alamat email

YAHOO MAIL : saj_jacob1940@yahoo.co.id GOOGLE MAIL : saj.jacob1940@gmail.com

Senin, 26 Januari 2015

SEKILAS TENTANG PESTA PANEN DI JEPANG

Sekilas Tentang Pesta Panen Di JEPANG
Oleh :Drs.Simon Arnold Julian Jacob

Perlu kita ketahui bahwa  sebagian besar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia antara lain adalah dari Jepang. Oleh karena itu perlu sekilas kita mengenal  budaya Jepang khususnya di bidang pertanian sebagai berikut :
Di tengah kehidupan modern, masyarakat Jepang masih teguh merayakan festival tradisional yang berkaitan dengan kehidupan pertanian dan alam yang memberikan sukses usaha pertanian  Kehidupan masyarakat Jepang di masa lalu adalah masyarakat petani. Karena itu, setiap festival rakyat yang diselenggarakan disana selalu ada hubungannya dengan pertanian. Baik itu musim tanam, atau pada musim panen. Namun tanah-tanah lapang yang bertebaran di sana-sini dengan puncak-puncak gunung yang tinggi serta lembah sempit, merupakan masalah besar bagi para petani Jepang. 

Di Jepang, tak lebih dari 17 persen tanah yang dapat dipakai untuk kegiatan pertanian. Karena itu diperlukan para petani yang trampil dalam pengolahan tanah sebagai lahan pertanian. Sehingga tak heran bahwa di zaman industri yang sangat pesat sekarang, tanah-tanah kosong di antara pabrik-pabrik kokoh-kekar terdapat areal persawahan, meski hanya satu petak, tetapi hasil panennya tinggi. Hasil panen itu selain dikonsumsi juga digunakan  untuk upacara-upacara festival sebagai penghormatan pada nenek-moyang mereka.

Para petani Jepang masih menganggap bahwa menanm padi adalah pekerjaan suci, dan untuk peningkatan produksinya, selain terampil dalam teknologi, mereka juga percaya bahwa “kami” (dewa)  akan memberi hasil panen yang melimpah pada mereka.Pada bulan Januari, ketika musim dingin akan berganti dengan musim semi, para petani membuat kagami-mochi, kue  yang terbuat dari tepung ketan yang ditaruh di atas “sambo”, (baki) di rumah mereka, sebagai kepercayaan bahwa mereka yang memakannya akan mendapat rezeki. Begitu pula terhadap hasil panen mereka nanti. Dan bila seseorang petani mengalami kegagalan, karena padinya belum bernas setelah beberapa bulan, maka mereka melakukan penelitian terhadap pohon-pohon cemara, bambu, dan kastanye dengan sepotong kertas bersih yang disebut nusa.  Dalam musim semi, saat sawah sudah dialiri air, serumpun bambu yang dilengkapi dengan peralatan suci dan kuil diletakkan di tengah-tengah waduk irigasi.

Pada sebuah teluk kecil, dimana air mengalir pada sebuah gundukan tanah, sebagai simbol dewa ladang ta-no-kami, yang memberkati usaha pertanian mereka. Upacara tersebut diselenggarakan untuk mengetahui keberhasilan pamen pada masa panen berikutnya. Dan pekerjaan memindahkan semaian padi pun  dilakukan sambil menyanyikan lagu tradisional untuk menghilangkan kepenatan. Selain musim panas, pada saat tanaman memerlukan banyak air, festival musim panas natsu marsuri juga diadakan sebagai penghormatan kepada dewa air. 

Pada bulan September, dewa angin dihormati dan diharapkan tidak terjadi apa-apa selama musim badai. Sawah-sawah pun mulai ramai dengan orang-orangan yang sengaja dipasang untuk menakuti burung pemakan padi. Bersamaan dengan itu pula, dipasang bunyi-bunyian dan benda-benda tersebut diarak dalam suatu upacara yang disebut kakashi-age.  Dengan festival ujigami matsuri yang diadakan setelah panen, maka sebagai pertanda upacara syukur atas kemakmuran yang telah diberikan, dewa sawah, ta-na-kami dikembalikan lagi kegunung-gunung dan diubah menjadi yama-no-kami, yaitu dewa gunung untuk masa tanam sampai panen berikutnya.  Ketika mengembalikan dan mengambil kembali, selalu dihubungkan dengan pesta kigansai (doa untuk keberhasilan panen) dan niiname-sai (panen pada musim gugur) yang disediakan setiap tahun di Imperial Palace di Tokyo. 

Di tengah dunia yang sudah sangat modern dan perubahan masyarakat yang begitu cepat, upacara-upacara ritual dan pesta-pesta adat semacam ini masih tetap  dirayakan secara meriah. Meski pesertanya mungkin bukan para petani itu sendiri. Bahkan ada pula acara khusus untuk anak-anak agar mereka tahu bahwa keberhasilan panen selain pengetahuan teknologi yang makin maju, juga faktor alam yang banyak membantu. 

