alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Kamis, 01 Januari 2015

PARA MANELEO DI PULAU ROTE ( ROTI ) KABUPATEN ROTE NDAO, NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA




Gambar : Para Kepala-kepala Masyarakat Adat Suku (Maneleo) Pulau Rote Nusa Tenggara Timur, dalam pakaian adatnya lengkap dengan selimut dan topi khas Rote Ti’ilangga pada suatu upacara adat.

Maneleo  di Pulau Rote  Menurut  Drs.R.Izaac
Pembantu Bupati Rote-Sabu

 “KIRANYA ada baiknya jika sedikit renungan mengantar isi buku ini bagi
masyarakar Rote, Nusa Sasando, tercinta.
Renungan sekitar “MANELEO” di Rote “Nusa Sasando” – tidak terlepas dari
penyelenggaraan pemerintahan dari zaman-ke zaman hingga kini dalam alam Orde Baru – dengan sistem pemerintahan yang berdasarkan Paca Sila dan UUD- l945, khususnya UU No.5 tahun l974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah yang berlaku di Negara kita. “MANELEO” adalah sekelompok suku-suku yang turut berperan dalam sistem pemerintahan (tradisional) pada umumnya di Rote “Nusa Sasando”.
Buku kecil ini menampilkan LEO-LEO yang masih aktif berpengaruh historis dan menggambarkan derap langkah persatuan dan kesatuan yang saling berkaitan dengan  kependudukan di Rote, Nusa Sasando yang bagi generasi sekarang kurang dipahami secara sejarah. Penyusun menulis buku kecil ini demi suatu kejelasan sejarah, namun diakui masih ada kekurangan dalam penyajiannya”






Selanjutnya dalam kata sambutannya mengatakan, sebagai berikut :
“Penduduk Rote/Ndao memiliki kultur yang spesifik dibanding dengan daerah-daerah lain di Republik Indonesia, Salah satu kulturnya yang berkembang dimasyarakat serta bernilai pengaruh dan berkembang dalam sistem pemerintahan adalah “MANELEO = Kepala suku/Marga” yang mempunyai dampak positip dari masa ke-masa secara historis.  Sejarah kehidupan penduduk Rote-Ndao, Nusa Sasando menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dimana  Maneleo berperan  aktif mengatur aturan yang strategis tradisional. Di sebut “Nusa Sasando” dirasakan sangat mengena, justru alat musik tradisional “SASANDO”  menjadi  perhantian dunia dewasa ini, yang menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun domistik. Sebagai Pemerintah, saya menyambut hangat usaha penyusunan buku kecil ini sebagai informasi  bagi generasi kini dan mendatang sehingga nilai-nilai hidup dan kebudayaan di Rote – Ndao,  Nusa Sasando tidak punah,  melainkan memberikan dorongan bagi pelaksana program-program pembangunan, utamanya Pembangunan Indonesia Bagian Timur termasuk Rote-Ndao Nusa Sasando.

NILAI YANG TERKANDUNG
DARI ARTI  KATA  “ROTE – NDAO

Drs.R.IZAAC, Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote – Sabu berkata :
Pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa nama Rote – Ndao mempunyai nilai/konotasi tersendiri bagi masyarakatnya.
Hal ini dapat kami rinci  arti kepanjangan dari “ROTE – NDAO” sebagai berikut :
  1. (R) – Rasional ----------------Berdasarkan akal,
  2. (O)Obyektif -----------------Kenyataan yang ada,
  3. (T)  - Taktis---------------------Penuh perhitungan,
  4. (E)  - Ekonomis -------------- Untung – rugi
  5. (N)  - Nasionalis --------------Kebangsaan,
  6. (D)  - Demokrasi --------------Musyawarah mufakat,
  7. (A)  - Aktif -----------------------Bijaksana.
  8. (O)  - Operasional ------------Kerja keras.

Penjelasan Arti-Artinya  sbb:

Ø  (R)---R A S I O N A L :
Artinya, setiap tingkah laku, perbuatan dan pandangannya harus berdasarkan akal sehat. Bukan tidak mungkin suatu pengarahan atau suatu motivasi serta kegiatan tidak dapat diterima oleh orang Rote – Ndao, dikarenakan hal tersebut diatas tidak masuk akal – disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Hal ini bukan berarti orang Rote – Ndao bodoh, akan tetapi justru berarti integensinya tinggi, sehingga tahu mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karenanya seorang pejabat, didalam memberikan pengarahan, motivasi atau melaksanakan sesuatu kegiatan, hendaknya diingat agar perlu persiapan yang matang dan perencanaan yang jelas, sehingga apabila dikemukakan, sanggup mengantisipasi tanggapan yang datangnya dari orang Rote – yang kebetulan hadir atau turut serta dalam kegiatan tersebut sehingga masuk akal dan puas.




Ø  (O)---O B Y E K T I F :
Artinya, orang Rote – Ndao bukanlah orang yang malas dan berhayal, mereka adalah pekerja keras dan ulung. Pelaksanaan sesuatu, kalau akhirnya terbukti bahwa perbuatannya/hasil kegiatannya membuahkan hasil yang nyata, dan bukan sekedar khayalan belaka. Oleh sebab itu didalam memberikan motivasi sebenarnya tidak perlu menggunakan kata-kata yang  penuh khayalan sebagai mimpi-mimpi  indah saja, tetapi menyampaikan kata-kata dan data-data yang kongkrit yang kalau dilaksanakan pasti membuahkan hasil nyata. Oleh karenanya didalam memberikan motivasi (motivator) sudah harus  tahu jalas  bahwa apabila sampai pada pelaksanaannya pasti akan berhasil. Kalau tidak, motivator/pejabat tersebut akan dianggap pembohong besar dan sudah tidak dipercaya lagi (sekali lacung ke-ujian, seumur hidup orang Rote-Ndao tidak akan percaya lagi).

Ø  (T)---T A K T I S :
Artinya, didalam melaksanakan kegiatan, orang Rote-Ndao dengan perhitungan baik, atau buruk. bermanfaat atau tidak, menguntungkan untuk kepentingannya atau tidak. Pula didasarkan atas perhitungan-perhitungan yang matang, baik dari segi persiapannya, situasi dan kondisi, permasalahan-permasalahan yang akan timbul maupun jalan keluar apa yang harus diambil guna mencapai keberhasilan dari kegiatan tersebut. Oleh sebab itu jangan heran, kalau ada istilah orang Rote dalam suatu perbincangan pada suatu pertemuan, akan memberikan sanggahan dalam menanggapai  suatu  pembicaraan/pendapat lawan bicaranya, akan mengatakan, “TEHU” =  (“Tetapi”) artinya ia memberi koreksi terhadap pendapat pembicara dengan memberikan sebuah argumentasi/pendapatnya menurut logikanya.

