alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Senin, 26 Januari 2015

GONCANGAN TERHADAP TENAGA KERJA DAN PENGHIDUPAN

Goncangan Terhadap Tenaga Kerja dan Penghidupan
Oleh :Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Salah satu tujuan utama model globalisasi ekonomi dewasa ini adalah memberikan kebebasan gerak bagi modal dan korporasi-korporasi besar untuk beroperasi ke berbagai daerah di mana tenaga kerja murah. Pun hak-hak pekerjanya minimal.  Sementara itu, tenaga kerja tidak diperbolehkan bergerak bebas menunuju tingkat-tingkat gaji yang lebih tinggi. Bahkan hampir setengah dari penduduk dunia hidupnya sangat tergantung pada tanah, menggunakan air dan berbagai sumber daya lainnya untuk menanam bahan pangan, membangun tempat tinggal, dan untuk menjaga masyarakat  mereka tetap sehat. Berbagai kebijakan globalisasi cenderung menyingkirkan sumber-sumber daya itu dan memaksa rakyat pedesaan hengkang dari sawah ladang mereka.  

1.    Pada akhirnya, perputaran roda global telah melibas hak, standar, serta teaga kerja di semua negara hingga menghancurkan masyarakat dan penghidupan berjuta-juta orang. Sementara keuntungan korporasi semakin melangit tinggi. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Wall Street Jurnal terhadap seperempat dari hampir 500 eksekutif korporasi Amerika Serikat mendapati bahwa “besar kemungkinan” mereka akan menggunakan NAFTA sebagai bilah kekuatan tawar-menawar untuk menekan gaji. Sekretariat tenaga kerja NAFTA mensurvei sejumlah perusahaan yang didesak untuk mengorganisir serikat buruh sejak NAFTA berdiri. Mereka menemukan bahwa mayoritas perusahaan mengancam akan menutup operasi mereka, jika serikat buruh  menang. Sebanyak 15 persen dari perusahaan-perusahaan itu memang benar-benar menutup seluruhnya atau sebagian pabrik mereka ketika mereka harus melakukan tawar-menawar dengan serikar buruh. Insiden-insiden seperti itu menunjukkan investasinya : tiga kali  lebih sering sebelum NAFTA berdiri.---(Ekonomi Policy Institute, NAFTA at Seven, 2001)

2.Pada akhir 1998, kira-kira 1 milyar pekerja-sepertiga dari tenaga kerja dunia---menjadi pengangguran atau setengah pengangguran. Angka tersebut adalah yang terburuk sejak Depresi Besar pada tahun 1930-an.(---World Employmen Report 1998-1999, International Labor Organization)..

3.Akibat globalisasi, keuntungan ekonomi para pemegang modal meningkat, sedangkan keuntungan untuk tenaga kerja semakin merosot. Hal ini tidaklah mengherankan karena di seluruh dunia tenaga kerja lebih relatif lebih berlimpah bila dibandingkan dengan modal, terlebih didunia maju yang kaya. Hal serupa juga terjadi dikalangan para pekerja. Sementara upah bagi para pekerja yang memiliki ketrampilan meningkat, upah untuk mereka yang tidak berketrampilan menurun. Hal itu juga tidak mengherankan, lantaran jumlah “pekerja tidak trampil”. Dan bahwa teknologi-teknologi baru telah meningkatkan kebutuhan terhadap pekerja trampil. Pada akhirnya persoalannya adalah persediaan dan permintaan.(---Lester Thurow, USA To day, 1999).

4. Perluasan perdagangan tidak selalu berarti bahwa ada lebih banyak pekerjaan dan juga gaji yang lebih baik.  Di negara-negara paling kaya, penciptaan lapangan kerja jauh tertinggal ke belakang baik dari sisi pertumbuhan GDP maupun perluasan perdagangan dan investasi. Meski terjadi peningkatan GDP per kapita sebesar 2.3 persen selama 2 dekade lalu, tetap pada tingkat pengangguran tidak juga menurun, tetap pada tingkatan kira-kira 7 persen. (---The United Nation Human Development Report).

5. Inilah dampak dari perdagangan: tingkat upah yang sangat memprihatinkan di sektor padat tenaga kerja. Ia menjadi kekuatan utama di balik bertambah besarnya tingkat ketimpangan pendapatan yang terjadi di berbagai masyarakat di mana sektor-sektor tersebut merupakan sumber-sumber penting bagi kesempatan kerja. 
(---Edward Leamer, Micro The Micro Economic Research Bulletin, 1998).

6.Sebanyak 200 korporasi terbesar di dunia saat ini menguasai hampir 30 persen kegiatan perekonomian globalisasi, kendati  mereka hanya memperkerjakan kurang dari 1 persen angkatantenaga kerja di seluruh dunia. Sementara keuntungan mereka meningkat sebesar 263,4 persen antara 1983-1999, jumlah orang yang mereka pekerjakan hanya meningkat 14,4 persen. Sepanjang korporasi-korporasi itu terus membesar dan lebih mengglobal, mereka akan terus memborong saham-saham para pesaing serta menghapus sejumlah pekerjaan rangkap. Tata perekonomian dari skala semacam itu merupakan hal yang hakiki dari pola perdagangan bebas dan globalisasi. Berbagai mejer dan konsilidasi besar-besaran mengakibatkan pekerjaan menjadi lebih sedikit dan bukan lebih banyak. (---Institute for Policy Studies, Top 200; The Rise of Corporate Global Power, 2000.)