Aki-Matsuri (Festival Musim Gugur), Festival yang diselenggarakan oleh masyarakat Nagiso, provinsi Nagano ini merupakan upacara terima kasih pada para Dewa yang telah memberikan panen melimpah. Anak-anak membawa mikoshi membentuk keranjang dari jerami. Onda-Matsuri (Perayaan Panen Padi), Pemimpin pendeta di kuil Ichinoiya, propinsi Kumamoto menaburkan butir-butir padi pada sebuah mikoshi untuk memperoleh hasil panen yang baik. Doburuku-Matsuri (Festival Anggur Beras), Mikoshi yang diarak keliling desa Shirakawa, provinsi Gifu ini berisi arak beras buatan sendiri (sake) untuk dibawa ke kuil, persembahan bagi Dewa yang telah memberikan hasil panen melimpah. Acara dilanjutkan dengan pesta minum anggur dari beras tersebut. Mega-No-Kenka-Matsui (Festival Perang Mega),Para lelaki muda menarik dan mendorong dashi dinaiki dua orang muda yang menabuh sebuah tambur.  Melalui festival ini masyarakat mengucapkan syukur atas panen tahunan yang berhasil. (Suara Alam Jakarta, No.48/Mei l987 : 43-47).

Catatan Penulis :

Festival-festifal tradisional yang diadakan sehubungan dengan pertanian tersebut, merupakan motivasi yang besar terhadap sektor pertanian di Jepang sebagai suatu kebanggaan tersendiri. Sedang di Indonesia, nyaris tidak terdapat lagi fistifal-festifal tradisional pertanian. Hanya masih terdapat di Kota Jogyakarta dan Solo, berupa pesta “Gunungan” yang berisi berbagai hasil pertanian yang diarak disekitar Kraton dan pada akhir arakan, segala macam buah-buahan  di Gunungan) tersebut menjadi rebutan masyarakat dan yang tinggal hanya kerangka gunungannya saja, sebagai symbol pembawa berkah bagi yang memperolehnya, saat diselenggarakan Pesta “SEKATEN” sekali setahun itu,  masih dilestarikan.


Sedang di Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur,  setiap panen pertama, biasanya ada bagian yang di berikan kepada Gereja sebagai tanda syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan keberhasilan tersebut. Setelah itu baru hasil-hasil panen tersebut baru boleh dimakan. Ini disebut Persembahan “Hasil Hulu”  kepada Tuhan. Biasanya setelah Kebaktian Gereja, “Hasil-hasil Hulu” itu dilelang  kepada para Jemaat yang hadir di Gereja. Hasil-Hasil Hulu umumnya adalah semua jenis Hasil Pertanian seperti padi, jagung dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ORANMG PINTAR UNTUK TAMBAH PENGETAHUAN PASTI BACA BLOG 'ROTE PINTAR'. TERNYATA 15 NEGARA ASING JUGA SENANG MEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' TERIMA KASIG KEPADA SEMUA PEMBACA BLOG 'ROTE PINTAR' DIMANA SAJA, KAPAN SAJA DAN OLEG SIAPA SAJA. NAMUN SAYA MOHON MAAF KARENA DALAM BEBERAPA HALAMAN DARI TIAP JUDUL TERDAPAT SAMBUNGAN KATA YANG KURANG SEMPURNA PADA SISI PALING KANAN DARI SETIAP HALAM TIDAK BERSAMBUNG BAIK SUKU KATANYA, OLEH KARENA ADA TERDAPAT EROR DI KOMPUTER SAAT MEMASUKKAN DATANYA KE BLOG SEHINGGA SEDIKIT TERGANGGU, DAN SAYA SENDIRI BELUM BISA MENGATASI EROR TERSEBUT, SEHINGGA PARA PEMBACA HARAP MAKLUM, NAMUN DIHARAPKAN BISA DAPAT MEMAHAMI PENGERTIANNYA SECARA UTUH. SEKALI LAGI MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BUAT SEMUA PEMBACA BLOG ROTE PINTAR, KIRANYA DATA-DATA BARU TERUS MENAMBAH ISI BLOG ROTE PINTAR SELANJUTNYA. DARI SAYA : Drs.Simon Arnold Julian Jacob-- Alamat : Jln.Jambon I/414J- Rt.10 - Rw.03 - KRICAK - JATIMULYO - JOGJAKARTA--INDONESIA-- HP.082135680644 - Email : saj_jacob1940@yahoo.co.id.com BLOG ROTE PINTAR : sajjacob.blogspot.com TERIMA KASIH BUAT SEMUA.