Satu sifat orang Rote dalam suatu pertemuan baik formil ataupun non formil, selain menerima pendapat orang lain, tetapi ia ingin pendapatnya juga didengar. Mereka tergolong pembicara yang aktif. Dengan demikian hasil pembicaraan yang telah disepakati bersama dapat diharapkan akan dilaksanakan dengan baik dilapangan. Apabila keputusan itu adalah hasil keputusan sepihak, apalagi bersifat paksaan dan mengabaikan pendapat mereka, maka sudah dipastikan akan mengalami hambatan dan kendala dalam pelaksanaannya dikemudian hari. Hal ini dirasakan bertentangan dengan adat, yaitu musyawarah untuk mufakat. Jadi istilah TEHU (Tetapi) disini adalah suatu bentuk “koreksi” (sanggahan/bantahan) terhadap pendapat pihak lawan bicaranya. Oleh karena akan berhasil atau gagalnya pelaksanaan program tersebut sudah diketahui maupun sudah diperhitungkan terlebih dahulu oleh orang Rote. TEHU = Tetapi” ditinjau dari segi positip sebenarnya sangat bermanfaat bagi motivator/pejabat, karena apabila kegiatan akan dilaksanakan, orang Rote sudah tahu masalah yang akan dihadapi sehingga motivator dapat segera mengambil jalan keluar atau mempersiapkan diri memecahkan masalah nanti. TEHU” ditinjau dari segi negatip apabila hambatan-hambatan tersebut dipakai sebagai alasan oleh orang Rote, untuk tidak mau melaksanakan kegiatan tersebut.

Ø  (E)---E K O N O M I S :
Artinya, didalam melaksanakan sesuatu kegiatan, orang Rote selalu menggunakan prinsip-prinsip ekonomi bahwa dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya. Didalam melaksanakan kegiatan yang penting, apakah kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi dirinya atau tidak, atau menguntungkannya atau tidak.





Meraup keuntungan/kemenangan, dengan  kecerdikan  dan kecerdasannya
Otaknya. Orang Rote banyak yang tidak tahu hukum dan pasal-pasalnya, tetapi  logika hukumnya tinggi dan jika ada masalah, ia akan menunjukkan kecakapannya dalam berbicara.

Ø  (N)---N A S I O N A L I S :
Artinya, kesadaran dan bertanah air cukup tinggi, lagi pula harga dirinya cukup tinggi. Orang Rote tidak mau harga dirinya diijak-injak dengan sewenang-wenang. Kalau sekiranya harga dirinya ditindas, maka ia akan melawan. Oleh sebab itu Penjajah Belanda sangat memahami hal ini, sehingga Pemerintah Belanda  mengakui manek-manek/raja-raja dan nusak-nusak/kerjaan-kerajaan di Pulau Rote, karena apabila manek-manek dan Nusak-nusak  di hapus, pasti akan terjadi perlawanan. Malah justru dengan adanya Nusak dan dipimpin oleh para manek/raja yang jumlahnya 19 Nusak ini, maka Pulau Rote dapat dikendalikan dan diredam.

Ø  (D)---D E M O K R A S I :
Artinya, didalam memberikan motivasi hendaknya jangan dilupakan unsur musyawarah-mufakat, jangan memaksakan sesuatu kehendak pada orang Rote sebelum dibuka suatu dialog terbuka, malah justru dengan dialog terbuka itulah kita mendapatkan masukan-masukan yang berharga dalam menempuh kebijakan-kebijakan yang akan diambil. Karena pada dasarnya sejak zaman Nusak/kerajaan dengan dipimpin oleh manek/raja selalu diadakan musyawarah didalam mengambil keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan. Oleh karena itu sejak zaman dulu sudah membudaya musyawarah untuk mufakat dikalangan masyarakat Rote.

Ø  (A)---A R I F (BIJAKSANA) :
Artinya, berdasarkan temuan-temuan yang kami sebutkan diatas maka kami berkesimpulan bahwa orang Rote adalah suatu masyarakat yang arif dan bijaksana dan mengharapkan pemimpin yang betul-betul  berdedikasi tinggi, jujur, berintelegensia tinggi, mampu menganalisa permasalahan yang timbul, mampu mengambil keputusan-keputusan yang arif dan bijaksana. Mempermasalahkan yang salah dan membenarkan yang benar.

Ø  (O)---O P E R A S I O N A L
Artinya, orang Rote adalah pekerja yang keras, ulet, dan ulung.
Kalau kita memperhatikan siklus kerja orang Rote sepanjang tahun, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya sepanjang tahun orang Rote tidak punya waktu untuk beristirahat.
Ø  Enam (6) bulan pertama yakni bulan November sampai dengan bulan April, mereka harus mempersiapkan tanah, menanam, memupuk, menyiangi, dan memanen hasil-hasil pertanian.
Ø  Enam (6) bulan berikutnya yakni bulan Mei sampai dengan bulan Oktober mereka harus mempersiapkan, membersihkan pohon tuak/lontar, menyiapkan alat-alat  penyadap nira, dan memanen air nira lontar untuk memasak menjadi gula lempeng, gula semut, gula air/sirup dan rata-rata seorang petani penyadap nira harus memanjat 20 sampai dengan 60 pohon lontar/tuak sehari  (padi dan soreh) untuk dimasak.
Dapatlah dibayangkan betapa sibuknya orang Rote sepanjang tahun bekerja untuk menghidupkan keluarganya. Oleh sebab itu jangan heran kalau orang Rote dianggap sebagai orang yang,

Ø  1.tidak dengar perintah,
Ø  2.menipu pemerintah,
Ø  3.melawan pemerintah dan lain-lain.

