Ironi
Pulau-pulau Perbatasan yang Minim Perhatian
Oleh : Drs.Simon
Arnold Julian Jacob
Pengantar
Putusan atas
Sipadan-Ligatan agar diserahkan ke Malaysia sangat mengagetkan Indonesia. Hikmah
dari pengalaman tersebut adalah bagaimana mengaktifkan pembangunan dan
meningkatkan perhatian bagi masyarakat di perbatasan. Keberadaan pulau-pulau
perbatasan tersebut sangat strategis, tetapi minim perhatian. Berikut laporan
wartawan SP Jeis Montesori S yang mengikuti perjalanan KRI Makassar akhir bulan
lalu. mercusuar di Karang Unarang, perairan Ambalat.(kanan) SP/Jeis Montesori
Secara fisik, Malaysia tidak menguasai Ambalat. Tapi saat ini secara teknologi dan informasi,
Malaysia sudah hadir menguasai Blok Ambalat di Karang Unarang, Kabupaten Nunukan,
Kalimantan Timur.
Kehadiran negeri jiran itu terasa saat kita
memasuki wilayah perairan kaya tambang minyak di pulau terdepan bagian utara
Indonesia itu. Pesawat telepon genggam (hand phone/HP) yang tadinya masih
menggunakan operator seluler dalam negeri, serta merta dan tanpa konfirmasi,
coverage (jangkauan area) langsung beralih menjadi My Maxis milik Malaysia. Begitu
berubah menjadi My Maxis, maka HP pun langsung menerima beragam informasi
melalui layanan pesan singkat (short massage service/SMS). Isi SMS antara lain berbunyi "Welcome to
Malaysia" atau tawaran-tawaran discount menggiurkan lain tanpa bisa
ditolak. Dan yang lebih tidak mengenakan, jika kita hendak menelepon, kita pun
terkena roaming internasional, padahal jelas-jelas kita masih berada dalam
wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Itulah sebagian
kecil gambaran situasi yang terjadi di pulau-pulau terdepan Indonesia saat ini.
Masih
ada setumpuk masalah lain yang belum pernah tuntas.
Mulai dari
lemahnya sistem pertahanan keamanan, klaim batas yuridiksi wilayah laut, rendahnya
kualitas hidup masyarakat hingga menurunnya nasionalisme menjadi
masalah-masalah krusial untuk mempertahankan keutuhan pulau-pulau terdepan
dalam NKRI. Di Pulau Sebatik, pulau yang sebagian wilayahnya masuk
Indonesia dan sebagian lagi milik
Malaysia, sekitar 30.255 jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di situ,kehidupan
sosial ekonominya sangat bergantung pada Malaysia. Kebutuhan sehari-hari
seperti gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, susu dan sebagainya, semuanya
dipasok dari Malaysia.Bahkan ikan laut yang ditangkap dari perairan Ambalat
(dekat dengan Sebatik) juga harus dibeli warga Sebatik di Tawao, Malaysia,
kendati dengan harga yang dipermainkan pedagang tengkulak Tawao.
Tidak
Peduli.
Sungguh
memilukan dan siapa sebenarnya yang salah?
Pertanyaan
inilah yang mengemuka dalam lokakarya nasional II/2007 tentang Ketahanan
Nasional Masyarakat di Pulau-pulau Terluar Melalui Peningkatan Kewaspadaan
Nasional yang dilaksanakan kerja sama Depdagri dan Mabes TNI Angkatan Laut di
KRI Makassar tanggal 11-21 Agustus lalu. Para peserta lokakarya dari berbagai wilayah
di Tanah Air itu sepakat bahwa perhatian pemerintah selama ini sangat rendah. Kasus
Pulau Nipah yang nyaris tenggelam dan lepasnya Pulau Sipadan Ligitan ke Malaysia,
menjadi bukti betapa pemerintah tidak serius menjaga pulau-pulau terdepan
sebagai benteng depan pertahanan negara.
Jika Pulau
Nipah tenggelam berarti titik terluar batas wilayah Indonesia hilang sehingga
akan mengubah batas wilayah dan tentunya sangat menguntungkan
Singapura.Jangankan berbicara sistem pertahanan keamanan negara, tetapi
pulau-pulau terdepan yang menjadi titik dasar dan garis pangkal benteng
pertahanan justru rapu Kalau situasi ini terus dibiarkan, tidak mustahil
akan lebih banyak lagi pulau-pulau terdepan Indonesia bakal jatuh ke tangan
asing," kata Misran, Sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas
Balikpapan, peserta dalam lokakarya itu.Berdasarkan data Departemen Dalam
Negeri, terdapat 12 dari 92 pulau kecil terdepan Indonesia yang diidentifikasi
rawan benturan dengan pihak asing.
Ke-12
pulau itu secara geografis memiliki batas maritim dengan 10
negara, yaitu,
---Pulau
Rondo di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berbatasan dengan India.
---Pulau Sebatik,
Kalimantan Timur dan
---Pulau
Berhala, Sumatera Utara berbatasan dengan Malaysia,
---Pulau
Nipah, Riau dengan Singapura dan Thailand.
