Sekilas Tentang Pesta Panen Di JEPANG
Oleh
:Drs.Simon Arnold Julian Jacob
Perlu kita ketahui bahwa
sebagian besar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia antara
lain adalah dari Jepang. Oleh karena itu perlu sekilas kita mengenal budaya Jepang khususnya di bidang pertanian
sebagai berikut :
Di tengah kehidupan modern, masyarakat Jepang masih teguh merayakan festival
tradisional yang berkaitan dengan kehidupan pertanian dan alam yang memberikan
sukses usaha pertanian Kehidupan
masyarakat Jepang di masa lalu adalah
masyarakat petani. Karena itu, setiap
festival rakyat yang diselenggarakan disana selalu ada hubungannya dengan pertanian. Baik itu musim tanam, atau
pada musim panen. Namun tanah-tanah lapang yang bertebaran di sana-sini dengan
puncak-puncak gunung yang tinggi serta lembah sempit, merupakan masalah besar
bagi para petani Jepang.
Di Jepang, tak lebih dari 17 persen tanah yang dapat
dipakai untuk kegiatan pertanian. Karena
itu diperlukan para petani yang trampil
dalam pengolahan tanah sebagai lahan pertanian. Sehingga tak heran bahwa di zaman industri yang sangat pesat
sekarang, tanah-tanah kosong di antara pabrik-pabrik kokoh-kekar terdapat areal persawahan, meski hanya satu petak,
tetapi hasil panennya tinggi. Hasil
panen itu selain dikonsumsi juga digunakan
untuk upacara-upacara festival sebagai
penghormatan pada nenek-moyang mereka.
Para
petani Jepang masih menganggap bahwa menanm padi adalah pekerjaan suci, dan
untuk peningkatan produksinya, selain terampil
dalam teknologi, mereka juga percaya bahwa “kami” (dewa) akan memberi hasil panen yang melimpah pada
mereka.Pada bulan Januari, ketika
musim dingin akan berganti dengan musim semi, para petani membuat kagami-mochi, kue yang terbuat dari tepung ketan yang ditaruh
di atas “sambo”, (baki) di rumah mereka, sebagai
kepercayaan bahwa mereka yang memakannya akan mendapat rezeki. Begitu pula terhadap hasil panen mereka nanti. Dan bila
seseorang petani mengalami kegagalan, karena padinya belum bernas setelah
beberapa bulan, maka mereka melakukan penelitian
terhadap pohon-pohon cemara, bambu, dan kastanye dengan sepotong kertas bersih
yang disebut nusa. Dalam musim semi, saat sawah sudah dialiri air, serumpun bambu yang dilengkapi
dengan peralatan suci dan kuil diletakkan di tengah-tengah waduk irigasi.
Pada
sebuah teluk kecil, dimana air mengalir pada sebuah gundukan tanah, sebagai
simbol dewa ladang ta-no-kami, yang
memberkati usaha pertanian mereka. Upacara tersebut diselenggarakan untuk mengetahui keberhasilan pamen pada
masa panen berikutnya. Dan pekerjaan memindahkan semaian padi pun dilakukan sambil menyanyikan lagu tradisional
untuk menghilangkan kepenatan. Selain musim panas, pada saat tanaman memerlukan
banyak air, festival musim panas natsu marsuri juga diadakan sebagai
penghormatan kepada dewa air.
Pada bulan September,
dewa angin dihormati dan
diharapkan tidak terjadi apa-apa selama musim badai. Sawah-sawah pun mulai
ramai dengan orang-orangan yang sengaja dipasang untuk menakuti burung pemakan
padi. Bersamaan dengan itu pula, dipasang bunyi-bunyian dan benda-benda
tersebut diarak dalam suatu upacara
yang disebut kakashi-age. Dengan festival ujigami matsuri yang diadakan setelah panen, maka sebagai pertanda
upacara syukur atas kemakmuran yang telah diberikan, dewa sawah, ta-na-kami
dikembalikan lagi kegunung-gunung dan diubah menjadi yama-no-kami, yaitu dewa gunung untuk masa tanam sampai panen
berikutnya. Ketika
mengembalikan dan mengambil kembali, selalu dihubungkan dengan pesta kigansai (doa untuk keberhasilan panen)
dan niiname-sai (panen pada musim
gugur) yang disediakan setiap tahun di Imperial Palace di Tokyo.
Di tengah dunia yang sudah sangat modern dan perubahan
masyarakat yang begitu cepat, upacara-upacara ritual dan pesta-pesta adat
semacam ini masih tetap dirayakan secara
meriah. Meski
pesertanya mungkin bukan para petani itu sendiri. Bahkan ada pula acara khusus
untuk anak-anak agar mereka tahu
bahwa keberhasilan panen selain pengetahuan teknologi yang makin maju, juga faktor alam yang banyak membantu.
Aki-Matsuri
(Festival Musim Gugur), Festival yang diselenggarakan oleh masyarakat Nagiso, provinsi Nagano ini merupakan
upacara terima kasih pada para Dewa yang telah memberikan panen melimpah.
Anak-anak membawa mikoshi membentuk keranjang
dari jerami. Onda-Matsuri (Perayaan
Panen Padi), Pemimpin pendeta di kuil Ichinoiya,
propinsi Kumamoto menaburkan
butir-butir padi pada sebuah mikoshi untuk
memperoleh hasil panen yang baik. Doburuku-Matsuri
(Festival Anggur Beras), Mikoshi yang
diarak keliling desa Shirakawa, provinsi
Gifu ini berisi arak beras buatan sendiri (sake) untuk dibawa ke kuil, persembahan bagi Dewa yang telah
memberikan hasil panen melimpah. Acara dilanjutkan dengan pesta minum anggur
dari beras tersebut. Mega-No-Kenka-Matsui
(Festival Perang Mega),Para lelaki muda menarik dan mendorong dashi dinaiki dua orang muda yang
menabuh sebuah tambur. Melalui festival ini masyarakat mengucapkan
syukur atas panen tahunan yang berhasil. (Suara
Alam Jakarta, No.48/Mei l987 : 43-47).
Catatan Penulis
:
Festival-festifal
tradisional yang diadakan sehubungan dengan pertanian tersebut, merupakan
motivasi yang besar terhadap sektor pertanian di Jepang sebagai suatu
kebanggaan tersendiri. Sedang di Indonesia, nyaris tidak terdapat lagi fistifal-festifal
tradisional pertanian. Hanya masih terdapat di Kota Jogyakarta dan Solo, berupa
pesta “Gunungan” yang berisi berbagai hasil pertanian yang diarak disekitar
Kraton dan pada akhir arakan, segala macam buah-buahan di Gunungan) tersebut menjadi rebutan
masyarakat dan yang tinggal hanya kerangka gunungannya saja, sebagai symbol
pembawa berkah bagi yang memperolehnya, saat diselenggarakan Pesta “SEKATEN”
sekali setahun itu, masih dilestarikan.
Sedang
di Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur,
setiap panen pertama, biasanya ada bagian yang di berikan kepada Gereja
sebagai tanda syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan keberhasilan
tersebut. Setelah itu baru hasil-hasil panen tersebut baru boleh dimakan. Ini
disebut Persembahan “Hasil Hulu” kepada
Tuhan. Biasanya setelah Kebaktian Gereja, “Hasil-hasil Hulu” itu dilelang kepada para Jemaat yang hadir di Gereja.
Hasil-Hasil Hulu umumnya adalah semua jenis Hasil Pertanian seperti padi,
jagung dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.