Pada hal sebenarnya kekeliruan atau yang membuat mereka di-cap sedemikian, sebenarnya adalah pemimpin yang tidak mempelajari siklus kerja orang Rote yang sibuk sepanjang tahun dengan skedul/jadwal kerja yang sudah terjadwal tetap dan tidak bisa dialihkan untuk bekerja pada sektor  lain diluar kegiatan mereka. Oleh karena itu Orang Rote disebut sebagai masyarakat yang telah memiliki dan menerapkan  manajemen kerja yang berjadwal tetap dan konsisten sepanjang tahun. Pada saat mereka mempersiapkan, atau menyadap nira (pohon lontar)  diundang untuk rapat atau gotong royong, pasti mereka tidak akan datang dan kalau ditanya ketidakhadirannya, pasti berelak bahwa sakit dan alasan lain-lain.  Belum lagi usaha-usaha sampingan lainnya seperti menangkap ikan, memelihara ternak, dan lain-lain usahanya.
Oleh karena itu jika mengharapkan kehadiran orang-orang Rote  untuk menghadiri suatu undangan atau aktivitas pemerintah, harus pandai memilih waktu yang tepat, dimana pada saat-saat tersebut bukanlah waktu sibuk bagi kegiatan rutin orang Rote di siang hari seperti waktu menyadap nira lontar dll.. Misalnya, dimalam hari, atau disaat-saat sehabis ibadah hari minggu yang saat itu sedang menghadiri kebaktian gereja, oleh karena satu-satunya hari dimana bisa berkumpul orang banyak. Seperti kata pepatah kuno “ Sekali mendayung, 3, 4, pulau bisa terlampaui”.

Me-menets orang Rote, perlu pimpinan yang mengenal/menguasai secara  baik budaya dan adat orang Rote. Seperti misalnya pada jam-jam mengiris nira lontar. Di luar itu, akan mengalami kegagalan dan hambatan dalam berbagai kebijakan program-program pemerintah. Semua keputusan pelaksanaan pembangunan di Pulau Rote – Ndao, harus melalui suatu kesepakan adat, dimana mereka yang hadir harus konsekwen menjalankan dengan sungguh-sungguh sebab bagi yang tidak melaksanakan akan terkena sanksi adat. Sebagai contoh, biasanya dalam suatu kesepakatan adat yang telah disetujui bersama oleh masyarakat adat sebagai hasil musyawarah-mufakat bersama, biasanya akan  disyahkan dalam suatu pesta adat / upacara adat, dengan memotong seekor hewan besar dan makan bersama dengan minum arak/sopi (minuman tradisional orang Rote atau wisky orang Rote).

Apabila dikemudian hari ternyata ada yang melanggarnya, maka si pelanggar akan dikenakan sanksi adat, yaitu harus,
Ø  Membayar seekor hewan seperti hewan yang dipotong saat pesta “kesepakatan adat” yang diadakan sebelumnya.
Ø  Jika hewan yang dipotong itu seekor kerbau, maka sipelanggar harus membayar seekor kerbau pula, dan
Ø  Sebanyak jumlah arak/sopi (wisky orang Rote) yang dihidangkan saat pesta itu.
Disinilah letak kensekuensi/kedisplinan hukum adat, yang masih dipatuhi masyarakat adatnya. Oleh karena orang Rote adalah masyarakat suku/Leo (kekerabatan), maka yang memegang peranan penting didalam suku adalah “Maneleo” atau kepala/raja suku.  Maneleo inilah yang akan mengedalikan anak-anak sukunya dalam berbagai kegiatan, baik tradisional maupun untuk tujuan pembangunan dewasa ini. Maka peran mereka sangat dibutuhkan dalam memberdayakan masyarakat sukunya untuk berbagai kepentingan. Para MANELEO kedudukannya dapat kita ibaratkan sebagai anggota DPR-nya SUKU-SUKU  Rote Ndao masyarakat adat orang Rote-Nado atau disingkat (DPRSS-RN). Pemerintah setempat perlu merangkul mereka sebaik mungkin dan melibatkan dalam berbagai kegiatan perencanaan pemerintah.

Mereka adalah kunci penentu, berhasil tidaknya perencanaan pembangunan.
Dengan menyadari pentingnya peranan ”Maneleo” di Pulau Rote Ndao maka, oleh Pembantu Bupati Kupang untuk Wilayah Rote – Ndao, Drs.R.Izaac, pada bulan September dan permulaan bulan Oktober l990 telah berlangsung kegiatan pengukuhan para Maneleo di Wilayah Pemerintahan Pembantu Bupati Kupang untuk Rote – Ndao sebagai berikut :

1.Kecamatan Rote Timur, berlangsung pada tanggal 11 September l990 dengan mengambil tempat di Aula Kantor Kecamatan Rote Timur di Papela – Ringgo dan dihadiri oleh :  yang mewakili Camat Rote Timur, Kepala-kepala Desa, tokoh-tokoh masyarakat dan para Maneleo.
2.Kecamatan Rote Tengah, berlangsung pada tanggal 15 September l990 dengan mengambil tempat di Balai Serba Guna Feopopi-Termanu dan dihadiri oleh yang mewakili Camat Rote Tengah, Kepala-kepala Desa, Tokoh-tokoh masyarakat dan para Maneleo.
3.Kecamatan Rote Barat Daya, berlangsung  para tanggal 18 September l990 bertempat di Balai Desa Batutua, dengan dihadiri oleh yang mewakili Camat Rote Barat Daya, Kepala-kepala Desa, Tokoh-tokoh masyarakat dan para Maneleo.
4.Kecamatan Pantai Baru, berlangsung pada tanggal tanggal 9 September l990 bertempat di Aula Kantor Kecamatan Pantai Baru, dengan dihadiri oleh Camat Pantai Baru, Kepala-kepala Desa, Tokoh-tokoh masyarakat, dan para Maneleo.
5.Kecamatan Lobalain, berlangsung pada tanggal 6 Oktober l990 bertempat di Aula Kantor Kecamatan Lobalain, di LekioEn, Ba’a, dihadiri oleh Camat Lobalain, Lurah Namodale, Kepala-kepala Desa, Tokoh-tohoh masyarakat, dan para Maneleo.   Pada pengukuhan para Maneleo oleh Drs.R.Izaac, Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote-Ndao dan Sabu,  untuk ke-enam Kecamatan, maka khusus untuk 2 (dua) Kecamatan  yaitu, Kecamatan Rote Barat Daya dan Kecamatan Pantai Baru cara kebetulan turut dihadiri oleh Tim DPRD Tk.I- Propinsi NTT, yang sementara mengadakan peninjauan di Wilayah Rote-Ndao.

Dalam pengukuhannya, Pembantu Bupati Kupang antara lain mengatakan :
Pengukuhan Maneleo oleh Pemerintah Rote-Ndao mempunyai dampak positip, karena keberadaan Maneleo  selaku Ketua Adat yang mempunyai pengaruh besar ditengah masyarakat terutama partisipasi aktip dalam menciptakan kerukunan  hidup berkeluarga dalam program Pemerintah Nusa Tenggara Timur, tentang “GEMPAR” (Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat) sehingga pemerintah mengakui serta membutuhkan Maneleo untuk dikukuhkan. Diharapkan perbuatan nyata dan motivasi  dari para Maneleo  untuk merubah Anak-Anak Leo (anak-anak suku) dan masyarakat lingkungan sekitarnya menjadi lebih baik serta mendukung program Pemerintah yang sementara dilaksanakan. Diharapkan pula bahwa apapun Program  Maneleo, harus dikonsultasikan  dengan Kepala-kepala Desa/Lurah setempat sehingga dalam pelaksanaan Program  tidak ada pertentangan, baik secara umum, maupun khusus.




