Hutan Sebagai Penghasil Pangan & Konversi Hutan
Oleh : Drs.Simon
Arnold Julian Jacob
Bahwa manusia bukan saja memungut hasil pangan di sawah atau diladang saja,
tetai juga dari lingkungan hutan. Untuk daerah yang kesuburan tanahnya kurang
dan berpenduduk jarang, perlu modifikasi cara ini, misalnya di luar pulau Jawa.
Cara
penggadaan hasil dengan cara-cara sbb :
·
Tumpang
Sari Berbeda Umur (interplanting).
Salah satu bentuk “tumpang gilir”: jenis tanaman semusim yang lebih genjah
(berumur lebih pendek) ditanam di antara tanaman semusim yang umurnya lebih
panjang, masing-masing dalam barisan yang lurus. Contoh : kacang tanah di
antara ubi kayu, kacang hijau di antara tebu, padi gogo di antara ubi kayu.
·
Tumpang
Sari Seumur (intercropping) : Salah
satu bentuk tumpang gilir: dua atau lebih jenis tanaman yang seumur atau hampir
bersamaan, masing-masing dalam barisan yang lurus. Contoh : kacang tanah dan
jagung; kubis dan tomat, kedelai dan sorgum.
·
Sistem Sorjan : Salah satu
bentuk “tumpang gilir” yang khas Indonesia. Sebidang tanah dibagi secara
berselang-seling atas : a) pematang atau bedengan lebar, dan b) parit yang
digenangi air. Di dalam parit ditanam padi sawah atau padi gogo rancah,
sedangkan di atas bedengan/pematang ditanam beberapa jenis tanaman darat secara
tumpang gilir.
Pada saat
penanaman padi di Indonesia, banyak pematang sawah sebenarnya dapat ditanami
dengan berbagai-bagai tanaman lainnya seperti kacang panjang yang diberi tiang bambu atau kayu untuk
merambat, atau ditanami dengan keladi, tomat, lombok, terung, sehingga selain
panen padi, tetapi juga panen tambahan lainnya yang ditanam diatas pematang
sawah tersebut..
Dalam system
pertanian sawah atau ladang guna memperoleh hasil yang beragam selama musim
tanam, maka terdapat beberapa bentuk penanaman sbb :
1. Pertanaman
Beruntun (seauential planting). Salah
satu bentuk ‘tumpang gilir’; menanam tanaman berikut secepat mungkin setelah
tanaman terdahulu dipanen; contoh: padi dengan disusul padi gadu; padi dengan,
disusul kedelai tanpa pengolahan tanah, disusul lagi oleh kacang tunggak;
sorgum dipanen, lalu dipangkas, kemudian tumbuh lagi, dipanen, lalu dipangkas
lagi; palawija.
2. Pertanaman
campuran (mixed cropping); Salah satu
bentuk ‘tumpang gilir’; dua atau lebih jenis tanaman ditanam pada waktu yang
sama atau hampir bersamaan dan tercampur, tanpa barisan-barisan yang lurus. Contoh; ubi kayu dan kacang tanah, atau ubi jalar, padi,dan wijen.
3. Pertanaman sisipan (relay planting); Salah satu bentuk ‘tumpang gilir’; menyisipkan
tanaman berikut ke antara tanaman yang telah ditanam lebih dahulu dan belum
dipungut hasilnya. Contoh; kedelai ditanam di antara barisan jagung, 7 hari
sebelum buah jagung dipungut; jagung disisipkan di antara barisan tembakau,
sebelum daun tembakau selesai dipanen.
4. Penanaman berbagai jenis dalam selubang. (Lahan Sempit
Padat Tanaman) Pola penanaman (pada lahan sempit, padat tanaman) ini dipraktekan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Contoh :
Dalam selubang, selain dimasukan beberapa biji jagung, juga dimasukan beberapa
biji kacang panjang dan biji labu,
sehingga tumbuh serumpun, dengan harapan selain panen jagung juga panen kacang
dll. Hal ini dilakukan karena beberapa alasan antara lain karena lahan sempit,
dan curah hujannya hanya sekitar 3 bulan atau sekitar 100 hari saja. Panen
hasil yang diperoleh, tidak beda seperti jika ditanam secara terpisah. Sistem
ini desebut “lahan sempit padat tanaman”.Bentuk
penanaman semacam ini dilaksanakan baik pada lahan pertanian yang luas maupun pada
“lahan sempit padat tanaman” dengan memanfaatkan musim hujan yang rata-rata
hanya 3 bulan saja dalam setahun.
Ini merupakan
manajemen bertani yang baik guna memperoleh beragan hasil dalam jumlah yang
relative banyak. Oleh karena itu para
petani tradisional dapat memilih beberapa bentuk pertanaman diantaranya untuk
diterapkan, sehingga paling tidak memiliki cadangan pangan yang cukup untuk keluarga
dan/atau dipasarkan sebagai komoditi, dalam meningkatkan penghasilannya.
Konversi
Hutan
Usaha merubah
hutan alam atau rimba yang berjenis campuran dan berbagai umur menjadi hutan
murni seumur, yang terdiri dari jenis pohon dengan nilai ekonomis yang lebih
tinggi, terutama untuk keperluan industri hutan. Konversi hutan umumnya
dilakukan dengan menggunakan jenis pohon cepat tumbuh, rotasi pendek: seperti
tusam, ekaliptus, dammar, dan sebagainya.(Sumber
: EI)
Penulis
: Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.