---Pulau Sekatung di Kepulauan Riau dengan Vietnam.
---Pulau Marore dan Miangas, Sulawesi Utara dengan Filipina serta
---Pulau Fani, Fanildo dan Bras di Papua berbatasan dengan Republik Palau.
---Timor Leste berbatasan dengan Pulau Asutubun di Maluku serta
---Batek di
Nusa Tenggara Timur.
---dan Pulau Pasir (Ashmore Reef) wilayah Kabupaten Rote Ndao berbatasan langsung dengan
Australia merupakan (Pulau Sengketa
antara Australia dengan Masyarakat Adat
di NTT) Sedang diperjuangkan. Baca Buku
Manajemen Pulau-Pulau Perbatasan tentang Polimik Pulau Pasir.
Oleh
: Drs.Simon Arnold Julian Jacob. (Tambahan Penulis).
Meski
sebagian tak berpenghuni, tapi perairannya memiliki nilai sangat strategis,
baik dari segi geoekonomi maupun geopolitik, sehingga pulau-pulau terdepan
tersebut sangat berpotensi dicaplok pihak luar dan ini sangat mengancam
martabat dan kedaulatan RI.Seperti diungkapkan Panglima Komando Armada RI
Kawasan Barat (Pangkoarmabar), Laksda TNI Agus Suhartono. Pulau Berhala meski
tak ada penghuninya, tapi menjadi incaran bangsa asing karena strategis secara
geoekonomi dan geopolitik. Persoalannya, penentuan batas wilayah laut
RI-Malaysia di pulau ini masih tumpang tindih sehingga rentan konflik
kepentingan.
Pulau ini
juga sangat rawan aksi perompakan dan penyelundupan senjata. Sementara di Pulau
Rondo, penentuan titik koordinat landas kontinen sudah disahkan sebelum
berlakunya Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 sehingga sangat berpotensi
terjadi konflik di perairan ujung utara D itu, katanya. Perairan
di sekitar pulau tersebut juga rawan illegal fishing oleh nelayan-nelayan
asing,padahal kawasan itu secara tradisional merupakan daerah penangkapan ikan
para nelayan Aceh. "Pulau-pulau lain seperti Pulau Sekatung, Fanildo,
Bras, Batek dan Pulau Ndana (Rote-NTT), semuanya rata-rata masih bermasalah
dalam penentuan batas serta fasilitas pengamanan batas wilayah yang sangat
minim," ungkapnya.
Demikian
juga kontroversi Gugusan Pulau Pasir (Ashmore Reef) wilayah Kabupaten Rote
Ndao, NTT Paling Selatan yang masih dipertanyakan mengapa dicaplok Australia,
padahal milik Indonesia. Selain
masyarakat di daerah NTT, sebuah LSM yang dikenal dengan Ocean Watch juga
sangat tegas menolak klaim Australia atas gugusan pulau tersebut. Sayangnya,
Departemen Luar Negeri RI merasa pulau itu sudah milik Australia? Di sisi lain Australia sering berbenturan
kepentingan politik pertahanan keamanan dengan Indonesia yang berbatasan maritim
dengan wilayah selatan Pulau Jawa.
Potensi
Persoalan
rendahnya kualitas hidup baik aspek ekonomi, pendidikan hingga keterisolasian
dari sarana dan prasarana fisik perkotaan juga menjadi tirani tersendiri yang
membuat luka hati masyarakat pulau-pulau terdepan. Warga pulau terdepan selalu
merasa dianaktirikan dalam pelayanan
pemerintah.Seperti diutarakan Mansyur, warga
Nunukan. Sudah puluhan tahun daerahnya kekurangan energi listrik, tapi tidak
ada perhatian pemerintah untuk membangun. Listrik mati hidup di daerah kami.
Jangankan mau buka usaha, listrik rumah tangga saja sangat sulit. Kami tidak
bisa mengembangkan usaha perikanan karena tak ada fasilitas pendingin atau
tempat pelelangan ikan. Hasil tangkapan kami banyak mubazir atau dijual
ke tengkulak Malaysia dengan harga yang dipermainkan," kata Ketua Lembaga
Hak Asasi & Ekonomi Rakyat Indonesia (Leherindo) Kabupaten Nunukan ini.Warga
Pulau Sebatik mengaku jarang sekali dikunjungi pejabat pemerintah. Situasi ini
membuat mereka nyaris tak kenal siapa gubernur, bupati atau juga presidennya.
Tidak heran jika masyarakat di kawasan yang sangat strategis itu cenderung
lebih akrab dengan negara tetangga Malaysia ketimbang dengan negerinya sendiri,
Indonesia."Kalau ini tak segera diperhatikan, masyarakat di pulau-pulau
terdepan akan merasa dikhianati sehingga timbul perasaan ingin berinteraksi
dengan negara lain. Pemerintah pusat mesti secepatnya menuntaskan masalah
ini," kata Rizal Moh Fikri, dari Ditjen Pemerintahan Umum (PUM) Depdagri
yang turut berbicara dalam lokakarya tersebut.