Program Maneleo di Pulau Rote

Pada akhirnya Pembantu Bupati Kupang mengucapkan rasa terima kasih  kepada para Maneleo yang telah ikut  membantu Pemerintah  dalam melaksanakan pembangunan di desa  demi kesejahteraan masyarakat.  Akhir Kata : Suatu pandangan orang Rote Ndao dalam bahasa Adat mengatakan :

Ø  “Lote Nusa Ledo hak,
Ø  Fai hanas, nau lamatu tonggo, ma le lama-ketu lolo,
Ø  Lau inggu, falu ini, ana ala si si makoko do,
Ø  Hala doi, ma kulu do,
Ø  Hu naifai hanas, tua bmila kek ana na oE susu oE kek, andi ana bei utu bai masalak.
Ø  Tua mbila kek, neu naka tatua, boE ma nama-tua dadi neu matua”.

Terjemahannya :

Ø  “Rote adalah pulau kecil terselatan dari Republik Indonesia.
Ø  Adalah tanah yang kering gersang.
Ø  Pada musim kemarau segala tanaman merana dan sungai kering.
Ø  Rakyat sangat mengeluh kekeringan.
Ø  Namun suatu pertolongan dan anugrah Tuhan, khusus kepada masyarakat Rote Ndao, Yaitu pada musim kekeringan, lontar mengalirkan air niranya yang manis.
Ø  Nira yang manis menjelma menjadi air susu ibu yang manis pula.
Ø  Sang bayi dibesarkan karena air nira yang manis, menjadi besar dan sekarang sudah besar”.

(3.4). LEO-LEO & MANELEO  DI ROTE – NDAO

Seperti sudah dijelaskan diatas tentang asal-usul nenek moyang orang Rote dari berbagai jurusan tanah air Indonesia, sekitar 1500 – 2000 tahun silam, telah menurunkan ketutunannya yang tersebar diseluruh Pulau Rote – Ndao yang terdiri dari kelompok-kelompok Suku dan Anak-anak Suku yang disebut Leo dan Maneleo. Dari cerita-cerita lisan dan sejarah silsilah turun-temurun tentang keturunan orang-orang  Rote-Ndao maka diinventarisasi dan
didokumentasikan di masing-masing Nusak/Kerjaan sebagai berikut :

(1) KERAJAAN   THIE :

SABARI
  1. Mbura LaE (Manek/raja) : Messakh, Pandie, Nunuhitu, Arnoldus, Baba, Soru, Benggu, Nalle,  Nappu, Pah, Henukh, Mbura, Tilman, dan Bessie, dan  “Dato; (nama ini telah diabadikan untuk gugusan pulau Pasir yaitu (Pulau Dato I, Dato II, dan Dato III  pada tahun 1600, yang kemudian di rubah lagi oleh Inggris menjadi pulau Karang  Asmore Reef),,.
  2. Saba LaE : Mesah, Ndun, Pandie, Benggu, LaE, Tulle, Baba, Modok, Adu, EoE, Baik.
  3. Henu Tae : Messah, Adu, Fanggi, Ndolu, Mboru, Mesakh, Henukh, Daud, Ndun, Pandi, Resi, Mone, Salu.
  4. Nggau Pandi : Adu, Pandi, Ndolu, Saba, Messah.
  5. Tola Umbuk : Merukh, Koamesak, Nalle, Manafe, Mesah, Adu, Dama, Ndaong, Siok, Haning, Sui, Bulan, Ndus, Pandi, Nggeo, Nallemaa, Ressi, Manu, Mooy, Modok.
  6. Meo Leok : Abraham, Benyamin, Matheos, Daniel,  Mesah, Manafe, Lusi, Boru, Lolo, Sabah.
  7. Kana Ketu (Dae Langgak): Merukh, Langga, Nalle, Nikodemus, Kiki,  Resi, Mooy.
  8. Sua : Benggu, Tanngu, Ndaong, Messah, Misa, Langga.
  9. Le’e  : Foeh, Day, Henuk, Naru, Mbado, Langga, Rasa, Tallo, Adu, Pandi, Tode, Moy.
  10. Musu Hu :  Mooy, FoEh, Dami, Adu, Feoh, Da’ok, Nelle, Ndun, Gabrial, Mbatu, Timu, Sebimia, Jermias.
  11. Kolek : Nafi, Adu, Meru Adu, Saleh, Lunggi.
  12. Sandi : Foek, Foeh, Tode, Sui, Tule, Kiki, Ndun, Manu, Ndana, Tali, Tola.
  13. Kona : Naramesah, Adu.

TARATU: (Fetor) :
  1. Moi Umbuk : Mbatemooy, Mooy, Litik, Manafe, Mooy, Mbatu, Tina, Selly, Langgalao.
  2. Tode Feoh : Haning, Dami, Mesah, Rondo,  Pabdi, Mooy, Tulle, LoE, Adu.
  3. Nale Feoh : Pah,  Manu, Lani, Ndun, Baba, Jacob, Foeh, Lilo.
  4. Mesah Feoh : Adu, Boru, Mesah Nalle, Ndaong, Henuk, Detahenu, Pelipus, Haning.
  5. Ndana Feoh : Besi, Haning, Nalle, Mesah, Foru, Mberu.
  6. Feoh Soru : Mesah, Mooy, Merukh, FoEh, Lani, Todemoy, Nafi, Nggeon, Sui, Sabah.
  7. Mane Dato : Nggebu, Bessie, Oktovianus, Frans, Adu, Lani,  Nalle, Hanafeoh, FoEh, Haning, Todesolo, Mbori, Nalley, Lusihani, Dale, Pah.
  8. Langga Lodo : Ndun, Dano, Adu, Lusi, Henuk, Helo, Mooy, Ndolu,, Langgalodo,.
  9. Bibi Mana : Musu, Resi, Langga, Mesah,  Boru, Baik, Lusi, Bove, Bengu, Ndoluma, Kiki, FoEh, Mooy, Dale, Moyhenu.
  10. Soru Umbuk : Manafe, Adu, Nggeo, Lani, Lebo.
  11. Moka Leok : Mewah, Adu, Ndolu, Tode, Tomas, Moy, Timu.
  12. Keka Dulu : Boru, Manu, Adu, Boakh, Nalle, Mesah, Liu, Soru, Manefe, Nggeo, Saku, Uda, Doro, Resi, Tulle, Sak, Langga, Dami, Ndean, Mooy.
  13. Leo Ina : Mbura LaE, Henu LaE, Saba LaE, Ngau Pandi, Tola Umbuk, Meo Leok, Kolek, Sandi.
  14. Leo Ana: Sua, Lee, Musu Hu, Kona, Kana, Ketu.
NISAK antara suku-suku di THIE sebagai berikut :
    1. Suku Buru Anan dengan suku Henu LaE.
    2. Suku Musu Hu dengan suku Tola Umbuk.
    3. Suku Sua dengan suku Mbura LaE.
Maneleo-maneleo dari suku-suku dari kerajaan ini yang belum terdaftar, mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini. Ini berarti belum semua marga Rote terdaftar disini, atau belum lengkap, oleh karena yang lainnya belum terinventarisasi.