7. Para pengguna tenaga kerja menggunakan ‘fleksibilitas’ ekstra dalam undang-undang ketenagakerjaan, Yang diwajibkan oleh IMF dan Bank Dunia) untuk  lebih banyak  mengurangi dan merampingkan pekerjaan ketimbang memperbesar kemampuan produktif maupun  menciptakan peluang kerja. Dengan itu, maka sejumlah pembauran pun diajukan guna memudahkan mereka untuk membela diri saat memecat para pekerja dan mengebiri kemapuan serikat buruh. (---United Nations Trade Development Report 1995, The Ecologist Report, Globalizing Poverty, 2000).

8.NAFTA telah berdampak pada penghapusan sekitar 766.000 kesempatan kerja di Amerika Serikat, Terutama untuk para pekerja  pabrik yang pendidikannya bukan dari perguruan tinggi. Mereka yang tersingkir itu lantas berpindah kerja ke sektor jasa pelayanan pekerjaan-pekerjaan industri. Mereka mendapat konpensasi upah rata-rata sebesar 77 persen dari upah rata-rata di sektor kerja pabrik. Tekanan berat juga telah memperburuk upah di sektor jasa pelayanan. (---Economic Policy Institute, NAFTA at Seven, 2001).

9. Keanggotaan serikut buruh di Amerika Serikat, Semakin merosot jumlahnya dari di atas 24 persen dari penduduk yang bekerja pada 1973, hingga kurang dari 14 persen. Hal tersebut telah berlangsung selama 25 tahun. (--Hirsch dan Macpherson, Bureau of National Affairs, Inc.1997).

10. Di Meksiko,
Setengah pengangguran dan “kerja-kerja dengan upah dan produktivitas yang rendah” (misalnya bekerja tanpa mendapat upah  dalam usaha-uasa keluarga) berkembang pesat sejak adanya NAFTA. Dari 1991-1998, upah buruh di Meksiko, merosot sebesar 27 persen. Sementara keseluruhan, pendapatan buruh per-jam  merosot hingga 40 persen. Sedangkan upah menimum lenyap hampir 50 persen dari daya belinya. Di wilayah perkotaan, dari 1991-1998, bagian untuk gaji karyawan berkurang 13 persen, sedangkan bagian untuk pekerja dengan jabatan yang tidak dibayar, meningkat 2 kali lipat. (---Economic Policy Institute, NAFTA at Seven, 2001).

11. Ciri menonjol dari globalisasi ekonomi adalah,
“Zona Pemberlakukan Ekspor’ (Export Processing Zone)—di Amerika Tengah dan Meksiko dikenal dengan nama ‘maquiladoras’. ‘Kamp-kamp konsentrasi baru’ ini  memungkinkan korporasi-korporasi asing berproduksi. Mereka memberikan berbagai potongan dan pengecualian dalam hal pajak serta UU ketenagakerjaan maupun UU lingkungan hidup. Di seluruh dunia, rata-rata 80 persen dari para pekerja di zona-zona tersebut adalah perempuan. Jam kerja yang panjang dan perlindungan keselamatan kerja biasanya sangat buruk/tidak memadai. Sementara penegakan disiplin kerja yang keras dan sewenang-wenang, serta pelecehan seksual, adalah hal yang lumrah terjadi. (---Fighting for Workers’ Human Right in the Global Ec0nomy, 1997).

12.Ketika NAFTA memasuki tahunnya yang kelima,

Kredit dan bantuan teknis, praktis menghilang dari sietem pertanian Meksiko. Di sini, petani jagung terkena pukulan keras. Pasalnya, sejumlah impor dari Amerika Serikat telah mengakibatkan harga eceran turun. Ini lantas membuat mereka mengubah produksi komersil menjadi usaha yang tidak menguntungkan. Jadi sebelumnya, pendapatan yang mereka peroleh dari sektor pertanian tidak bisa menutupi biaya kebutuhan makan keluarga, maka kini banyak petani terpaksa menjual jagung. Ini ditempuh karena mereka mesti memenuhi kebutuhan mendesak, kendati sebenarnya mereka lebih suka menggunakannya sebagai bahan makan pokok keluarga. Dewasa ini, mekanisme harga  bekerja secara efektif. Ia mendesak orang-orang khususnya petani miskin (poor campesinos) unruk meninggalkan pertanian. (Friends of the Earth and the Development GAP, The All-Ton Vasible Hand, 1999). (Sumber :I.Wibowo, Globalisasi Kemiskinan & Ketimpangan,Cinderela Pustaka Cerdas,Yogyakarta, 2003, hal.25-32).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.