-1999, jumlah orang
yang mereka pekerjakan hanya meningkat 14,4 persen. Sepanjang korporasi-korporasi
itu terus membesar dan lebih mengglobal, mereka akan terus memborong saham-saham
para pesaing serta menghapus sejumlah pekerjaan rangkap. Tata perekonomian dari skala semacam itu merupakan hal yang
hakiki dari pola perdagangan bebas dan globalisasi. Berbagai mejer dan
konsilidasi besar-besaran mengakibatkan pekerjaan menjadi lebih sedikit dan
bukan lebih banyak. (---Institute
for Policy Studies, Top 200; The Rise of Corporate Global Power, 2000.)
7. Para
pengguna tenaga kerja menggunakan ‘fleksibilitas’ ekstra dalam undang-undang
ketenagakerjaan, Yang diwajibkan oleh IMF dan Bank Dunia) untuk lebih banyak
mengurangi dan merampingkan pekerjaan ketimbang memperbesar kemampuan
produktif maupun menciptakan peluang
kerja. Dengan itu, maka sejumlah pembauran pun diajukan guna memudahkan mereka
untuk membela diri saat memecat para pekerja dan mengebiri kemapuan serikat
buruh. (---United Nations Trade
Development Report 1995, The Ecologist Report, Globalizing Poverty, 2000).
8.NAFTA telah berdampak pada penghapusan sekitar 766.000 kesempatan kerja
di Amerika Serikat, Terutama untuk para pekerja
pabrik yang pendidikannya bukan dari perguruan tinggi. Mereka yang
tersingkir itu lantas berpindah kerja ke sektor jasa pelayanan
pekerjaan-pekerjaan industri. Mereka mendapat konpensasi upah rata-rata sebesar
77 persen dari upah rata-rata di sektor kerja pabrik. Tekanan berat juga telah
memperburuk upah di sektor jasa pelayanan. (---Economic Policy Institute, NAFTA at Seven,
2001).
9. Keanggotaan serikut buruh di Amerika Serikat, Semakin merosot jumlahnya dari di atas 24 persen dari penduduk yang bekerja
pada 1973, hingga kurang dari 14 persen. Hal tersebut telah berlangsung selama 25
tahun. (--Hirsch
dan Macpherson, Bureau of National Affairs, Inc.1997).
10. Di
Meksiko,
Setengah
pengangguran dan “kerja-kerja dengan upah dan produktivitas yang rendah”
(misalnya bekerja tanpa mendapat upah
dalam usaha-uasa keluarga) berkembang pesat sejak adanya NAFTA. Dari 1991-1998,
upah buruh di Meksiko, merosot sebesar 27 persen. Sementara keseluruhan,
pendapatan buruh per-jam merosot hingga 40
persen. Sedangkan upah menimum lenyap hampir 50 persen dari daya belinya. Di
wilayah perkotaan, dari 1991-1998, bagian untuk gaji karyawan berkurang 13
persen, sedangkan bagian untuk pekerja dengan jabatan yang tidak dibayar,
meningkat 2 kali lipat. (---Economic
Policy Institute, NAFTA at Seven, 2001).
11. Ciri menonjol dari globalisasi ekonomi adalah,
“Zona Pemberlakukan Ekspor’ (Export
Processing Zone)—di Amerika Tengah dan Meksiko dikenal dengan nama
‘maquiladoras’. ‘Kamp-kamp konsentrasi baru’ ini memungkinkan korporasi-korporasi asing
berproduksi. Mereka memberikan berbagai potongan dan pengecualian dalam hal
pajak serta UU ketenagakerjaan maupun UU lingkungan hidup. Di seluruh dunia,
rata-rata 80 persen dari para pekerja di zona-zona tersebut adalah perempuan.
Jam kerja yang panjang dan perlindungan keselamatan kerja biasanya sangat
buruk/tidak memadai. Sementara penegakan disiplin kerja yang keras dan
sewenang-wenang, serta pelecehan seksual, adalah hal yang lumrah terjadi. (---Fighting for Workers’
Human Right in the Global Ec0nomy, 1997).
12.Ketika NAFTA memasuki tahunnya yang kelima,
Kredit dan bantuan teknis, praktis menghilang dari sietem pertanian
Meksiko. Di sini, petani jagung terkena pukulan keras. Pasalnya, sejumlah impor
dari Amerika Serikat telah mengakibatkan harga eceran turun. Ini lantas membuat
mereka mengubah produksi komersil menjadi usaha yang tidak menguntungkan. Jadi
sebelumnya, pendapatan yang mereka peroleh dari sektor pertanian tidak bisa
menutupi biaya kebutuhan makan keluarga, maka kini banyak petani terpaksa
menjual jagung. Ini ditempuh karena mereka mesti memenuhi kebutuhan mendesak,
kendati sebenarnya mereka lebih suka menggunakannya sebagai bahan makan pokok
keluarga. Dewasa ini, mekanisme harga
bekerja secara efektif. Ia mendesak orang-orang khususnya petani miskin
(poor campesinos) unruk meninggalkan
pertanian. (Friends
of the Earth and the Development GAP, The All-Ton Vasible Hand, 1999). (Sumber
:I.Wibowo, Globalisasi Kemiskinan & Ketimpangan,Cinderela Pustaka
Cerdas,Yogyakarta, 2003, hal.25-32).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.