(2). KERAJAAN  D E L A/D E L H A

  1. MbaE Sedefeoh (Manek/raja) : Ndun, Lape, Lani.
  2. MbaE Mbate : Mesafeoh, Mbate, Sede, Resi, Feoh.
  3. MbaE Tasi : Mesafeoh, Hangge, Londa, Sangga, Tau, Huba, Adu, Lulu, Ndoy, Tasi, Feoh, Suki, Fanda.
  4. MbaE Mbatu–Mesafoeh : Tufu, Resi, Mbatu.
  5. MbaE Kaifeoh : Feon, Kay.
  6. Tarhani : Fuah, Mesah, Sine, Mboro, Ngadas, Lenggu, Nggiri, Lai, Medah, Suki, Seli, Bunda Dethan.
  7. Leoanak : Balu, Lape, Kay, Manafe, Sely, Rondo, Johanis.
  8. Ombok Lua NaE : Loa, Lutu, Kay.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar, mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(3). KERAJAAN O’ENALE

Leoanak : Manek (Nafitein).
  1. Lengguteik : Lenggu.
  2. Nggiri : Giri.
  3. Ngada : Ngadas.
  4. Mboro : Mboro.
  5. Deta : Dethan

M B A E O ( Fetor)
  1. MbaE Nalle : Nalle.
  2. MbaE Feoh : Feon.
  3. MbaE Mbatu : Mbatu.
  4. MbaE Ala : Ala.
  5. Mbae Nggi : Nggi.
  6. MbaE Alnabe : Alnabe

T A R H A N I
  1. Sineteik : Sine.
  2. Pandi  : Pandi.
  3. Mbeo : Mbeo.
  4. Mesah :  Mesah.
  5. Seli : Seli.
NGGELAN (Dae Lanngak = kepala pertanahan)
  1. Ngelan.
  2. Lodo.

LEOANAK
  1. Roa Mbura : Mbura.
  2. Roa Tupa : Tupa.
  3. Roa Loulela : Leulela.
  4. Roa Boboy : Boboy.
  5. Ait Rondo : Pasole.
  6. HouoE : Haninuna.
  7. Mandala : Lifu.
  8. Paadale : Nggainilu, Mbala, Nea
  9. Nia : Nia.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(4). KERAJAAN  NDAO

  1. Loasana (Manek): Loasana, Koten, Bunga, Puaraja, Ledo, Mengga, Kana, Sina, Ndun, Baun, Fia, Suki, Meka, Bela, Nara, Ely, Fatuly, Menda, Muda.
  2. Opeteti : Manubala, Kota, Lemba, Lodo, Ratu, Ledo, Nggau, DaE, Tolla, Engga, Paa, Ndolu, Bala, Fai, Mbau, Resi, Fola, Rano.
  3. Hini Ade : Fatu, Fola, Lari, KoE, Duli, Suki, Luji, Eba, Pingga.
  4. Hini Tua : Jo, Lodu, Tule, Fia, Lende, Fe, Lole, Fola, Muti, Bula.

APLUGI: (Fetor).
  1. Aplugi : Fatu, Ledo, Keda, Ndolu, Lamu, Mengga, Damu, Bunga, Mbau, Sede, Do, Fotolo, Lele, Lufi, Sere, Ledo, Lole, Hui, Nara, Rabe, Eda, Foru, Muti, Moy, Lusi Ely, Lagi,
  2. Hele Ndun : Fee, Fola, LoE, Seli, Koa, Lena, Lodo, Lilo.
  3. Mboto Tolo : Fatu, Ndun, Soru, Adu, Do, Sede, Ledo, Lole, Hui, Mbui, Ndoko, Nafi.
  4. Lodo Ndun : Penu, Duli, Mamo, Kole, FanggidaE.
  5. Ana Sahu : Fandu, Bola, Pengga, Lilo, Menda, Koa, Bala, Luji, Lomi, Lungi, Fora, Ndun.
  6. Kadati : Lodo, Lusi, Rano, Maujami, Tuka, Jo, Lobe, Logo, Ndun, Lusi.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.


(5). KERAJAAN DENGKA

ELO MULI
  1. Elo (Manek) : Elo, Lete, Fanggi, Laazar, Henuhana, Abisanu, Mbau, Lani, Mengge, Ndoi, Ndeo, Tungga.
  2. Fando : Fele, Polo, Adu, Mole, Baik, Fanggi, Tasi, Henuk, Ufi, Nafi.
  3. Tasi oE : Saduk, Henuk, Poi, Mbau, Detanelu, Nafi, Foes, Balu, NggoEk, Paa.
  4. Luna : Lulupoi, Luna, Anebi, Besi.
  5. Todak : Adu, Fanggi, Eoh Ndolu, Ndolu Eoh, Ndolu, Ledo, Sau, Fanggi, Donggi, Pandi, Henuk, Bate, Tobo, Nulek, Mbau, Pou, Langga, Moy, Hana, Nafi, Ndun.
  6. Boluk : Eoh, Hanas, FoEh, Ndun, Adu, Sula, Lona, Bandi, Nale, Henudelas, Fanggi, Holo, Detadales, Fili, Sela, Haninuna.
  7. Busaleok (Mbuiteik): Foes, Modok, Nasa, Bulu, MboE, Ndun, Ndolu, Namo, Sula, Mone, Nggili, Londa.
  8. Leoanak : Nafi, Suek, Lani, Lete, Hele, Adam, Henuhili, Modok.
  9. Mbau Umbuk : Henuhili, Modok.

