alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Senin, 26 Januari 2015

HUTAN SEBAGAI PENGHASIL PANGAN DAN KONVERSI HUTAN

Hutan Sebagai Penghasil Pangan & Konversi Hutan
Oleh : Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Bahwa manusia bukan saja memungut hasil pangan di sawah atau diladang saja, tetai juga dari lingkungan hutan. Untuk daerah yang kesuburan tanahnya kurang dan berpenduduk jarang, perlu modifikasi cara ini, misalnya di luar pulau Jawa.
Cara penggadaan hasil dengan cara-cara sbb :
·         Tumpang Sari Berbeda Umur (interplanting). Salah satu bentuk “tumpang gilir”: jenis tanaman semusim yang lebih genjah (berumur lebih pendek) ditanam di antara tanaman semusim yang umurnya lebih panjang, masing-masing dalam barisan yang lurus. Contoh : kacang tanah di antara ubi kayu, kacang hijau di antara tebu, padi gogo di antara ubi kayu.
·         Tumpang Sari Seumur (intercropping) : Salah satu bentuk tumpang gilir: dua atau lebih jenis tanaman yang seumur atau hampir bersamaan, masing-masing dalam barisan yang lurus. Contoh : kacang tanah dan jagung; kubis dan tomat, kedelai dan sorgum.
·         Sistem Sorjan : Salah satu bentuk “tumpang gilir” yang khas Indonesia. Sebidang tanah dibagi secara berselang-seling atas : a) pematang atau bedengan lebar, dan b) parit yang digenangi air. Di dalam parit ditanam padi sawah atau padi gogo rancah, sedangkan di atas bedengan/pematang ditanam beberapa jenis tanaman darat secara tumpang gilir.
Pada saat penanaman padi di Indonesia, banyak pematang sawah sebenarnya dapat ditanami dengan berbagai-bagai tanaman lainnya seperti kacang panjang  yang diberi tiang bambu atau kayu untuk merambat, atau ditanami dengan keladi, tomat, lombok, terung, sehingga selain panen padi, tetapi juga panen tambahan lainnya yang ditanam diatas pematang sawah tersebut..

Dalam system pertanian sawah atau ladang guna memperoleh hasil yang beragam selama musim tanam, maka terdapat beberapa bentuk penanaman sbb  :
1.  Pertanaman Beruntun (seauential planting). Salah satu bentuk ‘tumpang gilir’; menanam tanaman berikut secepat mungkin setelah tanaman terdahulu dipanen; contoh: padi dengan disusul padi gadu; padi dengan, disusul kedelai tanpa pengolahan tanah, disusul lagi oleh kacang tunggak; sorgum dipanen, lalu dipangkas, kemudian tumbuh lagi, dipanen, lalu dipangkas lagi; palawija.
2.  Pertanaman campuran (mixed cropping); Salah satu bentuk ‘tumpang gilir’; dua atau lebih jenis tanaman ditanam pada waktu yang sama atau  hampir bersamaan dan  tercampur, tanpa  barisan-barisan  yang lurus. Contoh; ubi kayu dan  kacang tanah, atau ubi jalar, padi,dan wijen.
3.   Pertanaman sisipan (relay planting); Salah satu bentuk ‘tumpang gilir’; menyisipkan tanaman berikut ke antara tanaman yang telah ditanam lebih dahulu dan belum dipungut hasilnya. Contoh; kedelai ditanam di antara barisan jagung, 7 hari sebelum buah jagung dipungut; jagung disisipkan di antara barisan tembakau, sebelum daun tembakau selesai dipanen.
4.  Penanaman berbagai jenis dalam selubang. (Lahan Sempit Padat Tanaman) Pola penanaman (pada lahan sempit, padat tanaman)  ini dipraktekan  di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Contoh : Dalam selubang, selain dimasukan beberapa biji jagung, juga dimasukan beberapa biji kacang panjang  dan biji labu, sehingga tumbuh serumpun, dengan harapan selain panen jagung juga panen kacang dll. Hal ini dilakukan karena beberapa alasan antara lain karena lahan sempit, dan curah hujannya hanya sekitar 3 bulan atau sekitar 100 hari saja. Panen hasil yang diperoleh, tidak beda seperti jika ditanam secara terpisah. Sistem ini desebut “lahan sempit padat tanaman”.Bentuk penanaman semacam ini dilaksanakan baik pada lahan pertanian yang luas maupun pada “lahan sempit padat tanaman” dengan memanfaatkan musim hujan yang rata-rata hanya 3 bulan saja dalam setahun.
Ini merupakan manajemen bertani yang baik guna memperoleh beragan hasil dalam jumlah yang relative banyak.  Oleh karena itu para petani tradisional dapat memilih beberapa bentuk pertanaman diantaranya untuk diterapkan, sehingga paling tidak memiliki cadangan pangan yang cukup untuk keluarga dan/atau dipasarkan sebagai komoditi, dalam meningkatkan penghasilannya.

Konversi Hutan

Usaha merubah hutan alam atau rimba yang berjenis campuran dan berbagai umur menjadi hutan murni seumur, yang terdiri dari jenis pohon dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi, terutama untuk keperluan industri hutan. Konversi hutan umumnya dilakukan dengan menggunakan jenis pohon cepat tumbuh, rotasi pendek: seperti tusam, ekaliptus, dammar, dan sebagainya.(Sumber : EI)
Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.