Perhatian
yang kurang bagi masyarakat tersebut juga disebabkan
kebijakan pembangunan kelautan
menyimpang dari kultur bangsa
sehingga lebih diprioritaskan ke darat.
Dari 7,7 juta
km persegi luas Indonesia, sejumlah dua pertiga atau 5,8 juta km persegi adalah
lautan. Potensinya pun
terdiri dari perikanan tangkap, budi daya hasil laut, pertambangan energi,
pariwisata, transportasi laut hingga harta karun. Sebagai gambaran, Tiongkok adalah
negara daratan, tapi pendapatan regional brutonya sektor kelautan mencapai 49 persen,
Korea Selatan sebanyak 37 persen, dan Jepang mencapai 54 persen. Indonesia
sebagai negara kepulauan terbesar di dunia hanya 18,8 persen.Komandan Korps
Marinir (Dankormar), Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono menyebutkan, terdapat 487
titik kapal asing yang pernah karam di laut Indonesia sejak ratusan tahun lalu
dan kapal-kapal itu membawa harta karun yang tak ternilai. Seperti emas-emas
batangan, keramik semua masih ada di dasar laut."Semua itu kalau dikelola
secara optimal pasti memberikan kemakmuran bagi bangsa ini," katanya. Tapi
ironisnya, jumlah orang miskin di Indonesia justru terbanyak masyarakat nelayan
(pelaut) yang mencapai sekitar 27 juta jiwa (60 persen) dari 42 juta penduduk
miskin di Indonesia saat ini.
Anggota TNI AL sebagai satu kekuatan menjaga pertahanan keamanan di laut,
tapi juga tak mendapat perhatian optimal selama ini. Sarana dan prasarananya
tidak dilengkapi dengan baik, pos-pos pengamanan TNI AL di wilayah-wilayah
perbatasan sangat memprihatinkan. Petugasnya tidak dilengkapi sarana memadai,
tapi dituntut agar menangkap musuh dengan kemampuan lebih tangguh. Staf
Ahli Kasal, Kolonel Laut (P) Joharman Main Saleh mengatakan, TNI AL saat ini
hanya memiliki sekitar 60 kapal dari kebutuhan ideal 350-400
kapal patroli, KRI dan jenis-jenis kapal pengamanan laut lain.
Saatnya pemerintah mengalihkan perhatian untuk membangun kelautan secara
serius agar bangsa ini tidak semakin hancur. Memang disadari konsekwensi dari
semua itu adalah memberikan porsi anggaran yang cukup agar seluruh program bisa
terlaksana dengan baik."Pembangunan kelautan memang mahal, tapi hasil yang
diperoleh juga jauh sangat besar. Kita tidak
boleh lagi bersikap setengah hati tapi putar haluan 360 derajat, karena justru
di laut kita jaya," katanya. Bangsa kita terlalu banyak berbuat kesalahan.
Kita baru membuka mata dan sadar kelemahan kita ketika Sipadan Ligitan sudah
dicaplok menyusul lagi Blok Ambalat yang masih dalam status sengketa dengan
Malaysia. Sekarang belum terlambat untuk kita memperbaiki diri. Belajar dari
banyak kesalahan, justru kita menjadi lebih dewasa dan paham apa yang mesti
dilakukan saat ini. Secuil apapun kita harus pertaruhkan hingga nyawa sekalipun
harus dilakukan demi mempertahankan keutuhan NKRI. * Sumber : SUARA PEMBARUAN
Catatan Penulis :
Indonesia
meninggalkan Budaya Bahari atau Budaya Maritim atau Budaya Pantai, sejak ditanda tanganinya Perjanjian Ponorogo antara
Kraton Solo dengan VOC, dimana Penjajah melarang
membuat Perahu dan perdagangan laut dimonopoli VOC. Lihat sejarahnya di
halam lainnya.Maka mulai dari tahun Perjanjian Ponorogo, Budaya Maritim
ditinggalkan dan menjadi Budaya Daratan, atau Budaya Agraris dan Budaya
Pedalaman, hingga kini, masih membudaya
dan dilestarikan bukan saja raja-raja Jawa tempo doeloe tetapi diteruskan oleh
para pimpinan nasional mulai dari era
Presiden Soekarno hingga Presiden SBY.
Jadi hingga kini pembangunan lebih diutamakan Pembangunannya di daratan melebihi Pembangunan Maritim
seolah-olah pemerintah masih tetap
melestarikan Perjanjian Ponorogo tersebut walaupun masa tersebut telah lewat.
Oleh karena itu Pembangunagn Kebaharian di
Indonesia hingga kini tetap dianak tirikan.
(Penulis
: Drs.Simon Arnold Julian Jacob.
Alamat
: Jln.Jambon I/414 J- Rt.10 – Rw.03 – Kricak – Jogjakarta (55242)
Telp.
0274.588160 – HP.082135680644)
Email : saj_jacob@yahoo.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.