  1. HENUTEIK (Manek):Tungga, Elimanafe, Ndaomanafe, Tolamanafe, Manafe,  Pah, Bunda, Ndun, Saudila, Ngili, Tongge, MboE, Kana.
  2. Mbui Teik : Suka, Ndun foes, Besi, Hili, Koten, Henuk, Talak, Duli, Lange, Mudak, Sodek, Lusi, Doa, DaE, Seik, Moy, Dethan, Seli, Bur, Loe, Foeh, Adu, Ufi, BurloE, Dale.
  3. Sa’u Teik : Soluk, Ndun, Tallo, Bulu, Loak, Mbuik, Sau, Lalai, Moy, Fanggi, Nggili, Lusi.
  4. Lani Teik :  Ndun, Kiu, Adulenggu.
  5. Leo Lulu : Ndolu, Manu, Mode, Saduk, Adu, Pah, Lete, Mbau, Kilak, MoE, Dethan, Busu, Fafok, Fek, Nafi, Lolo, Seuk.
  6. Bo’ai : Dono, Ledo, Lusi, Sula, Modok, FoEh.
  7. Mbau Leok : Ndolu, Mbau, Solo, Seli, Mbuik, Polo, Henuk, Pah, Poy, Fanggi, Hili, Ndun, Liak, Lesik.
  8. Leseleok : Molak, Lesik, Talik.
  9. Neu Teik : Lilo, Nggili, Ndolu.
  10. Sai Teik : Sain, Suek, Iu.
  11. Manggi : Mbuik, Saluk, Luik, Detan, Kanu, Lilo, Naluk, Sauk, Pah, Lani, Sula, Adubao, Modok, Henuk, Mode.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terrdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(6). KERAJAAN  LELAIN

  1. BOb0 (Manek) : Besie.
  2. Mengga (Fetor) :Dunggun, Pasu.
  3. Bobolana : Solo, Nale.
  4. Lodu : Adu, Ndun, Sure.
  5. Lodu Li : Fanggi.
  6. Tadi : FoEs.
Ndala Teik : Tesa, Dunggun.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terrdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(7). KERAJAAN   B A’A

  1. E N E (Manek) : Pani, DaE Pani, Tulle, BailaEn, Detaq, Toumelak, Muskanan, Manafe, Ndun, Mbolik, FoEh, Dano, Hunuk, Soluk.
  2. Modok : Mandala, Pelomanu, Oto, Toulasik, SuEk, Manu, Manuain, Souai, Bola, Ndun, Tasi, Fanu, Tomasui, Adu, Bailao, Longgo, Lonis, Kollo, Limbak.
  3. Suki : Lonak, Boik, Ndun, Anin, Adu, Manafe, Bulan, Kilak, Mesak, Meno.
  4. Felama : Tinek ?, Ndolu, Bulak, FanggidaE, Bessie, Ndun.
  5. Faisama : Mbolik, Hanan, Tonak, Toudengga.
  6. Nggi : Kiak, Pani, Toulasik, Bilik.
  7. Ko Hu : Pah, Dani, Anin, NggoEk, FanggidaE, Susak.
  8. Kunan : Manafe, Mbolik, Pani, Ndun, Toulasik.
  9. Taililo : FanggidaE, Toulasik.
    • Leo Modok,  terbagi atas empat manulanggak yaitu :
    • Lenggu Teik, dengan fam Bailao, Toulasik, Sooai, Mandala.
    • Kapa Teik, dengan fam Bailao, Toulasik, Sooai.
    • Busa Teik, dengan  fam SuEk, Bulan, Ndun, Kolo.
    • Koa Teik, dengan fam Ndolu dal lain-lain.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terrdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(8). KERAJAAN  L O L E H
  1. Mbesa / Hoanumbuk ( Manek) : Zakarias, Lekeama, KoEanak, Koan, Manafe.
  2. Tasi Tein : Tasilima, Suilima, Kota.
  3. oEfamba : Mbuik, Adu.
  4. Mula : Nduluanak, Lazarus, Loak, Meno.
  5. Leoanak : Hendrik, Ndun, Mbado, Makandolu, Mbado, Leok, Kornelis.
  6. Lebo  (Fetor) : Dilak, Patola, KoEhuan, Zakaria, Mansula, Tine, Mbado, Hak, Ndun, Hiskia.
  7. Koalain : KuEaian, SinlaE, Baluk, FoEnale, Kety, Meno, Laning.
  8. Tetematein : Pandi, Adu, Makandolu,  Manafe, Huan, Meno, Paulus, Manukoa.
  9. Hadebonggama:  Inggu, Ndaomanu, Anabokai, Ndun, Kety, Pala, Manu.
  10. Sandi : Mandala, Alhans, Toku.
  11. Nondi : Ndaok, Mansula, Hermanus, Elias, Banggak, Bulan.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(9). KERAJAAN  TERMANU

  1. Fola Teik :  Amalo
  2. Hailitik Teik : Pella, Ballo, FanggidaE
  3. Nelu Teik : Pellokila
  4. Edon Teik : Edon, Muskanan, Pello, Malak
  5. LoE Teik : SinlaeloE
  6. Ndaomanu Teik : Ndaomanu, Ballo, Malak
  7.  Muskanan Teik : Muskananfola, Folamauk
  8. Kila Teik : Kila, Makandolu, FanggidaE
  9. Kiukanak : Pello, Huandao, Mesah, Medi Tulle, FanggidaE, Hailitik, Soludale, Kalek,  Lida,  Siubelan, Dulik, Lino, Delu, Tomodok, Lian.
  10. KotadEak : Ambesa, Manafe, Lesiangi, Lusi, Pellu, Saduk.
  11. Sui : SinlaE, Toumeluk, Nggeolima, Touselak, Mansopu, Tallo, TalonggoE, Ndun, Pian, Tomodok, Nggili.
  12. Inggubeuk : Lusi, Kiuk.
  13. Uluanak : Sodak, Pena, Mandope, Masita.
  14. Ngefalaik : Muloko, Nggi
  15. Detamauk : Detamauk
  16. Ingufao : Manafe, Nadek, FanggidaE, Manu, Seme, SinlaE.
  17. Ingunau : Manafe, Nadek, FanggidaE, Manu, Seme, SinlaE.
  18. Meno : Adulanu, Tupuama, Lonameo.
  19. Doudengga (Toudengga ?): Pellondou, Labola, Ndun, Fola, FanggidaE, Tallo, Lapian.
  20. Ndileu : Ndun
  21. Ndau : TaEk
  22. Botokama : Kapitan, FanggidaE.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.


(10). KERAJAAN   K E K A

  1. Kopalai : Solu
  2. Leomanek (Manek): Malelak, Malelak Balan
  3. Saii Teik : SinlaE, SinlaE Belan
  4. Manafetoana : Koanak, Liu
  5. Sukutein : Salapoi, Huan, FanggadaE (Fetor).
  6. Mau Teik :  Nggi, Malelak Nggi, Lusi, Tomas (Manedope), Lengah.
Suku-suku yang tidak tergabung pada kedua rumpun keluarga ini ialah : Fatuhade – Manafe.  Masahu : Kadek, Lusi, Koanak, Sauk.
Maneleo-maneleo dari suku-suku dari kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(11). KERAJAAN   T A L A E

  1. InggoE (Manek): Dethan, Ndun, Taka, Lenga.
  2. Dunikama(Fetor) :  Saudale, Mansopu, Lete, Keti, Taka, Manafe, Beten.
  3.  KULU Teik : Solu, Ndun.
  4. Songa : Pingak, Manafe, Ala, Letik, Kadafuk, Ndukonak, Nduanak.
  5. Masahu : Samnu.
  6. Kiukanak (asal Termanu): Bove, TananggoE, FanggidaE, Patola, Tallo, LoE.
  7. Sionkaintein : Sanu, Muskanan, Manafe, Haning.
  8. Fatuhade : Lada, Solo, Lusi, Lete,  Manafe, Pingah, Pello, Taulo.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(12). KERAJAAN   B O K A I

  1. Leko (Manek) : Dupe, Teuk, Johanes, Beda, Oly, Tallo, Asari, Manafe, Lusi, Lomang, Sina, Hun, Adu, Lada.
  2. Tido : ?
  3. Masahu : Dano, Lona, Sanu,  Lay, Polin, Taka, Muloko, Baleng.
  4. Kopalaisolu : Malelak, Baleng, Pelandou.
  5. Sanik : Thobias, Kornelis, Elia, Pingah.
  6. Dunikana : Saudale.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(13). KERAJAAN   L E L E N U K

  1. Dongi Teik : (Manek) : Daik, Donga, Jonas, Ledoh.
  2. Saka Teik (Fetor) : Sina, Danang, Urbanus, Manafe, Markus, Liu.
  3. Nabibi : SaEk, Ballo, Manu.
  4. Hakoama : Manafe, Lapa, Tasik.
Suku-suku pendatang ialah :
1.    Mansea : Mesang, Non, Lusi.
2.    Mun Teik : Lay, Manafe, Kufa.
3.    Sanik : Tallo.
4.    Besi Teik : Nulik.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(14). KERAJAAN   D I U
 
  1. Besi Teik  (Manek) : Manafe, Adu, Oeina, Lay, Malote, Kise.
  2. Kana (Dae Langak) : Poli, Loden, Mulik, Adu.
  3. Mun Teik (Dae Langgak) : Kufa, PoEh,  Manafe, Lada, Poko, Mulik, Ngeo.
  4. Mansea : Non, Bella, Kulle.
  5. Solo Teik : Bollu.
  6. Ladukai : Napa,  Haden.
  7. Fola Teik : Ngik, Lebo.
  8. Lopun Teik : Neon.
  9. Diudaek : Suki, Bolla, Kama, Lidik, Son, Ballo.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(15).KERAJAAN    K O R B A F O

  1. Ndeo Teik (Manek) : Manubulu.
  2. Sodan Teik : Meme, Angi.
  3. Nggusi Teik : Beama, Meda.
  4. Bula Teik : Lapudooh, Bulan.
  5. Ngongo Teik : Lima, Inguama, Manudia.
  6. Tunga Teik : Hada, Meno, Pello, Patola.
  7. Sanik (Fetor): Tasiteik, Tasi, Manafe, Toudua.
  8. Kebobai Teik : Pinga, Manafe, Ndisain.
  9. Leoanak Teik : Leoanak.
  10. Batu Teik : Toudengga, Banain, Angi, Ndun.
  11. Kebi Teik : Bauana, TananggoE, Malesi, Manafe, Kebo, Jacob, Polin, Elik, Singgili, Aufengo.
  12. Balu Teik : Balu.
  13. SuEn Teik : Bernadus, Nggeon, Asari, Lodo.
  14. TananggoE : Kedo Teik, Kedoh, Bauana, Malesi, Leoanak, TananggoE, Manafe, Mandala, FanggidaE, Haiain, Ndolu, Lusi, Leko, Tidok.
  15. Lasi Teik :  Lapaan, Malesi, Nongo.
  16. Tale Teik : Beda, Nauk, Malesi, Kekado, Batuk,  Nggeon.
  17. Opa Teik/Lengo Teik : Petan, Nggeon, Detan, Malesi.
  18. Inggusudi :  
    • Kalai Teik :Messah, Ballo, Le, Lio, Sula, Beama.
    • Kawama Teik : Leli, Lona, Beama, Lesik, Daloke, Ledo,Manafe.
    • Sanga Teik :  Ballo.
    • Sodakai Teik : Sodakain, Tasi.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

Bernabas Yacob (pakai Ti’ilangga), & keluarganya, salah satu Maneleo dari Suku Jacob di Korbafo-Tungganamo-Kec.Pantai Baru--Kab.Rote Ndao-NTT.
Foto :Penulis,  Drs.Simon Arnold Julian Jacob- 23-07-2006.

(16). KERAJAAN    B I L BA

TALKOKO (Manek)
  1. Maaubeeh : Lenggu, Theon, Saba.
  2. Ngatalama : Eluama, Laihe, Medah.
  3. Pedaama : Lalai, Musa, Lase.
  4. Kapa Teik : Nge.

LENGUMAU (Fetor).
  1. Telik : Manafe, Therik, Lote, Lepa, Pala, Muda.
  2. Oeain : Dea, Ay, Lote, Muda, Adu.
  3. Foka : Eken, Lay, Dokon, Lona.
  4. Folio : Mulik, Lango, Bulan, Mesang.
  5. Sode : Dala, Thene, Lolo, Lete, Lusi.
  6. Kadati : Baun, Leneng, Sio, Manafe.
MUMUK (tunggal): Ngefak, Lona, They, Suki, Salean, Henuk, Sabah.
SANIK :
  1. Sanik : Ngulu, Mau, Besi, Meda, Telik.
  2. Lauana : Manung, Bulan.
  3. Loki : Kalenan
LAHAA:
  1. Lahaa : Ngik, Medah, Mulik, Bulan, Nafi, FoE, Leka.
  2. Lako : Bokotei, Ngik, Tasi.

MANSEA :
  1. Bolla : Bolla.
  2. Kule  : Kule, Poi, Dopen, Likan, Lona, Non.
  3. Ngili : Ngili, Teluain, Mulik, Buak, Lopung, They.
  4. Fani : Fani, Luan, PoEk.
  5. Feuama : Timun, PoEk.
  6. Beng Beng : ?
  7. Meno : Meno (Dae langgak).

KAI OE :
1.    Ingutali : Pena, Dite, Lango, Ingutali, Kesi.
2.    Banok : Lusi, Lutu.
3.    Ledo : Ledo, Lai, Pena, Delu,  Lolu, Mesang.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(17). KERAJAAN   R I N G G OU

  1. Tukan Teik (Manek I) : Malada, Doi, Sereh, Nes, Layfoi, Timu.
  2. Naon Teik (Manek II): Lely, Daud, Tu’ulima, Beaama, LauwoE.
  3. Dato (Fetor): Tupu, Fuah, Besi.
  4. Naladai (Dae Langgak) : Risi, Poyk, Run, Klaas, Sui, Doroh..
  5. Apaseri : Markus, Siky, Sikitari, Tari, Seseli, FoEh, Paty.
  6. Toko Teik : Kedoh, Jacob, Pele, Fani, Asa.
  7. Deru Teik : Bulan, Deru, Poyk (PoEk),Oan.
  8. Day Teik :  Lay, Day.
  9. Mali : Toulai, Mekah.
  10. Dati : Pele, Otta, Pelu, Manafe, Dope, Besi.
  11. DaEma : Soru.
  12. ROTE :
    • Rote Anabako : Dedeo, Rote, Ky, Keta (Heta ?), Bulan, Poyk.
    • Rote Lamaluk : Lay, Kah, Kolifai, Pada, Lanu.
    • Rote Anakai :  Anakai, Mada.
    • Rote Tutudila : Amaia, Bakuama, Roy, Bola.
    • Rote Analaso : Tokoh, Layfoi.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.









(18). KERAJAAN   O’ E P A O

  1. Inaian (Manek II) : Syiun/Syoen, Haio’E, Fao. Isak, Titi.
  2. Inaaidulu (Manek I) : Mozez, Fo’Ek.
  3. Ari (Fetor) : Lapak, Eah.
  4. Sai’i : Baluk.
  5. Ornado : Martinus, Soan, Bulan.
  6. Niteik : Bero, Noak, Meok.
  7. Dano :  Batun, Haio’E.
  8. oEina : Bokotei, O’eina.
  9. O.’omama : Bulan.
  10. Ramea : Telulain.
  11. Fia (Dae Langgak): Ada tiga Manulanggak.
    • Fia Muri : Hake, Soa.
    • Fia Talada : Sereh, Surah.
    • Fia Dulu :  Ledo, Ese.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

(19). KERAJAAN   L A N D U

  1. Sura Teik (Manek I) : Adi, Matasina, Kedoh, Haiain.
  2. Di ama (Manek II) : Johanis, Matara.
  3. Suramalai (Fetor) : Kedoh, Marolo (Maralo ?), Lami, Bafadau, Matara, Marada.
  4. Remiku (Dae Langgak) : Hun, Sura.
  5. Raipo : Feroh, Ledoh, Mesan, Darlu.
  6. Mali’i : Fa’ah, Toulay.
  7. Sereak : Rui, Anakai, Kaun, Resiana, Matasina.
  8. Anabako : Ima, Rote, Dedeo, Nako, Heta, LaEelu.
  9. Taetu :  Tuti, Io.
  10. Iku Seri : ?
  11. Tutudila : Batuk, Bola.
Maneleo-maneleo dari suku-suku kerajaan ini yang belum terdaftar mohon data-datanya diminta untuk melengkapi buku ini.

Di Alamatkan  kepada Penulis :  Drs.Simon Arnold Julian Jacob,
Jln. Jambon I, No.414 J--RT.10 – RW.03, Kelurahan Kricak – Jatimulyo –Kec.Tegalrejo--Jogyakarta, Telp.0274.588160 – HP.082135680644
Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id

Namun dengan data Maneleo yang ada sekarang ini dapat diketahui dan diharapkan memberi manfaat serta pengenalan terhadap kelompok-kelompok marga yang sangat langka ini, untuk menjalin persatuan dan kesatuan dalam kekerabatannya. Dengan demikian memudahkan dalam penyusunan Silsilah keluarga yang kebanyakan dari mereka telah merantau dan menyebar   keseluruh pelosok Nusantara sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, diantaranya  sudah bermukim di Luar Negeri, yang tidak mengenal lagi asal usul keturunannya, selaku orang Rote.
Inventarisasi dan mendokumenkan marga-marga & kekerabatan dari suatu pulau/Kabupaten secara utuh dan lengkap,  menurut hemat penulis inilah yang pertama kali yang pernah ada dan diadakan, bukan saja dalam ukuran tingkat nasional tetapi juga internasional. Hal ini bisa terjadi akibat dari kelebihan orang Rote dalam mengingat-ingat dan menghafal silsilah kekerabatannya, yang diturunkan berupa cerita rakyat secara lisan dari neneknya kepada anaknya, dan dari anak kepada cucunya hingga seterusnya secara berantai, dari abat ke abat tetap diingatnya, sehingga mata rantai kekerabatannya tidak terputus. Penulis mengharapkan generasi sekarang perlu meneruskan matarantai kekerabatan ini untuk pelestarian dan kekompakan dari masing-masing marga, untuk menciptakan kerukunan dan persatuan antar sesama orang Rote, dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
Luangkan waktu anda yang berharga itu, untuk sesekali menjenguk keluarga-keluargamu di tanah lelehurmu di Pulau Rote, dan sedapat mungkin anda dapat menyumbang sesuatu pembangunan keluargamu dan nusakmu yaitu “Kabupaten Rote Ndao – Nusak Sansando”.

“Bolelebo” – “Malole Ta Malole, Ita Nusa De Malole (Baik tidak
Baik Nusak Rote Lebih Baik)--- Mama hala Ita Fali’EEE, (Mama
Panggil Kita PulangEEE.”...)

Itulah sepenggal judul lagu Rote, suatu himbauan untuk anak-anaknya dimana saja berada. Tetapi kenyataannya adalah, “Mereka pergi untuk tidak pernah kembali lagi ke Rote Ndao Negeri Leluhur Tercinta”?

Penulis : Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Alamat : Jln.Jambon 1/414J – Rt.10 – Rw.03 – Jatimulyo – Kricak – Jogjakarta (55242)
Telp. 0274.588160 – HP.082135680644
Email :  saj_jacob@yahoo.co.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.